Beranda Ruwa Jurai Tulangbawang Jembatan Desa Sidang Gunung Tua Ambrol, Warga Rawajitu Makin Susah

Jembatan Desa Sidang Gunung Tua Ambrol, Warga Rawajitu Makin Susah

115
BERBAGI
Kondisi jembatan yang ambrol di Desa Sidang Gung Tiga, Rawajitu, Kabupaten Tulangbawang.

TERASLAMPUNG.COM — Jembatan di Desa Sidang Gunung Tiga, Kecamatan Rawajitu, Kabupaten Tulangbawang yang ambrol beberapa waktu lalu kini sudah ambrol total. Akibatnya, masyarakat di ujung timur Kabupaten tulangbawang menjadi terisolasi.

Ambrolnya jembatan tersebut membuat masyarakat di tiga kecamatan di Tulangbawang, yakni Rawajitu Timur, Rawajitu Selatan,dan Gedung Aji tidak lagi bisa menggunakan akses jalan nasional tersebut.

Warga yang biasa menggunakan jalan dan jembatan tersebut harus melewati jalan alternatif, yakni melewati perkebunan sawit milik sebuah perusahaan.

“Untuk masuk dan keluar wilayah Rawajitu saat ini terpaksa harus melewati kebun sawit milik sebuah perusahaan. Ini tentu saja sangat merepotkan. Mengangkut pupuk, padi, udang, dan lainnya mau nggak mau harus lewat kebun sawit. Repotnya lagi, itu adalah milik perusahaan dan bukan jalan umum. Karena milik perusahaan, jalan tersebut diberi portal.Kalau mau lewat kami harus membayar,” ujar Ismet, warga Rawajitu, Jumat, 9 Februari 2018.

Menurut Ismet, jembatan yang ambrol itu sebenarnya sudah lama terjadi, tetapi belum ada tanda-tanda mau diperbaiki.

“Jembatan ambrol yang ada di Desa Sidang Gunung Tiga tersebut sebenarnya sudah dua bulan lebih ambrol. Sebagian dan masih bisa dilewat. Karena tidak ditangani dan terus dilalui kendaraan, akhirnya semua jembatan benar-benar ambrol,”kata Ismet.

Jalan poros rawajitu adalah jalan yang berstatus nasional yang mambentang dari Simpang Penawar hingga ke Rawajitu Timur, Kabupaten Tulangbawang, Provinsi Lampung.

Pemukiman di sekitar tersebut sebagian besar merupakan wilayah penduduk transmigran. Mereka pada umumnya berkebun dengan berbagai komoditas unggulan.

Sejak dibuka pada tahun 1980-an, jalan tersebut memang belumpernah ada perbaikan yang berarti.

Kiriman: Ari Suharso