Beranda Pendidikan Iptek Jadikan Teknologi Digital sebagai Sahabat Budidaya Perikanan

Jadikan Teknologi Digital sebagai Sahabat Budidaya Perikanan

226
BERBAGI

TERASLAMPUNG.COM —Masih adanya mispersepsi terhadap eksistensi teknologi yang dianggap sebagai substitusi produk atau layanan, butuh pembetulan. Fenomena lahirnya GoJEK sebagai platform aplikasi transportasi publik digital terbesar di Asia, dan jadi pionir penyelesai masalah hilirisasi kebutuhan transportasi publik, dengan sendirinya mematahkan pendapat tersebut.

Kini teknologi lebih dipandang sebagai bentuk evolusi produk atau layanan. Seperti ponsel, terus meningkat model, jenis, ulititas, hingga kapasitas teknologinya yang berkemampuan jadi digital assistant penggunanya.

Itu pula yang muaranya melatari kelahiran platform aplikasi digital akuakultur asal Bandung, Jawa Barat, i-Fishery.

Dalam perjalanannya, para pelaku usaha rintisan (start-up) budidaya perikanan baik perikanan darat, perikanan pantai/laut, maupun pertambakan udang ini menjadi sangat dekat dengan keseharian hidup pembudidaya ikan, para nelayan, dan petambak udang. “Nyemplung”, atau sekadar berlama-lama di bibir kolam memonitor tumbuh kembang ikan, jadi bagian hidup mereka.

Demikian petikan testimoni CEO i-Fishery Gibran Huzaifah, milenial sukses yang didapuk jadi salah satu pembicara Seminar Digital Solution in Farming Industry, yang digelar Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan (KPw) Lampung, di Ballroom Hotel Swiss-bel, Bandarlampung, Jum’at (3/8/2018).

Gibran, sapaan karibnya, tidak sendiri. Hadir bersamanya, bos start-up pertanian agrobisnis digital, CEO i-Grow Andreas Senjaya. Juga ada Kepala Divisi Teknologi Finansial (Kadiv Tekfin) Departemen Kebijakan Dan Pengawasan Sistem Pembayaran (DKSP) BI Susiati Dewi, Ketua Umum Yayasan Desapolitan Indonesia (Desindo) Zaidirina, dan bos start-up WarungTetangga.id, CEO Darmajaya Corporation Davit Kurniawan.

Dalam presentasinya berjudul Smart Feeder System dalam rangka Peningkatan Efisiensi Budidaya Perikanan itu, Gibran mengatakan, sebagai pelaku lapangan, pihaknya melakukan apa yang seharusnya start-up lakukan, membasiskan diri pada validitas data yang dirangkum dalam basis data seluruh unsur hulu-hilir budidaya.

Tumbuhnya kepercayaan dari para mitra pembudidaya, jadi modal investasi sosial mereka dalam mengkapitalisasi sumber daya dan pengembangan platform

“Pengalaman berbudidaya ikan di Lampung, kita tahu mayoritas biaya 90 persen tersedot di pakan. Sementara untuk udang berkisar 50 persen komponen biayanya habis di pakan. Detailnya kami pelajari betul, sampai kami tahu, bisa memetakan, hari apa, jam berapa, dimana saja, kolam ikan yang sedang banjir pakan, atau yang sedang dilanda kelangkaan,” papar dia.

“i-Fishery bahkan telah bisa jadi asisten para pembudidaya, kami kasih tahu bahwa kolam Bapak terpapar polutan, atau terlalu banyak nutrisi larut serta pakan rusak, misalnya,” tegasnya pula.

“Tantangannya sungguh berat, Bapak Ibu. Hingga kini, masih saja kami temui anak muda yang bilang, kalau menekuni pertanian, menggeluti budidaya perikanan itu sama sekali nggak keren,” ucap Gibran tergelak, disambut tawa peserta seminar.

Secara platform, kata dia, i-Fishery bukan hanya sekadar ambil posisi meringankan, namun lebih pada tugas memvalidasi daftar kebutuhan tahapan pembudidayaan ikan dan udang mitra.

“Dengan teknologi, i-Fishery ikut membantu pembudidaya ngasih makan ikan, dengan terapan teknologi sensor gerak, vibrasi, yang hasilnya bisa jelas dirasakan. Kami bisa mengakselerasi proses pemanenan dibawah waktu normal, dengan biaya yang lebih efisien, jumlah panen yang lebih banyak,” terangnya.

“Poinnya terkoordinasi. Teknologi kami dilengkapi basis algoritma spesifik yang terukur pada kolam yang berbeda dan yang pasti, mengenyangkan,” tandasnya, lagi-lagi tergelak.

“Kebetulan kami telah hadir di Lampung. Seperti di Metro, mitra kami disana ada yang mulanya hanya mengikutkan 10 kolam, kini telah berkembang hingga 176 kolam,” akunya.

Pria berbadan tinggi kurus ini menambahkan, ribuan titik kolam ikan milik para mitra pembudidaya, kini telah ter-cover i-Fishery. Mulai dari Lampung, Sumatera Selatan, hingga Nusa Tenggara Barat (NTB).

Dirinya menceritakan, konsep learning by doing dengan sendirinya menyatu dengan keseharian para penggiat start-up unik ini. “Kami nggak canggung lagi dengan segala jenis ikan, mulai lele, nila, patin, udang vanname, dan lainnya,” ungkap Gibran.

Dengan nada berkelakar, dia mengklaim barangkali hanya i-Fishery lah satu-satunya start-up di dunia yang bisa mengidentifikasi ikan sakit.

“Platform kami dilengkapi selain teknologi satelit, juga basis data prakiraan cuaca, analisa perilaku ikan, hingga prediksi akurat hasil panen per kolam. Juga, secara otomatis kami terbentuk karakternya sebagai konsultan perikanan. Contoh, hari ini, siapa market leader pakan ikan di Lampung kami tahu, dimana saja jejaring pasarnya kami pun tahu. Semacam itulah,” bebernya.

Menyinggung akses perbankan dan inklusi keuangan pembudidaya termasuk skema pembiayaan syariah, Gibran mengakui perikanan budidaya termasuk sektor dengan risiko perbankan tinggi. Karenanya, pihaknya selain didukung sindikasi modal jejaring perbankan dan asuransi, juga mengandalkan diri pada analisis credit-scoding serta validasi berbasis manajemen informasi per algoritma.

“Tiada yang tanpa risiko. Dengan kemampuan teknologi kami yang mampu memprediksi kapan panen, berapa ton hasilnya, kami relatif yakin, sejauh ini minimal kami sukses hasil,” tandas dia.

“Kami bangga bisa berguna bagi banyak orang. Membantu peternak ikan, pembudidaya udang, memutus rantai pasok, memutus tengkulak. Dengan berbasis data, monitoring ketat, dan sensor lapangan,” ungkapnya kembali.

“Pada akhirnya, teknologi apalagi teknogi digital jadi bagian solusi produk atau layanan publik. Kami telah buktikan itu. Dari teknologi satu ke evolusi teknologi lainnya, disitulah banyak muncul value yang pertambahannya bisa ditemukan, bisa semakin berguna bagi kita,” tutup Gibran, disahuti aplaus peserta.

Diketahui, seminar kaya success story yang dipandu moderator Hanung Ismono, pakar agrobisnis Faperta Unila itu, bagian rangkaian even syar’i terbesar Sumatera tahun ini, Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Regional Sumatera 2018 yang dipusatkan pula di Lampung Walk, Bandarlampung, dan akan berakhir Minggu (5/8/2018), besok.

A. Muzamil/Rl

Loading...