Beranda Teras Berita Jihad ke Irak

Jihad ke Irak

313
BERBAGI

Oleh Ari Pahala Hutabarat
Kemarin maghrib Syekh Mukhlisin marah sekaligus galau berat. Di hadapannya duduk Sutopo, Moh Stamper, dan Subandi yang pamitan mau hijrah ke Irak– gabung ke Isis untuk jihad katanya. Mereka menggunakan kafiyeh ala Yaser Arafat, berkaos merah bergambar Ernesto Guevara, dan menenteng samurai kecil produksi Cisaat, Sukabumi. Mereka sowan ke Syekh Mukhlisin untuk menghormatinya sebagai senior, minta doa-doa perlindungan–dan kalau ada–tambahan ongkos dan sangu.

Malam dan dingin terasa memberat. Mata dan muka Sutopo, Moh Stamper, dan Subandi sama dingin dan beratnya. Setelah menarik nafas panjang dalam 15 kali hitungan, Syekh Mukhlisin berujar:

“Saya tak melarang kepergian kalian, sekaligus juga tak merestui. Karena saya tak merestui, maka otomatis tak mungkin saya memberi tambahan ongkos dan sangu u kalian. Saya hanya akan memberi sangu doa. Itu pun bukan doa2 perlindungan, tapi doa supaya dada kalian lapang serta otak dan hati kalian bening u mengkaji persoalan niat jihad kalian yg sudah mengarah ke keblinger ini.”

Tubuh Sutopo, Moh Stamper, dan Subandi diselimuti kabut merah yang tipis. Mata mereka setajam silet.

“Kalau kalian goblok total dan kalian belajar sungguh-sungguh biar pintar–itu jihad namanya. kalau kalian miskin atau dimiskinkan dan kalian berusaha sungguh-sungguh mencari rejeki yang halal biar kehidupan ekonomimu membaik–itu jihad namanya. kalau kehidupan rumah tanggamu atau keluargamu berantakan dan kalian sungguh-sungguh berikhtiar untuk mencari solusi biar kembali tentram dan akur–itu jihad namanya. Kalau di tempatmu pejabat-pejabatnya, penguasa-penguasanya  pada korup dan lalim lalu kalian bersungguh-sungguh dan istiqomah mengkritik, mengawasi, dan menawarkan solusi-solusi yang konstruktif–itu jihad namanya.

Kalau kamu nganggur sehingga mukamu merengut terus setiap hari dan kamu berusaha sungguh-sungguh cari pekerjaan halal–itu jihad namanya. kalau di negerimu banyak korupsinya dan kamu sungguh2 mencegahnya, membatasi ruang geraknya, membuat kapok pelakunya–itu juga jihad namanya.

— Sebab ‘jihad’ itu artinya kamu berupaya mati-matian, bersungguh-sungguh, bekerja total dan habis-habisan menggunakan segenap potensi kemanusiaanmu–fisikmu, hatimu, dan kepalamu–untuk memperjuangkan sesuatu, untuk mencapai sesuatu! Paham?”

“Tapi kami ingin perang Syekh. Itulah pengertian jihad yang sebenarnya menurut kami,” kata Moh Stamper.

“Yang pertama–kata siapa jihad itu hanya berarti perang!–itu pun kalian sempitkan artinya hanya menjadi perang dalam pengertian tembak-tembakan, adu otot, dan bacok-membacok!! berarti setiap bandit dan preman yang gawenya duel itu jihad dong!,” Mulut Syekh Mukhlisin mulai mengeluarkan api.

“Emangnya kalu kamu miskin dan goblok dan kamu berupaya sungguh-sungguh biar kagak miskin dan goblok lagi itu bukannya perang! emangnya kalau rumah tangga dan keluargamu berantakan dan kamu habis-habisan memperbaikinya itu bukannya perang! emangnya kalu kamu bikin sekolah yg reot dan bikin perpustakaan kecil2an di tengah kacaunya dan cueknya pemerintah mengelola pendidikan itu bukannya perang! emangnya kalu kamu mengadvokasi rakyat yang ditindas dan dizalimi pemerintahnya sendiri itu bukannya perang! emangnya kalau kamu menyebarkan kesadaran untuk tidak korupsi itu bukannya perang! dan banyak lagi bentuk perang yg laennya! emangnya perang itu cuma harus terjadi dalam ranah politik, secara fisik? emangnya kamu gak bisa apa melakukan perang ekonomi, sosiologis, kultural, –dan yang paling dasar–pemikiran, pendidikan!! jangan sok tahu kamu, Moh Stamper!!”

Kabut merah yang menyelubungi badan Sutopo, Moh Stamper, dan Subandi mulai menipis. Mereka mendadak menggigil.

“Segala sesuatu, wahai Bro-ku sekalian, dikalkulasi dalam skala prioritas, orientasi ruang dan waktu. Pertimbangan, pilihan, dan tindakanmu untuk berperang di bidang apa, di mana, dan kapan waktunya bergantung pada ketiga hal tsb. Jadi niatan kalian untuk ke Irak sekarang ini dan maen tembak-tembakan itu lahir dari kurang akuratnya kalian membaca kondisi dan prioritas dirimu sendiri, kurang akuratnya kalian membaca dan menempatkan problem di masyarakatmu sendiri sekarang ini.

“memang jihad yg tertinggi adalah perang menegakkan agama allah–tapi ini kompleks dan harus jernih sekali kalkulasinya. Seminimal-minimalnya jihad yg bisa kau lakukan adalah penolakan hatimu, penolakan pikiranmu terhadap segala bentuk kemungkaran. Setiap kalian merasa tidak puas terhadap apa-apa yg lemah dan kurang lalu kalian berusaha sungguh-sungguh memperbaikinya–maka itu lah jihad.

“Karena itu, lihatlah apa yang lemah dan kurang dalam dirimu, keluargamu, masyarakatmu, dan negaramu–lalu perbaikilah! Kalau kalian sadari hal ini–maka sesunguhnya kita melakukan jihad setiap saat; sesuai kebutuhan, prioritas, perhitungan ruang dan waktu kita masing-masing! sekarang kalian pulang, gak usah sok-sok-an mau ke Irak segala. Ntar gua kelitikin satu-satu, baru tahu rasa kalian!!” bentak Syekh Mukhlisin.

Sutopo, Moh Stamper, dan Subandi menunduk dan menarik napas dalam-dalam.

“Berarti Syekh sendiri saat ini sedang berjihad juga dong…kalau boleh tahu, Jihad apa yang sedang Anda lakukan saat ini, duhai Syekh?” kata Subandi pelan-pelan.

“Cari bini.”

Subandi, Sutopo, dan Moh Stamper mendadak tak bernapas lagi.

Loading...