Beranda Views Kopi Pagi Jangan Didik Anak Jadi Orang Kaya

Jangan Didik Anak Jadi Orang Kaya

307
BERBAGI

Handrawan Nadesul*

Seperti halnya kesehatan, ada di tangan kita sendiri. Begitu pula halnya kebahagiaan. Tujuan hidup supaya kita menjadi manusia, dimanusiakan, memuliakan hidup, menjadi “manusia yang selesai” dan karenanya kita lalu menjadi berbahagia.

Jangan salahkan keadaan, atau bertumpuk banyak uang pun yang kita punya, atau seberapa berlimpah ruah pun milik kita, kalau nyatanya itu tidak membuat kita bahagia.

Kita bisa membeli ranjang emas, tapi tak bisa membeli tidur. Bisa membeli obat paling mahal namun tak bisa membeli kesehatan. Maka jangan didik anak jadi orang kaya, melainkan didik mereka menjadi orang bahagia.

Orang kaya menilai segala sesuatu sebagai harga. Orang bahagia menilai segala sesuatu sebagai nilai. Orang kaya tak selesai merasa puas, lupa tak ada batas tertinggi untuk kepuasan.Orang bahagia mensyukuri apa yang sudah diterimanya, menyadari kepuasan hidup tak ada batasnya.

Itu sebab bangsa paling berbahagia di dunia bukan negara kaya adikuasa, melainkan negara yang bukan mengejar agar bertambah kaya, atau mengejar menjadi paling nomor satu, melainkan yang lekas mensyukuri.

American dream yang menyebabkan bangsa Amerika sukar berbahagia. Namun Denmark atau Bhutan negara tidak terlalu kaya tapi bangsanya paling berbahagia. Bukan kemajuan teknologi, bukan pula peningkatan ekonomi, tidak pula kemajuan pendapatan negara (PDB) yang menambah rasa bahagia bangsanya, melainkan mensyukuri yang sudah diterima, dan ekspektasinya tidak muluk-muluk dalam hidup. Tentu kebutuhan dasar (basic need) perlu terpenuhi. Maka Bhutan tidak mengejar product domestic bruto (PDB), melainkan product happiness bruto, untuk mengatakan yang dikejar negara bukan devisa, melainkan kebahagiaan.

Saya terus belajar menemukan itu dalam setiap jam hidup saya. Tidak perlu mengetuk pintu untuk membuka ruang kebahagiaan kita. Kita sudah berada di dalam ruang itu. Tergantung apakah kita merasakannya. Tergantung apa sikap kita terhadap hidup dan kehidupan. Sudahkah kita menjadi “manusia yang selesai”, yang mampu memuliakan hidup yang berarti manusia berintegritas tinggi.

Ini sebuah foto kenangan ketika saya (kedua dari kanan) berada pada suasana nyaman, bersama sebuah keluarga yang tinggal di hadapan sebuah danau, Danau Buyan, Bali utara. Keluarga Pak Gusti, keluarga sederhana, hidup apa adanya, namun persahabatan saya dengan mereka membuat saya semakin belajar bahwa kebahagiaan memang ada di tangan kita sendiri.

Kebahagiaan kita pribadi sesungguhnya ada di sini: dii tangan kita sendiri kini, dan untuk selamanya kalau kita merasa sudah berada di ruang kebahagiaan kita sendiri.

Barang tentu kebahagiaan akan terpetik apabila kebutuhan dasar minimal untuk makan, pakaian, sekolah, dan kesehatan sebagaimana yang diterima bangsa Denmark, sudah negara penuhi.

* Handrawan Nadesul adalah seorang dokter, penulis buku kesehatan, dan penyair