Beranda Views Inspirasi Iwan Darmawan, Mantan Preman yang Menjadi Penyelamat Hutan

Iwan Darmawan, Mantan Preman yang Menjadi Penyelamat Hutan

725
BERBAGI
Iwan Darmawan, penyelamat Hutan di Sendang Agung
Iwan Darmawan, penyelamat Hutan di Sendang Agung, Lampung Tengah

Oyos Saroso H.N.| Teraslampung.com

Lampung Tengah–Tidak menamatkan pendidikan Sekolah Dasar dan punya masa lalu yang kelam tidak harus membuat seseorang menjadi terpuruk dan tidak berguna bagi orang lain. Hal itu telah dibuktikan oleh Iwan Darmawan, 39, warga  Desa Sendang Asih, Kecamatan Sendang Agung, Kabupaten Lampung Tengah yang kini menjadi relawan pendamping masyarakat.

Meskipun tidak tamat SD dan pernah lama menjadi preman di kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Iwan Darmawan kini benar-benar menjadi sosok yang menginspirasi warga  Sendang Agung. Ia menjadi pendorong tempat bertanya banyak warga desa di Sendang Asih, Kecamatan Sendang Agung, Lampung Tengah. Itu karena peran Iwan yang tidak kecil  untuk menjaga hutan lindung Register 22 Way Waya dari ancaman degradasi lahan.  Iwan tidak hanya telah berhasil melakukan peningkatan kapasitas dirinya, tetapi juga berhasil mengajak semua warga di desanya untuk peduli terhadap kelestarian lingkungan hidup.

Kerja keras yang dilakukan Iwan sejak akhir tahun 1990-an itu kini sudah membuahkan hasil: hutan Register Way Waya tampak hijau lestari, Telaga Sendang Asih di Desa Sendang Asih yang dulu airnya sering menyusut saat musim kemarau kini berlimpah air.

Para petani di desa-desa sekitar telaga itu pun kini bisa mengairi sawahnya meskipun sedang musim kemarau. Maklum, dengan lestarinya huta Register 22 Way Waya maka otomatis cadangan air pun berlimpah. Dam penampungan air seluas 60 x 120 meter itu sumber airnya berasal dari hutan Register 22 Way Waya seluas sektitar 6.000 ha yang mengitari Desa Sendang Asih.

Kerja Bersama Masyarakat Desa

Iwan tidak sendirian bekerja. Ia juga didukung oleh banyak warga desa lainnya. Namun soal ide, ketekunan, dan kepedulian menyelamatkan hutan, Iwan termasuk orang pertama yang merintis di kawasan Sendang Agung dan Sendang Asih. Iwan mau menjadi relawan karena dia menyadari  arti pentingnya kelestarian hutan bagi kehidupan masyarakat desa kini dan masa-masa mendatang.

Untuk menggalang dukungan warga desa agar mau bersama-sama menyelamatkan hutan, Iwan menyambangi satu per satu rumah warga. Terkadang, ia juga  menyosialisasikan arti pentingnya hutan bagi kehidupan masyarakat desa saat kumpul-kumpul santai di tepi sawah, Juga saat berpapasan dengan warga lain di jalan desa.

Iwan dan ketiga anaknya.

Setelah beberapa tahun bekerja keras bersama warga desa, hasilnya pun nyata: bukan hanya air yang lancar mengairi sawah-sawah petani, tetapi juga terjaganya kelestarian hutan lindung Register 22 Way Waya.

“Kepada warga desa saya selalu mengatakan bahwa hutan di sekitar desa merupakan sumber kehidupan yang sangat berharga bagi warga desa untuk saat ini dan masa mendatang. Sebab itulah hutan harus dijaga,” kata Iwan Darmawan.

Kerja keras Iwan membuat beberapa NGO lingkungan di Lampung dan Heifer International, beberapa tahun lalu memberikan kepercayaan kepada ayah empat anak ini untuk menjadi fasilitator masyarakat di desanya. Iwan juga dipercaya Dinas Kehutanan Kabupaten Lampung Tengah untuk menjadi sukarelawan penyelamat hutan.Tugas Iwan antara lain memberikan penyuluhan dan memperbanyak kelompok dukungan untuk menyelamatkan hutan.

Berkat keuletan Iwan, kini di Desa Sendang Asih sudah terbentuk beberapa Kelompok Tani Pelindung Kawasan Hutan (KTPKH). Sambil menyelamatkan hutan para anggota kelompok juga belajar memanfaatkan hasil hutan tanpa melakukan perusakan. Mereka melakukannya dengan ikut program Hutan Kemasyarakatan (HKm).

Di kawasan HKm itu warga menanam pohon nonkayu (pohon yang tidak boleh ditebang dan diambil kayunya) sambil berkebun. Pohon nonkayu yang ditanam di kawasan HKm Register Way Waya antara lain pohon durian, pinang, petai, dan aren. Sementara tanaman kebunnya antara lain pohon pisang dan sayuran.

Dari hasil pohon nonkayu itu warga belajar membuat usaha home industry dengan memanfaatkan hasil hutan. Misalnya, keripik pisang,  madu, gula aren, dan melinjo.

“Bersama KPTKH, saya juga mengajari warga membuat emping melinjo dan keripik pisang. Kini kami sedang membuat perpustakaan sederhana agar anak-anak remaja di desa kami gemar membaca,” kata Iwan.

Kerja keras Iwan menjadi perhatian Pemda Provinsi Lampung, yang kemudian memberikan pengharagaan kepaa Iwan sebagai tokoh desa penyelamat lingkungan hidup. Pada tahun 2008 Iwan juga mendapatkan penghargaan dari Menteri Kehutanan sebagai penyelamat lingkungan.

Berkat kerja keras Iwan, warga desa juga bisa diorganisir untuk kembali menumbuhkan semangat kegotongroyongan warga desa. Antara lain dengan mengorganisir kelompok “Arisan Rumah”. Iwan menjadi koordinator (ketua) “Arisan Rumah” di desanya. Sebelum kelompok ini dibentuk, warga desa dikumpulkan untuk mencari solusi memperbaiki rumah warga yang masih berdinding papan atau geribik bambu dan berlantai tanah.

“Kini sudah ada belasan warga desa yang bisa membangun rumah permanen yang memenuhi syarat kesehatan berkat arisan rumah. Rumah milik Iwan termasuk rumah hasil arisan tersebu,” kata Iwan.