Beranda Seni Puisi Jamal D. Rahman: Puisi Indonesia Merayakan Kebebasan dari Pantun

Jamal D. Rahman: Puisi Indonesia Merayakan Kebebasan dari Pantun

197
BERBAGI

Isbedy Stiawan  ZS/Teraslampung.com 

SINGAPURA—Penyair Indonesia, Jamal D. Rahman, mengatakan puisi Indonesia mutakhir adalah merayakan kebebasan dari pantun. Jamal mengatakan itu dalam sesi diskusi “Kewibawaan Puisi Melayu Nusantara Mengungkap Citarasa Manusia” dalam Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) VII di Singapura, Minggu (31/8) pagi.

Merayakan kebebasan, menurut pemimpin redaksi Horison ini, puisi-puisi Indonesia modern telah membebaskan dari gaya pantun, seperti rima a b a b atau a a b b, dan mesti adanya sampiran atau lampiran. Sementara pantun, kata Jamal, dalah karya rakyat yang bisa dilakukan atau digunakan secara spontan.

Sebelumnya, Jamal menegaskan, pantun sebagai karya seni milik rakyat tersebar di seluruh masyarakat Indonesia. “Hanya yang membedakan adalah bahasa,” katanya.

Menurut Jamal, pantun sebenarnya sudah sangat akrab dan menjadi bagian dari hidup masyarakat Nusantara.

“Puisi-puisi yang ditulis penyair Indonesia modern, telah membebaskan diri dari pantun yang merakyat,” imbuh Jamal.

Sementara Zakaria Amataya dari Thailand menegaskan, puisi bagi masyarakat Thai adalah ungkapan ekspresi dan rasa. Karena itu, kata Zakaria puisi amatlah universal meski ditulis dalam ragam bahasa: Thai, Melayu, maupun Arab.

Meski bertolak dari akar (asal) yang sama, yakni pantun, puisi-puisi yang ditulis penyair Indonesia muasir amatlah berbeda dengan karya-karya penyair dari tanah Nusantara yang lain (Malaysia, Singapura, Brunei, Thailand, Red).

Loading...