Beranda News Nasional Jokowi Akhirnya Bertemu SBY, Ini yang Dibahas

Jokowi Akhirnya Bertemu SBY, Ini yang Dibahas

509
BERBAGI
Presiden Joko Widodo dan mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengobrol sambil minum teh di Istana Negara, Kamis (9/3/2017). Foto: Sekretariat Kabinet

TERASLAMPUNG.COM — Setelah sempat mengungkapkan kegundahannya di media sosial soal sulitnya bertemu Presiden Joko Widodo, akhirnya mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bertemu dengan Presiden Jokowi, di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (9/3) siang. Pertemuan tersebut sekaligus menghapus spekulasi yang berkembang di media sosial bahwa dua tokoh itu hubungannua memanas atau setidaknya kurang baik.

Setelah menanyakan kabar masing-masing, dua tokoh itu kemudian makan bersama.  Presiden Jokowi mengajak SBY makan siang bersama kemudian dilanjutkan berbincang di beranda sambil minum teh hangat.

Tak lama kemudian mereka pun berbincang dengan para wartawan Istana.

Saat menjawab pertanyaan wartawan, Jokowi menegaskan bahwa rencana dengan SBY hanya masalah mencocokkan waktu saja. Ketika waktu lowongnya klop, keduanya pun bisa bertemu dalam suasana santai dan akrab.

“Seperti yang sudah sering saya sampaikan, bolak balik kan sudah saya sampaikan bahwa saya akan mengatur waktu untuk beliau, Pak SBY. Hari ini alhamdulillah beliau pas juga ada waktu, saya juga ada, artinya kami janjian dan ketemu,” kata Presiden Jokowi mengawali keterangan pers bersama SBY.

Jokowi mengaku soal waktu sering menjadi kendala untuk bertemu dengan tokoh tertentu. Namun begitu waktunya pas maka siapa pun bisa dia temui.

“Nah sekarang (bisa ketemu), waktunya sekarang, sudah,” ujarnya.

Jokowi mengaku banyak hal yang dibicarakan dengan mantan Presiden SBY. Antara lain soal politik nasional, ekonomi nasional, estafet pembangunan, dan hubungan Indonesia dengan negara-negara lain.

“Namanya diskusi kan banyak hal dan hal-hal yang lain-lainnya,” sambungnya.

Jokowi mengaku dirinya sepakat dengan SBY  bahwa tradisi politik dari Presiden sebelumnya ke Presiden berikutnya itu memang harus ditradisikan.

Yang kedua yang berkaitan dengan budaya estafet, pembangunan yang sebelumnya diteruskan oleh pembangunan Presiden berikutnya. Kalau estafet itu terus bisa dilakukan, budaya estafet itu kita miliki, Presiden meyakini, negara ini gampang mencapai sebuah titik target bagi kebaikan rakyat, bagi kebaikan negara.

“Saya kira ke depan tradisi yang baik, pergantian dari Presiden sebelumnya ke Presiden berikutnya itu harus terus ditradisikan. Yang kedua juga tadi, budaya estafet itu harus kita miliki sehingga jangan sampai kita memulai terus dari awal, memulai terus dari awal. Itu yang harus ditradisikan,” tutur Presiden Jokowi.

B. Satriaji