Beranda Politik Junaidi Auly: Ekonomi Melambat, Tenaga Kerja Tersendat

Junaidi Auly: Ekonomi Melambat, Tenaga Kerja Tersendat

613
BERBAGI
Ahmad Junaidi Auly
Ahmad Junaidi Auly

TERASLAMPUNG.COM — Anggota Komisi XI DPR RI Ahmad Junaidi Auly menyatakan pekerjaan pemerintah ke depan cukup berat, karena struktur ekonomi nasional semakin meninggalkan sektor-sektor tradeable atau labor incentive dan bergerak ke sektor jasa.

“Padahal, struktur tenaga kerja Indonesia masih ditopang oleh tenaga kerja berpendidikan rendah,” ujar Junaidi, Senin, 11 November 2019.

Legislator asal Lampung ini mengatakan, pada Agustus 2019, jumlah tenaga kerja berpendidikan Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Dasar ke Bawah mencapai 72 juta atau sekitar 56% dari total tenaga kerja.

Persoalan lainnya adalah tingginya angka pengangguran pada Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan pendidikan tinggi.

“Sekitar 10,4% lulusan SMK menganggur, sedangkan lulusan Diploma I/II/III serta lulus universitas yang menganggur masing-masing 5,99% dan 5,67%. Secara umum kondisi ketenagakerjaan Indonesia pada Agustus 2019 cenderung menurun dibandingkan Februari 2019. Jumlah pengangguran melonjak mencapai 7,05 juta (Agustus 2019) dari 6,82 juta (Februari 2019). Tingkat pengangguran terbuka (TPT) juga melonjak menjadi 5,28% pada Agustus dari 5,01% pada Februari 2019. Sinyal penurunan sektor ketenagakerjaan memang sudah terlihat,” pungkas Bang Jun, sapaan akrabnya.

Junaidi merinci beberapa diantaranya adalah perlambatan realisasi investasi maupun penurunan realisasi belanja modal pemerintah. Proyek-proyek tersebut menjadi salah satu penentu penyerapan tenaga kerja. Belanja modal hanya terealisasi Rp 63 triliun atau 33% dari APBN-2019. Angka tersebut turun sekitar 11% dari tahun sebelumnya,” tutup Junaidi.

Realisasi pertumbuhan ekonomi Indonesia belum mampu mencapai level lebih tinggi. Pada triwulan III-2019, pertumbuhan ekonomi hanya sekitar 5,02%. Angka pertumbuhan 5%-an diikuti dengan penurunan kualitas pertumbuhan. Hal itu terlihat dari penurunan peranan sektor-sektor berbasis tenaga kerja (labour incentive) terhadap pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB).

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), kontribusi sektor-sektor labor incentive (pertanian, pertambangan, dan industri pengolahan) pada triwulan III-2019 turun menjadi 39,99%. Pada beberapa triwulan sebelumnya, kontribusi sektor tersebut masih sekitar 40%.

Loading...