Beranda News Internasional ISIS Akhirnya Benar-Benar Memancung Jurnalis AS

ISIS Akhirnya Benar-Benar Memancung Jurnalis AS

260
BERBAGI
Eksekusi James Foley (dok Reuters)

WASHINGTON, Teraslampung.com — Kelompok radikal ISIS mengklaim telah mengeksekusi James Foley, jurnalis AS yang selama ini mereka tahan, Selasa (19/8).

Video pemancungan Foley diunggah dalam sebuah video berjudul “A Message to America” dan ditunjukkan kepada Presiden AS, Barack Obama. Diduga, pemancungan itu sebagai balas dendam ISIS atas penyerangan udara yang dilakukan AS, beberapa waktu lalu.

Dalam video itu juga tampak gambar  seorang jurnalis AS lainnya yang akan segera dipancung ISIS. Pesan tersebut diduga merupakan reaksi keras ISIS terhadap serangan udara tentara AS ke wilayah yang diduduki ISIS di Irak, beberapa waktu lalu.

Global Post, tempat Foley (40) bekerja sebagai freelancer, seperti dilansir dari South China Morning Post, menyatakan Foley diculik oleh sekelompok pria bersenjata pada 22 November 2012 silam di utara Suriah ketika dalam perjalanan ke perbatasan Turki.

Foley dilaporkan telah berada di Timur Tengah selama lima tahun dan telah diculik dan dibebaskan di Libya. Sementara Steven Sotloff,  yang muncul di akhir video itu, dinyatakan hilang di utara Suriah ketika tengah melaporkan pada Juli tahun lalu. Selama ini Sotloff menulis untuk harian Time.

“Kami telah melihat vidoe yang isinya pembunuhan warga AS James Foley oleh ISIS. Komunitas intelijen tengah bekerja secepat mungkin untuk mengetahui keaslian video itu” kata juru bicara Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih Caitling Hayden dalam pernyataannya.

Menurut Hayden, jika video itu asli, maka tindakan ISIS sangat brutal. “Para jurnalis itu tidak bersalah.Kami menyampaikan rasa duka yang mendalam kepada keluarganya dan kerabatnya,” kata Hayden.

Menanggapi pembunuhan Foley, Presiden AS Barack Obama mengatakan tidak menutup kemungkinan operasi militer di Suriah untuk menangkap mereka yang bertanggung jawab atas kematian Foley.

Pengungkapan misi penyelamatan itu menandai pertama kalinya AS mengakui keberadaan personel militer AS di Suriah, tiga tahun sejak perang sipil meledak di negara itu. Sebelumnya, Obama berkali-kali menolak seruan mengirim tentaranya ke Suriah.

Departemen Pertahanan Amerika atau Pentagon mengatakan pernah berusaha tetapi gagal menyelamatkan sandera AS yang ditahan militan Negara Islam atau ISIS di Suriah, termasuk James Foley, wartawan yang dipenggal.

Juru bicara Pentagon John Kirby mengatakan misi itu tidak berhasil karena para sandera tidak berada di lokasi di mana mereka diyakini disekap.

Kirby tidak memberikan rincian lain, termasuk kapan dan di mana upaya penyelamatan tersebut dilakukan. Namun,  seorang pejabat tinggi Amerika mengatakan Presiden Barack Obama memberi otorisasi misi itu awal musim panas ini. Menurutnya, operasi itu rumit dan bahwa pasukan AS terlibat baku tembak dengan militan ISIS. Satu orang Amerika luka ringan dalam operasi itu.

Presiden Obama mengatakan sebelumnya Rabu (20/8) bahwa rekaman video pemenggalan James Foley oleh militan ISIS membuat dunia muak.

Menurutnya, Amerika Serikat akan terus melakukan segalanya untuk melindungi warga Amerika.

ISIS mengaku menahan satu lagi wartawan Amerika, Steven Sotloff. Mereka mengatakan hidupnya tergantung pada bagaimana Obama bereaksi terhadap pembunuhan Foley.

Sementara itu menurut pejabat lain operasi penyelamatan itu dilakukan sehari sebelum militan merilis sebuah video yang menunjukkan pemenggalan Foley dan mengancam akan membunuh sandera kedua, Steven Sotloff jika AS melanjutkan serangan udara kepada posisi mereka di Irak.

Caitlin Hayden, juru bicara Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih mengatakan pemerintah semula tak berniat mengungkapkan operasi tersebut. Mereka terpaksa mengakui operasi itu karena sejumlah media saat ini tengah mempersiapkan laporan tentang misi itu.

Foley adalah satu dari sedikitnya empat warga AS yang diculik di Irak. Seperti Foley, dua sandera lain lainnya diperkirakan telah diculik ISIS. Sementara, sandera keempat jurnalis lepas Austin Tice diduga ditahan pasukan pemerintah. (mirror.co.uk)