Jokowi, Revolusi Mental, dan Strategi Kebudayaan

  • Bagikan

Oleh Satrio Arismunandar*

Sungguh menyegarkan, mengetahui bahwa di antara sekian bakal calon presiden yang namanya disebut-sebut di media, ternyata ada juga yang memiliki perhatian khusus pada soal-soal besar kebudayaan. Inilah kesan pertama saya terhadap tulisan Joko Widodo (Jokowi), calon presiden dari PDI Perjuangan, di harian Kompas (Sabtu, 10 Mei 2014). Artikelnya yang berjudul Revolusi Mental itu merupakan uraian yang lebih sistematis dari cetusan pernyataannya di media massa beberapa waktu lalu.

Tulisan Jokowi pada intinya ingin menjelaskan, mengapa meski Indonesia sudah 16 tahun melakukan reformasi sejak berhentinya pemerintahan Presiden Soeharto pada Mei 1998, nyatanya kegalauan, keresahan, bahkan kemarahan rakyat tetap terasa. Kebebasan politik dan berekspresi, pertumbuhan ekonomi yang tinggi, dan tersedianya berbagai sarana demokrasi -seperti Pemilihan Umum yang diadakan secara rutin setiap 5 tahun ternyata gagal menjawab persoalan-persoalan mendasar yang dihadapi bangsa ini.

Menurut Jokowi, hal itu terjadi karena reformasi yang dilakukan belum bersifat menyeluruh, yakni hanya sebatas perombakan yang sifatnya institusional. Ia belum menyentuh paradigma, mindset, atau budaya politik kita dalam rangka pembangunan bangsa (nation building). Padahal inti pembangunan adalah pada perombakan manusianya dan sifat mereka yang menjalankan sistem ini.

Karena pembenahan itu tidak mencakup perubahan manusianya, maka berbagai tradisi atau budaya yang tumbuh dan berkembang di era rezim Orde Baru tetap bertahan sampai sekarang. Seperti budaya korupsi, intoleransi terhadap perbedaan, kecenderungan melakukan kekerasan dalam memecahkan masalah, pelecehan hukum, sikap mau enaknya sendiri, dan sifat oportunistik. Maka reformasi yang cuma menyentuh kulit permukaan ini tidak akan sanggup membawa bangsa kita untuk mencapai cita-cita proklamasi.

Sebagai jalan keluarnya dan langkah korektif, Jokowi menyarankan perlunya dilakukan revolusi mental. Penggunaan istilah “revolusi” ini tidak berlebihan, sebab Indonesia memang memerlukan terobosan budaya politik untuk memberantas setuntas-tuntasnya segala praktik buruk, yang sudah sekian lama dibiarkan merajalela dari era Orde Baru.

Perubahan Sikap Mental

Menanggapi tulisan Jokowi, pertama perlu dinyatakan bahwa gagasan Jokowi sebenarnya tidaklah benar-benar baru. Beberapa pemikir sudah menyatakan ide yang pada dasarnya serupa. Jokowi sendiri memang tidak mengklaim pemikirannya sebagai ide orisinal. Namun, pemikiran Jokowi, yang diakuinya lebih berangkat dari hasil pengamatan dan pengalaman pribadi selama ini, patut kita apresiasi.

  • Bagikan