Beranda Teras Berita Jalur Tembok Berlin Sebagai Tugu Peringatan

Jalur Tembok Berlin Sebagai Tugu Peringatan

230
BERBAGI
Oleh
Paul Sigel*
Monumen Tembok Berlin (dok Alliance/DPA)
Tembok
Berlin sebagai tempat peringatan menampakkan berbagai tingkatan makna. Di satu
sisi setiap tugu peringatan yang berdiri sendiri yang tak terhitung jumlahnya
mengingatkan orang pada korban pemisahan Jerman; di sisi lain jalur garis batas
di sana merupakan tugu peringatan yang unik dari sejarah Jerman.
Kalau
melihat makna yang dimiliki Tembok Berlin dulu, baik dalam konteks fungsinya
sebagai tembok pemisah maupun sebagai pertanda nyata atas konfrontasi dua
sistem masyarakat antagonis, maka 15 tahun setelah tembok pemisah itu dibongkar
sulit untuk memahami fakta betapa sedikitnya jejak pemisahan itu yang masih
bisa dialami secara langsung pada saat ini, kalau tak mau dikatakan hampir tak
berbekas.
Terlepas
dari perbedaan kondisi sosial dan mental antara Timur dan Barat, tampaknya
pembangunan tembok yang dulu sempat menjadi luka antara Timur dan Barat itu
kini telah sembuh sama sekali. Jarang sekali terlihat kenangan yang tampak akan
tembok pemisah tersebut.
Menghapus
jejak-jejak tembok
Begitu
tembok dibuka pada November 1989, langsung dimulai pembongkaran tembok yang
sebagian dirayakan sebagai kejadian politik dengan melibatkan masyarakat.
Seiring dengan reunifikasi Jerman ada pernyataan kehendak politik – di samping
penyatuan politik dan ekonomi – untuk menyatukan kembali secepat mungkin kota
Berlin yang terbelah. Ini khususnya harus dilakukan pada tempat-tempat penting
dan utama seperti Pariser Platz (Lapangan Paris) di Brandenburger Tor, wilayah
dekat sungai Spree tak jauh dari Gedung Parlemen atau Lapangan Potsdam.
Reruntuhan Tembok Berlin 1961-1989 (dok Deutscher Bundestag)
Dengan
dibangunnya kembali jalur tembok ini secara padat diharapkan orang tidak hanya
akan mengingat makna tempat-tempat ini sebelum perang, tapi juga dalam rangka
mengekspresikan bahwa pemisahan Berlin telah bisa diatasi. Awalnya hanya sedikit
politisi dan kaum cendikiawan yang memikirkan bahwa jalur tembok Berlin itu
pantas untuk dijadikan monumen peringatan.
Hanya
beberapa tahun setelah penghancuran tembok garis batasnya sudah menghilang dari
pemandangan kota Berlin, kecuali sedikit sisa. Hanya tiga bagian besar di
wilayah dalam kota yang tak hilang, yakni fragmen-fragmen tembok sepanjang
Jalan Bernau, bagian di daerah yang disebut „East Side Gallery“ serta di bagian
„Topographie des Terrors“ sepanjang Jalan Käthe-Niederkirchner.
Tembok-Tempat
peringatan 
Sebelum
1989 saja sudah ada sejumlah besar tempat peringatan di sebelah barat yang
mengindikasikan nasib korban dari tembok Berlin. Sederetan palang peringatan
dekat gedung parlemen misalnya menunjukkan hingga hari ini nasib warga bekas Jerman
Timur yang dalam pelarian mereka dari Timur ke Barat telah meninggalkan hidup
mereka. Sebelum 1989 dekat peralihan batas Checkpoint Charlie yang ditentukan
sekutu juga didirikan sebuah museum-tembok yang dikelola secara pribadi.
Setelah penyatuan Jerman didirikan sebuah Pusat Dokumentasi Tembok Berlin di
daerah Jalan Bernau.
Selain
pameran sejarah, Pusat Dokumentasi ini juga memungkinkan orang menikmati
pemandangan dari sebuah menara ke arah jalur Tembok Berlin. Di seberang pusat
dokumentasi ini sejak 1998 terdapat Tempat Peringatan Tembok Berlin yang
dirancang oleh arsitek dari Stuttgart, Kohlhoff dan Kohlhoff. Di sana mereka
merekonstruksi potongan pendek dari garis batas, termasuk tembok bagian barat,
tembok bagian pedalaman dan jalur kematian yang berada di antaranya.
Kedua
tempat peringatan ini dibuat atas dorongan pihak pemerintah. Tak jauh dari
tempat peringatan diresmikan pada tahun 2000 kapel perdamaianyang dirancang
oleh arsitek dari Berlin Reitermann/Sassenroth. Kapel yang pembangunannya diprakarsai
para jemaat gereja itu berdiri di atas tanah gereja perdamaian yang bersejarah
yang di tahun 80-an dibongkar karena perluasan perbatasan. Dalam bangunan kecil
berbentuk oval yang terbuat dari tanah liat dan lempeng kayu itu orang
diingatkan pada bangunan gereja yang dihancurkan dan juga pada jalaur
perbatasan. Pada 1998 didirikan sebuah instalasi berdasarkan rancangan Frank
Thiel dekat Checkpoint Charlie yang menunjukkan foto seorang tentara Soviet
atau tentara AS di sisi depan dan belakang sebuah papan besar dan dengan
demikian mengingatkan orang pada konfrontasi kedua negara adidaya tersebut
dalam Perang Dingin.
Tanda
di sepanjang jalur tembok
Akan
tetapi, semua intervensi artistik ini hanya sebatas di ruang kota, sementara
bagian yang lebih besar dari alur bekas tembok itu saat ini hampir tak bisa
lagi ditentukan. Awal tahun 90-an muncul gagasan untuk menjadikan jalur
perbatasan sebagai wilayah hijau, tapi gagasan ini tak bisa direalisasikan
seluruhnya, hanya di segelintir tempat saja. Salah satu yang menjadi wilayah
hijau itu misalnya adalah „Taman Tembok“ antara wilayah Prenzlauer Berg dan
Wedding.
Tembok Berlin – dok berliner-mauer-gedenkstaette.de
Wilayah
hijau termasyur lainnya muncul di jalur perbatasan antara Kreuzberg dan Mitte
di mana sebuah taman bersejarah dibangun kembali di tanah lapang bekas „kanal
kota Luisen (luisenstädtisches Kanal)“. Pada 2003 dilontarkan pemikiran – yang
merupakan aksi yang sangat provokatif bagi banyak pengamat – untuk melaporkan
jalur tembok Berlin dan sisa-sisa tembok yang bertahan ke dalam daftar warisan
dunia UNESCO.
Upaya
yang sampai saat ini paling konsekuen untuk menjaga ingatan pada jalur
sepanjang tembok adalah membuat berbagai markah yang dipasang di atas berbagai
jalan di Berlin. Sebuah pita tembaga atau rangkaian ganda batu plester mengajak
para pejalan kaki yang teliti untuk melihat bekas perbatasan dan kedua media
ini mencoba dengan cara yang subtil, yakni sebagai tanda kenangan, guna
merangsang orang memikirkan kembali lokasi peringatan yang saat ini hampir tak
terlihat lagi.
Kini,
perdebatan tentang bagaimana caranya menyikapi jalur tembok Berlin dan
mengenang korban pemisahan Jerman kembali menjadi aktual berkat pembangunan
tugu peringatan. Alexandra Hildebrandt, kepala museum „Haus am Checkpoint
Charlie“yang dikelola secara pribadi ini, telah meminta dibangun kembali
potongan tembok dekat bekas jalur perbatasan – walaupun tidak di lokasi
otentiknya. Dengan pembangunan ini ia melengkapi instalasi dengan menyusun
palang-palang peringatan untuk para korban pemisahan Jerman. Aksi Hildebrandt
diizinkan oleh senat Berlin sebagai instalasi seni yang sifatnya sementara
hingga akhir tahun 2004.
Bagaimanapun
juga, aksi ini mengundang komentar-komentar kontroversial. Banyak kritikus
mencela ketidakotentikan serta karakter yang sangat memancing emosi dari aksi
tersebut. Di pihak lain melalui instalasi yang kini telah dibongkar kembali itu
jadi jelas bahwa tidak ada cukup konsepsi pembangunan tugu peringatan yang
meyakinkan berkaitan dengan peristiwa pemisahan Jerman.
Senat
Kota Berlin yang membidangi budaya menjadikan kenyataan ini sebagai alasan
untuk mengembangkan suatu rencana dasar yang diharapkan bisa menghubungkan
berbagai jejak sejarah dan tugu peringatan yang sudah ada sekarang yang
berkaitan dengan Tembok Berlin dan mengintegrasikannya dalam sebuah konsep situs
tugu peringatan yang sifatnya luas.
*Sejarawan
seni dan arsitektur


Sumber: goetheinstitute

Loading...