Beranda News Nasional ISIS Klaim Bertanggung Jawab atas Teror Bom di Tiga Gereja di Surabaya

ISIS Klaim Bertanggung Jawab atas Teror Bom di Tiga Gereja di Surabaya

445
BERBAGI
Teror bom di Surabaya,Minggu pagi (dok)

TERASLAMPUNG — Negara Islam Irak dan Suriah (Islamic State in Iraq and Syria) atau ISIS menyatakan bertanggung jawab atas serangkaian ledakan bom di tiga gereja di Surabaya, Minggu pagi,  13 Mei 2018 yang menewaskan 13 orang dan melukai puluhan orang.

Klaim ISIS itu dimuat di situs propagandanya, Amaq News Agency, seperti dikutip dari ABC News.

Sebelumnya, klaim juga dilakukan ISIS saat terjadi aksi teror para napi terorisme di Mako Brimob yang menewaskan lima polisi. Sama seperti pada kasus pembunuhan polisi di Mako Brimob, dalam klaimnya kali ini ISIS juga tidak menunjukkan bukti-bukti keterlibatan mereka.

Sebelumnya, Kabidhumas Polda Jawa Timur Kombes Pol Frans Barung Mangera mengatakan terjadi ledakan di tiga lokasi gereja pada waktu yang hampir bersamaan di Surabaya.

Teror bom di tiga gereja berjarak 5 menit. Ledakan pertama terjadi di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela di Jalan Ngagel, Surabaya pada pukul .30 WIB.

Bom kedua diledakkan di Gereja Kristen Indonesia di Jalan Pangeran Diponegoro pada pukul 7.15 WIB. Bom ketiga diledakkan di Gereja Pantekosta di jalan Arjuno pada pukul 7.53 WIB.

Kepolisian RI mengidentifikasi pelaku bom di Surabaya adalah satu keluarga.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan keluarga ini melakukan serangan di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya.

Tito mengatakan pelaku menggunakan mobil dalam melakukan aksinya.

“Yang gunakan Avanza diduga keras itu adalah orang tuanya atau bapaknya,” kata dia di Surabaya pada Ahad, 13 Mei 2018. Pelaku itu diketahui bernama Dita Upriyanto.

Menurut Tito, pelaku meledakkan diri menggunakan mobil di Gereja Pantekosta di Jalan Arjuno.

Sebelumnya, Dita menurunkan anggota keluarganya yang terdiri dari istri dan dua anaknya di GKI Diponegoro. Sang istri diketahui bernama Puji Kuswati, sedangkan dua anaknya berinisial FS (12) dan VR (9).

Ledakan di Gereja Santa Maria Tak Bercela juga terkait dengan keluarga ini. Di gereja di Ngagel itu diduga dilakukan oleh dua anak laki-laki Dita, yaitu Yusuf Fadil (18) dan FH (16). Mereka menggunakan bom yang diletakkan di pinggang.

“Semuanya serangan bom bunuh diri, cuma bomnya berbeda,” kata Tito.

Menurut Tito, seluruh pelaku bom Surabaya merupakan jaringan Jemaah Ansarut Daulah atau JAD.

Sementara itu, polisi menemukan salah satu bukti foto keluarga pelaku saat mereka belum melakukan aktivitas sebagai teroris. Foto itu menunjukkan Dita terlihat bertubuh kekar berdampingan dengan istrinya. Dua anak lelaki Dita masih terlihat sangat remaja (kira-kira berusia 10-14 tahun),sedangkan dua anak perempuan Dita masih berusia sekitar 7 dan 4-5 tahun.