Beranda Kolom Kopi Pagi Isis

Isis

62
BERBAGI

Asarpin*

Ini bukan kisah tentang radikalisme agama yang sedang marak diperbincangkan. Ini kisah Dewi Isis yang mencintai alam melebihi segalanya. Syahdan, ketika misteri alam semesta belum banyak dikuak oleh penemuan para ilmuwan dan arsitek, hidup seorang dewi yang bertetek banyak dan bercadar. Ia begitu dekat dengan alam, bahkan menyatu dengan alam. Pohon hijau dan hutan perawan adalah teman sepanjang hidupnya. Ikan-ikan di sungai jernih dan  kera-kera dari bermacam jenis dan warna adalah karibnya. Daun-daun dan semak-semak adalah tempat tinggalnya.

Pada suatu hari  segerombolan dewa perambah mengobrak-abrik apa yang selama ini dekat dengannya. Hutan dan pohon digunduli. Keindahan alam dirusak. Mereka mencari Dewi Isis, hendak menelanjanginya, membuka cadarnya. Sejak itu tak ada lagi hutan perawan, pohon hijau yang membentang, kera-kera dan semak-semak. Alam telah diubah jadi padang tandus dan Isis lenyap dari kehidupan. Tapi laku hidupnya jadi teladan.

Tak terhitung banyaknya penyair yang mengambil inspirasi darinya, menulis puisi yang tak hanya mendekatkan kata kepada alam, melainkan menyatukan diri dan bercumbu mesra seperti kekasih yang sedang jatuh cinta. Kaum romantik, di mana mereka begitu bermesraan dengan kosmos, terus bergumul dengan kemurnian alam, menyatu hingga menjadi bagian tak terpisahkan dari alam.

Dalam tafsiran Goenawan Mohamad tentang Isis, ketika sang dewi dipaksa untuk membuka cadarnya dan hendak ditelanjangi, pada saat itu berlaku hukum ilmu pengetahuan yang mencoba menyiksa cahaya dengan membelah-belah satuan warna semesta, dan alam nan permai kehilangan sifat misteriusnya. Seraya mengutip Goethe, ia menyebut alam “sesuatu yang misterius bahkan di terang siang”. Seperti yang dikehendai Isis, “alam tak membiarkan cadarnya  ditanggalkan. Dan apa yang tak diinginkan alam untuk terbentang di pikiranmu, tak dapat kau paksakan…”

Goenawan memang sejak lama kritis terhadap ilmu pengetahuan, terutama dalam bentuknya yang keras: saintisme.  Tapi ia juga sering luput, bahwa seorang penyair romantik semacam Rabindarath Tagore pun masih melihat peluang sains sebagai teman karib bagi puisi lirik. Sains pun—terutama “sains kehidupan”—punya kearifan-kearifan tersendiri yang tak selamanya menjadi musuh alam.

Yang terakhir ini membentuk satu kumpulan ilmuwan yang melakukan gerakan anti-nuklir yang melandaskan kritiknya pada efek jangka panjang (waktu) limbah radioaktif,  mengkampanyekan keselamatan lingkungan (ruang). Gerakan ini mau melindungi ekosistem sekaligus menjembatani generasi yang akan lahir ratusan tahun dari sekarang yang terbebani dengan warisan limbah manusia masa kini.

“Sains masa kini semakin dekat ke puisi”, tulis Karlina Supelli dalam pengantar salah satu buku kumpulan puisi Joko Pinurbo. Dan masih banyak lagi ilmuwan semacam Karlina yang mencoba menjadikan puisi dan ilmu sebagai teman dialog yang sederajat, seperi Leak Wilardjo. Dan agak ironis kalau para penyair masih tetap memasang mata curiga pada ilmu pengetahuan, dan bukannya mempersempit jarak keduanya.


*Esais