Beranda Views Kopi Pagi Joker adalah Pahlawan

Joker adalah Pahlawan

639
BERBAGI

Nusa Putra

Joker itu super jahat, psikopat, memuakkan dan menjijikkan, serta tak punya hati nurani. Joker sungguh penjahat tulen. Ia bahagia jika orang lain menderita. Joker pantas dibenci dan dibasmi. Ia curang, licik, dan licin. Semua orang baik dan normal, tidak suka bahkan benci pada Joker.

Namun, apakah film dan petualangan Batman akan menarik tanpa kehadiran Joker? Apakah Batman bisa jadi pahlawan jika Joker tidak muncul? Apakah keberadaan Batman ada gunanya jika Joker tak ada?

Keberanian, kecerdasan, kekuatan dan kejagoan Batman hanya bermakna dan berguna jika Joker ada dan menunjukkan kejahatannya. Inilah fakta film Batman dan fakta hidup manusia.

Batman dan orang-orang di sekitarnya terus melakukan pencarian dan penciptaan berbagai teknologi dan strategi untuk merespon dan mengantisipasi kejahatan Joker yang juga terus berkembang dan semakin canggih. Sebagai penjahat yang licik sekaligus pintar, Joker selalu mampu membuat kejutan tak terduga untuk membuat kejahatannya secara tepat dan akurat mengenai sasarannya.

Dalam setiap tindakan jahatnya, Joker bukan saja semakin jahat dan kejam, juga semakin canggih dan tak terduga. Inilah yang memicu Batman dan para pendukungnya terus melakukan inovasi untuk bisa mengatasinya. Seringkali Batman mendapat kesulitan dan kalah pada mulanya. Kemudian dengan susah payan akhirnya bisa mengalahkan Joker, tentu saja dengan pengorbanan luar biasa. Biasanya telah terjadi kerusakan dan penghancuran di mana-mana, dengan korban jiwa yang tak terbilang. Joker adalah kejahatn yang bukan saja banyak akal, dan sadis, juga sangat genius dan canggih.

Pertarungan abadi antara Batman dan Joker hakikinya merupakan simbol manusia melawan kejahatan. Barangkali inilah pesan terkuat mengapa dalam penciptaan manusia ada serangkaian kejadian yang sangat multi tafsir tentang keberadaan manusia dan kejahatan yang hadir bersamanya.

Dalam Al Qur’an diuraikan tentang penciptaan manusia sebagai berikut,
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan di muka bumi itu seorang khalifah.” Mereka berkata: “Apakah Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku lebih mengetahui apa yang tidak kalian ketahui.” (QS al-Baqarah [2]: 30)

Boleh jadi malaikat hanya melihat sisi negatif manusia, dan membandingkan dengan dirinya yang senantiasa bertasbih dengan memuji dan mensucikan Allah. Inilah kesalahan malaikat.  Malaikat tidak tahu bahwa manusia juga memiliki sisi positif, tidak melulu negatif. Namun, malaikat rasanya tidak sepenuhnya salah.

Faktanya manusia memang membuat kerusakan dan menumpahkan darah. Ini bermakna sejak mula dalam diri manusia telah melekat potensi kejahatan. Disebut potensi karena merupakan benih-benih yang dapat tumbuh kembang atau layu dan mati.

Keadaan semakin kompleks tatkala ada yang melawan perintah Allah untuk tunduk sebagai penghormatan pada Adam, manusia pertama yang diciptakan Allah sebagaimana yang diungkap Al Qur’an,

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para Malaikat: “Sujudlah kalian kepada Adam!” Maka sujudlah mereka kecuali Iblis, ia enggan dan membesarkan diri dan adalah ia termasuk golongan yang Kafir.” (QS al-Baqarah [2]: 34)

Kita tahu, iblis menjadi faktor tambahan yang memang secara hakiki diberi kesempatan untuk menggoda dan menggelincirkan manusia. Keberhasilan pertamanya adalah menggelincirkan Adam sehingga terusir dari syurga. Iblis dengan demikian menjadi seteru abadi bangsa manusia, sebagimana Joker adalah seteru abadi Batman.

Berdasar dua ayat di atas bisa dirangkum bahwa sumber kejahatan itu ada dua yaitu manusia itu sendiri, karena ada potensi kejahatan dalam dirinya, dan iblis yang memang diberi kesempatan untuk menggoda manusia agar berbuat jahat. Dengan demikian kejahatan adalah musuh abadi manusia.

Manusia baik dan normal pasti tidak suka pada kejahatan. Bahkan orang jahat pun tidak mau menjadi korban kejahatan. Kejahatan sama sekali tidak kita butuhkan. Tetapi kejahatan itu ada, bahkan merupakan keniscayaan, fakta yang tak terbantahkan. Keberadaannya nyata.

Kejahatan bagai udara, kehadirannya di mana dan kapan saja. Kejahatan bisa menjelma apa saja. Ia bisa berupa ibu kandung yang memutilasi bayinya atau istri yang memotong-motong tubuh suaminya dan mencampakkanya ke lubang sampah. Orang yang kita kenal baik selama tahun-tahun yang panjang, tiba-tiba bisa menjadi orang yang sangat jahat. Setiap kita juga bisa berubah menjadi jahat dan penjahat.

Dalam konteks inilah Joker bisa menjadi pahlawan. Bila kehadiran Joker bisa memicu, memacu, memotivasi, dan menginspirasi kita untuk terus melawan kejahatan dan mendorong kita untuk secara konsisten berbuat kebaikan. Maka Joker adalah pahlawan.

Bisa jadi, tanpa kehadiran Joker, hidup akan monoton, seperti jalan lurus lempang tanpa belokan dan gajlukan. Sama sekali membosankan dan tidak menantang. Bisa-bisa kita menjadi pisau yang majal, manusia yang tak bergairah dan lesu darah. Syaraf kita tak merasakan hentakan dan tarikan adrenalin yang meski mengkhawatirkan, namun mengasyikkan.

Kejahatan bukan sekadar lawan tanding yang memunculkan gairah bertanding. Tetapi lawan sesungguhnya yang membuat kita selalu mempersiapkan diri untuk memenangkan semua pertandingan dan tantangan. Kejahatan membuat hidup semakin dan bertambah hidup.

KEBERADAAN MANUSIA BERMAKNA BILA KEJAHATAN MEMACU DAN MEMICUNYA UNTUK MELAWAN KEJAHATAN DAN BERBUAT BAIK SECARA KONSISTEN SEPANJANG WAKTU.

Loading...