Beranda Views Sepak Pojok Jengkol Anggota Dewan

Jengkol Anggota Dewan

390
BERBAGI

Oyos Saroso H.N.

Belasan tahun lalu, di sebuah kabupaten di Lampung ada unjuk rasa para kepala pekon (desa) untuk memprotes kebijakan kepala daerah. Para kepala pekon (kepala desa) itu ramai-ramai mencopot jengkol yang biasa tergentung di kemeja bagian dada.

Pada saat itu jengkol oleh para kepala pekon dianganggapnya tiada guna, meskipun untuk mendapatkan jengkol itu bukanlah hal mudah. Untuk bisa menggantungkan pin berbentuk bulat seperti jengkol — sehingga disebut jengkol — para kepala pekon harus memenangi pemilihan kepala pekon.

Peristiwa itu terjadi belasan tahun lalu. Sejak itu saya tidak lagi mendengar heboh jengkol. Kehebohan agak besar paling banter terjadi saat harga buah jengkol tiba-tiba melambung tinggi hingga para ibu, pemilik warteg, dan pemilik rumah makan padang mengeluh. Mat Drai’i yang hobi makan jengkol juga ngomel-ngomel karena warung Mbak Caca Marica Hehe tidak lagi menyajikan menu jengkol.

Saya tiba-tiba kembali mendengar kabar jengkol yang menghebohkan ketika ada anggota DPRD Kota Bandarlampung marah-marah kepada wartawan saat sidak di proyek jembatan layang (fly-over) di Jl. Teuku Umar – Jl. Z.A. Pagar Alam , tepatnya di depan Mal Boemi Kedaton (MBK).

Saya tidak ada dalam peristiwa itu. Tapi saya membaca berita di sejumlah media lokal dan cekikan para wartawan di grup media sosial. Menurut berita yang dilansir sejumlah media lokal, anggota Dewan yang bernama Yuhadi itu marah lantaran sebelumnya ada beberapa media yang mengutip komentarnya menyoal besi banci (besi baja non-SNI) yang dipakai dalam proyek jalan layang itu.

Kata “jengkol” tiba-tiba mencelat dari mulut Yuhadi saat ia marah. Tak jelas benar marahnya seperti apa. Namun, media menulis bahwa Yuhadi sempat melontarkan kata-kata bahwa dia tidak takut berkelahi karena dia juga preman. Ia mengaku bahwa jengkol yang dimilikinya (biasanya nemplok di jas safari anggota Dewan atau kepala daerah di Lampung) itu mahal. Katanya ia habis semiliar rupiah untuk bisa memiliki jengkol itu.

Entah apa hubungannya antara perihal kemarahannya dengan si jengkol supermahal itu. Yang pasti, saya harus berterima kasih kepada Yuhadi karena telah memperkenalkan makna lain dari jengkol. Perihal ini, kalau saya tidak lupa dan punya energi, akan mengulasnya dalam tulisan bertema bahasa Indonesia. Eh, siapa tahu jengkol dari Lampung bisa jadi lema tersendiri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Kembali ke soal jengkol, sebenarnya para wartawan tidak perlu tersinggung atau marah balik kepada Yuhadi. Saya sarankan para wartawan itu memaklumi saja dan langsung memaafkan. Soalnya jelas: kawan-kawan wartawan nggak bakalan bisa punya jengkol seharga Rp 1 miliar dan Yuhadi bisa. Itu fakta. Riil. Yang faktual alias riil tidak perlu dibantah.

Namun, sekian ratus ribu detik setelah kata ‘jengkol’ mencelat dari mulut Yuhadi , sebenarnya saya begitu kasihan dengan Yuhadi. Apalagi, Yuhadi kemudian jadi bulan-bulanan dan olok-olokan di media soal.

Yuhadi politikus muda, berbakat, trengginas, dan pandai banyak hal. Dengan mengungkap jengkol di ruang publik ia sebenarnya justru sedang membasuh mukanya sendiri dengan air kotor. Orang yang tidak tahu bahwa untuk menjadi anggota Dewan perlu uang yang sangat besar — dan diduga sebagiannya untuk ‘membeli suara’ — akhirnya menjadi tahu.

Meski bagai seterempasan air hujan, saya sebenarnya mengenal Yuhadi juga jauh sebelum ia menjadi wakil rayat. Saya yakin ia juga kenal saya. Seandainya ia minta pendapat saya saat akan marah, pasti saya akan menyarankan ia tidak perlu marah-marah. Apalagi sembari menyebut soal jengkol. Saran ini bukan karena para wartawan itu pastilah teman satu profesi dengan saya. tetapi karena saya sayang sama Yuhadi. Begitulah saya yang sok baik hati ini, selalu merasa sayang kepada yang muda yang berprestasi. Yang nggak berprestasi saja saya sayangi, apalagi mereka yang punya prestasi moncer.

Kalau suatu saat saya bertemu Yuhadi, ingin rasanya saya mentraktir Yuhadi  makan dengan lauk semur jengkol yang legit dan kenyal seperti daging. Ia bisa pesan 10 porsi. Harganya tidak sampai semiliar….

BACA JUGA: Arti Merdeka Menurut Karto Jengkol

 

Loading...