Beranda Kolom Sepak Pojok Jomin, Mudik Lebaran, dan Kemacetan

Jomin, Mudik Lebaran, dan Kemacetan

263
BERBAGI

Oleh Alois Wisnuhardana

Bukan. Bukan singkatan Jokowi Amin. Ini bukan lagi soal copras capres atau kampanye.

Ini soal Simpang Jomin. Simpang jalan ini sangat legendaris pada zamannya. Di sinilah puluhan kamera televisi berdiri tegak merekam kemacetan panjang menjelang Lebaran.

Maunya ingin Lebaran di kampung, tak jarang orang tersangkut di sini. Belum yg kebelet pipis, boker, anak rewel, sakit, dan segala rupa soal. Sampai ada yg meratap, “Ya Allah, mengapa kau ciptakan tempat bernama Jomin?”

Semua akrab dengan namanya, meski tak pernah tahu di mana letaknya.

Tiap tahun berjalan begitu. Puluhan tahun lamanya. Jutaan orang yang tak mengalami mudik dibuat terhiba lewat layar kaca. Betapa tersiksa para pemudik berjuang di jalan raya demi bertemu sanak dan keluarga.

Ratusan ribu kendaraan hendak melintas dengan masalahnya masing-masing. Jutaan manusia, akan pulang kampung melewati titik-titik itu dengan segala dramanya.

Yang seperti Simpang Jomin bahkan tak cuma satu. Ada nama legendaris lain, Patrol dan Nagrek. Atau Losari dan Kanci.

Hari-hari ini kata itu telah lenyap dari telinga kita.

Seorang wartawan mengaku dibuat pusing harus menulis atau memotret apa untuk medianya. Padahal atasannya mungkin minta puluhan gambar dan beberapa cerita.

Sisa terakhir cerita dan drama mudik adalah tragedi Brexit 2016 lalu.

Tragedi itu sendiri menandai mulai terhubungnya Pulau Jawa di bagian barat dengan bagian tengah lewat jalan tol. Selepas tahun itu, jalan tol Jawa yg tersambung makin banyak, tidak hanya dari barat ke tengah tapi sampai ke timur.

Semuanya tuntas pada mudik Lebaran 2019 ini, ditambah bonus jalan tol Sumatera dari Lampung sampai Sumsel.

Sebagian media kehilangan berita dan cerita menarik tentang manusia. Ke mana cerita dan cerita berbeda harus dicari? Di pasar?

Di pasar, cerita tentang naiknya harga barang menjelang Lebaran juga tidak segila tahun-tahun sebelumnya. Nilai beritanya tergolong rendah. Jika pun ada lonjakan harga, titiknya sangat terbatas. Daya tariknya sudah kurang.

Lalu ke mana lagi cerita harus dicari? Di jalan-jalan, kecelakaan berkurang makin signifikan. Kejadian laka lalin, turun hingga 60% dibanding tahun sebelumnya. Korban tewas juga turun drastis, sampai 59% tahun 2019 ini dibanding tahun lalu, dalam tentang sampai H-2 Lebaran.

Tampaknya, faktor kelelahan menyumbang sebab utama laka lalin selama ini. Yg dulu hrs ditempuh puluhan jam, kini bisa separuhnya. Orang masih segar bugar ketika sampai tujuan. Sarapan di ibukota, siang atau sore sudah nongki-nongki cantik di teras kampung halaman atau warung masa kecil.

Tak heran jika ada sebagian media yg mencari atau membuat berita hanya dari balik meja. Berita dari lapangan terasa kian datar.

Dulu ada cerita di media, tentang pemudik yang terpaksa menahan pipis atau boker berjam-jam di jalan. Kini, urusan begituan pun dipecahkan dan dicarikan jalan keluar.

Tak heran jika tiket pesawat seharga 21 juta yg nggak masuk akal pun ikut ramai dibahas atau diulas.

Rupanya, obrolan mudik hari-hari ini telah naik kelas. Dari urusan macet atau harga daging, menjadi urusan tiket pesawat yg rutenya kadang-kadang jadi tak masuk akal.

Jadi, apa lagi yg harus jadi cerita di kampung ketika macet berjam-jam sirna? Apa lagi yg harus jadi alasan nanti untuk telat masuk kantor?

Simpang Jomin kini tinggallah kenangan. Tak bisa lagi jadi alasan.

Loading...