Beranda Pendidikan Kabar Buku Jamaah ‘NU Miring’ Luncurkan Buku “Jimat NU”

Jamaah ‘NU Miring’ Luncurkan Buku “Jimat NU”

581
BERBAGI
Yudi Latif (tengah) dalam diskusi peluncuran buku Jimat NU di PDS HB Jassin, Jumat (7/3).

Jakarta, teraslampung.com—Kaum intelektual muda NU yang menyebut sebagai Jamaah NU Miring meluncurkan buku berjudul Jimat NU di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jasin di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Jumat sore (7/3/2014).

Buku tersebut ditulis oleh 15 intelektual muda NU dari berbagai daerah, yakni: Binhad Nurrohmat, Ade Faizal Alami, Nurman Hakim, M Faizi, Malkan Junaidi, Anggi Ahmad Haryono, Saprillah, M Faishal Aminuddin, Riadi Ngasiran, Sahlul Fuad, Abdullah Wong, Hodri Ariev, Mashuri, Soffa Ihsan, dan Matdon.

Hadir empat orang pembicara dalam acara tersebut, Dr. Yudi Latif, Phd (cendekiawan, pengamat sosial), Lukman Hakim Saifudin (Wakil Ketua MPR), Ahmad Tohari (Budayawan), dan Abdul Muiz (praktisi Jimat).

Acara dimulai dengan bacaan basmalah, kemudian dilanjutkan dengan “Pembacaan Mantera” oleh Abdullah Wong dengan diiringi seruling, dan dua gitar. “Bacalah” begitu kira-kira mantera yang dikutip dari surat “al-‘alaq”. Selanjutnya dua buah buku diserahkan secara simbolik ke PDS HB Jasin dan Perpustakaan NU.

Dalam sesi duskusi, Yudi Latif sangat mengapresiasi terbitnya buku tersebut. Menurut Yudi Latif, pemikiran dalam buku tersebut sangat orisinal. “Jimat dijelaskan bukan hanya sebagai fenomena sosial, tetapi juga filsafat,” tuturnya.

Ia pun menjabarkan bagaimana dalam kekeringan dunia modern yang menjunjunjung tinggi rasionalitas, tetapi masih banyak yang mengunjungi pengobatan alternatif. “Zikir-zikir juga sekarang yang banyak dikunjungi yang bisa menyembuhkan,” ujarnya.

Lukman Hakim Saifudin juga mengacungi jempol pada buku Jimat NU. Meskipun ditulis secara rombongan dengan tulisan gado-gado. Wakil Ketua MPR itu mengaku buku tersebut sangat menarik meskipun beberapa tulisannya tergolong berat di baca.

“Ini buku yang sangat berat saya baca,” katanya.

Meski begitu, menurut dia, karena berjudul NU, yang belum ditulis adalah mengenai Khitah NU sebagai jimat, panduan berbangsa dan bernegara bagi jamaah NU sehingga penting.

Sementara Ahmad Tohari menjelaskan, yang menarik dari NU bukan jimat sebagai benda bertuah, tetapi bagaimana tradisi menulis masih berlanjut dalam intelektual muda NU.

Di tengah acara diskusi, sebelum memasuki sesi tanya jawab, Kyai Matdon, Ro’is ‘Am Majelis Sastra Bandung yang juga salah seorang penulis Jimat NU, membacakan syair berjudul “Ustadz Televisi”.

Usai acara, Abdul Muiz mempraktikkan bagaimana di dalam tubuh setiap orang tersimpan energi. Kabel sepanjang dua meter dicolokkan ke arus listrik. Sementara tembaga di ujung kabelnya yang beraliran positif san negatif dililitkan ke dua sendok makan.

Satu sendok beraliran listrik diinjang Abdul Muiz, satu lagi diinjak seorang pengunjung. Lalu masing-masing pengunjung bergandengan tangan. Arus listrik yang besar itu terasa, namun tidak besar, “ini karena di dalam tubuh kita punya energi, asalkan kita jangan lawan arus listrik. Rasakan biasa saja,” tutur Abdul Muiz.

Setelah itu satu persatu diterapi menggunakan setrum. Yudi Latif ikut serta menganteri bersama pengunjung lain. “Ini bukan ilmu hikmah (ilmu perdukunan kyai), ini murni ilmiah,” kata Abdul Muiz.

Kyai Matdon, penyair Bandung, menuturkan, “Buku ini membahas mengenai sosial budaya di NU, yang berada di lingkungan masyarakat. Meski judulnya Jimat NU, bukan berarti di dalamnya ada sesuatu hal yang dimusyrikkan. Isi dalam buku ini adalah sesuatu yang bermanfaat,” ujarnya.

Loading...