Mayang Prasetyo Dimakamkan di Kaki Gunung Batu

  • Bagikan
Zainal Asikin/Teraslampung.com
Nining Sukarni, ibunda Mayang Prasetyo, membawa foto anaknya saat berada di makam, Sabtu (1/11). Foto: Teraslampung.com/Zainal Asikin
BANDAR
LAMPUNG–
Jenazah Febri Andriansyah alais Mayang Prasetyo telah dimakamkan di
tempat pemakaman Giriloyo, yang terletak di kaki Gunung Batu, Kelurahan
Sukamenanti Baru, Kecamatan Kedaton, Bandarlampung, Sabtu (1/11) sekitar pukul
11.00 WIB.
Selain
dihadiri oleh wakil Kementerian Perlindungan Kewarga Negaraan Indonesia, Ajie
Surya,  pemakaman juga dihadiri wakol Lembaga
Bantuan Hukum (LBH) Bandarlampung, kerabat, dan teman-teman Mayang.
Pemakaman
jenazah Mayang Prasetyo sempat mengundang banyak
Warga.
Mereka berdatangan untuk menyaksikan pemakaman seorang transgender  asal Lampung yang tewas dibunuh dan di
multilasi oleh pasangannya Marcus Peter Volke di sebuah apartemen di Bribane, Australia.
Sekitar 10 orang petugas dari Polsekta Kedaton turut mengamankan lokasi.
Proses
pemakaman yang telah di gali pada dua minggu lalu sempat mengalami kendala,
karena liang lahat telah dipenuhi air akibat sejak beberapa hari terakhir hujan
sering mengguyur Kota Bandarlampung. Juru kunci makam, Parman (54),  dibantu oleh tujuh warga Kelurahan Sukamenanti
Baru, Kecamatan Kedaton, terpakasa harus bekerja keras menguras liang lahat yang
sudah dipenuhi air untuk dikeringkan.
“Syukurlah,
pemakaman berlangsung lancar dan tidak mengalami hambatan. Kami hanya membantu
dan tidak ada pengenaan biaya atau imbalan apa pun,”kata Parman kepada Teraslampung.com, Sabtu
(1/11).
Sebelum
dimakamkan, jenazah Mayang alias Febri Andriansyah disholatkan di rumah Sopian,
paman Mayang. Mayat Mayang yang berada di dalam peti  kayu itu tidak dibuka.
“Jadi
jasadnya tidak bisa terlihat, soalnya sudah di dalam,” kata Parman.
Sementara
ketua LGBT Lampung, Rendie Arga, mengatakan, biasanya proses pemulangan hingga
pemakaman selama dua bulan. Tetapi, untuk dalam pemulangangan hingga pemakaman
Mayang hanya memakan waktu satu bulan setengah. Ini berkat bantuan semua pihak
terutama pemberitaan dari kawan-kawan media sehingga bisa seperti ini.
Para guru SMA Bunda Mulya Bandarlampung, tempat dulu Febri Andriansyah alias Mayang Prasetyo belajar, berdoa bersama di depan makam Mayang usai proses pemakaman, Sabtu siang (1/11).
“Untuk
Ecek (nama pangilan akrab Mayang Prasetyo di kalangan LGBT—Red.) , kami
mendoakan
semoga diterima amal ibadahanya masuk surga,” kata pria yang pernah lama
aktif  di dunia seni dan sering menjadi
pembawa acara itu.
“Dalam
peristiwa ini, kita mendapat pelajaran. Bagaimana pun dan Di mana pun kita
berada namun akhirnya kita akan berpulang lagi ke keluarga, kami  sampaikan ke seluruh anggota LGBT, agar bisa
intropeksi dan menjadikan ini sebagai pelajaran yang berharga,”ungkap
Rendie Arga.
Alian
Setiadi dari LBH  mennuturkan, pihaknya masih
belum jelas terkait pembiayaan proses pemulangan dan pemakaman Mayang Prasetyo
sepenuhnya dari pemerintah Australia.
LBH
beranggapan bahwa dana yang dikeluarkan kisaran Rp50 jutaan itu
dari
pemerintah Australia adalah hal yang memalukan.
“Yang
menjadi pertanyaan, kenapa pemerintah Republik Indonesia tidak sanggup untuk
membiayainya. Hal itulah yang masih menjadi pertanyaan kita di LBH. Pemerintah
mengatakan biaya sepenuhnya ditanggung, namun hingga hari masih dana keluar
masih dari kantong keluarga korban,”kata Alian Setiadi, Sabtu (1/11).
Perwakilan
Kementerian Luar Negeri dan Perlindungan WNI, Ajie Surya, mengatakan pihaknya
sangat menyesalkan atas tragedi seorang WNI yang tewas dan di bunuh dan
multilasi di negara Australia.
“Untuk
saat ini, yang terpenting adalah penyelesaian proses pemulangan dan pemakaman
jenazahnya hingga selesai,” kata Ajie Surya.
Nining
Sukarni ibunda Mayang Prasetyo, meski berduka pihak keluarga bersyukur karena
jenazah anak sulungnya akhirnya bisa pulang dan di makamkan di tempat
kelahirannya dan sesuai dengan semestinya.

“Untuk
itu saya berterimakasih kepada semua pihak yang sudah terlibat dalam pengurusan
pemulangan jenazah anak saya,”kata Nining Sukarni.

Baca Juga: WNI Asal Lampung Ini Dibunuh, Dimutilasi, dan Dimasak oleh Pacarnya Sendiri di Australia

  • Bagikan