Beranda News Kesehatan Jangan Abaikan Stres

Jangan Abaikan Stres

268
BERBAGI
dr. Handrawan Nadesul
Bohong kalau dalam hidup tanpa ada stres. Besar kecil, tua muda, lelaki perempuan, semua tak terbebas dari stressor. Stressor bagian dari perjalanan hidup yang tak terelakkan. Namun tidak semua yang dirundung stressor tentu akan jatuh stres. Hanya apabila ketahanan jiwanya kokoh, orang tidak harus jatuh stres. Stres perlu kita kenali agar kita bisa mewaspadainya.
DUA stressor dengan bobot yang sama pada dua orang berbeda, belum tentu sama dampaknya. Stressor yang enteng saja bagi seseorang bisa dirasakan berat, tapi tidak bagi yang lain. Maka yang merasakan stressornya sebagai sesuatu yang berat saja yang akan jatuh stres.

Malstress
Kita mengenal empat stressor dalam hidup. Tekanan, frustrasi, konflik, dan krisis. Bisa hanya satu dari keempatnya yang mendera suatu saat, bisa pula sekaligus keempatnya. Bisa berat, bisa juga ringan saja. Bisa berlangsung sejenak, bisa untuk waktu lama.
Stressor sebetulnya yang akan mematangkan jiwa kita, menyadari bahwa hidup tidaklah sederhana. Makin digembleng jiwa sejak usia kanak-kanak, makin tangguh ketahanan jiwa seseorang. Hanya bila sejak kecil anak sudah terbiasa merasakan kecewa, sedih, galau, dan gundah, maka jiwanya akan tahan banting. Mengabulkan setiap permintaan anak, tidak membuat jiwanya tangguh.
Dalam hidup stressor bisa datang berulang, dan berkali-kali. Stressor yang sama yang berlangsung untuk waktu lama itu yang tergolong jahat, karena membawa seseorang untuk jatuh stres (malstress).
Jatuh stres terjadi kalau orang gagal beradaptasi dengan kondisi menghadapi stressornya. Kegagalan beradaptasi inilah yang mengganggu kondisi fisiknya. Penderitaan jiwa dihibahkan ke badan. Maka gejalanya, antara lain keluhan fisik sebagai cermin penderitaan jiwanya. Kita menyebutnya gangguan psychosomatic.
Semua pemeriksaan fisik normal

Orang stres itu banyak keluhan dan gangguannya. Sudah sering dan berpindah-pindah berganti dokter karena tak kunjung puas ihwal keluhannya. Semua dokter bilang tidak sakit apa-apa, tapi orang stres merasakan ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Sering mual, sakit kepala, kesemutan, berkeringat dingin, dan jantungnya sering berdebar. Mereka benci kalau dokternya bilang mereka tidak sakit, karena mereka sungguh merasakan itu semua.
Pemeriksaan pada orang yang sudah jatuh stres, tidak menunjukkan ada kelainan apa pun. Laboratoriumnya normal semua. Begitu juga jantung, lambung, atau scan otaknya. Walau sudah dinyatakan tidak ada penyakit apa pun, orang stres masih tak yakin karena keluhan itu betul dirasakannya. Sering seperti orang sakit mag, sedang duduk tiba-tiba jantung berdebar, telapak tangan berkeringat, dan badan terasa tak nyaman.
Obat orang stres itu menenangkan diri. Diri sendiri harus berupaya membuat jiwa lebih tenang. Pil penenang baru diberikan kalau orang sudah tak mampu mengatasinya sendiri. Tapi pasien tidak boleh bergantung obat penenang terus-menerus. Obat berangsur dikurangi sebelum dihentikan sama sekali, sambil mencoba hidup berdampingan dengan damai dengan stressornya. 
Menenangkan jiwa
Kegiatan spiritual seperti meditasi, yoga, transcendental meditation, bermanfaat menenangkan jiwa. Hanya apabila jiwa menjadi tenang semua keluhan yang dirasakan akan reda, lalu hilang. Tak perlu obat mag, obat sakit kepala, obat jantung berdebar, atau obat buat telapak tangan berkeringat. Hanya dengan membuat jiwa jadi tenang saja, semua keluhan itu lenyap dengan sendirinya.***
Loading...