Beranda News Obituari Jurnalis Senior dan Pendiri AJI Ahmad Taufik Tutup Usia

Jurnalis Senior dan Pendiri AJI Ahmad Taufik Tutup Usia

151
BERBAGI
Ahmad Taufik (kiri) dalam deklarasi pencalonannya sebagai calon Gubernur DKI Jakarta pada Maret 2016 lalu. (Foto: aktualita.co)

TERASLAMPUNG.COM — Wartawan senior Tempo dan salah satu pendiri Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Ahmad Taufik, meninggal dunia, Kamis malam (23 Maret 2017), pada usia ke-51 tahun. Pria humoris yang teguh berjuang hingga akhir hayatnya itu meninggal setelah beberapa hari dirawat di Rumah Sakit Medistra karena menderita kanker paru-paru stadium 4.

Meninggalnya Ahmad Taufik bukan hanya membuat keluarga besar Tempo dan AJI berduka. Banyak kolega dan penjunjung demokrasi-HAM berduka atas meninggalnya pria yang akrab disapa Ate itu. Hal itu karena jejak Ate di dunia kebebasan pers dan demokrasi di Indonesia lumayan kokoh dan panjang. Ia masih saja berjuang meskipun sudah dalam kondisi sakit.

Banyak kalangan menilai Ate adalah seorang pemberani dan tak kenal lelah dalam memperjuangkan prinsip. Ia pernah dipenjara bersama Eko Maryadi oleh rezim Orde Baru karena menyebarkan buletin Independen yang diterbitkan AJI. Ate adalah salah satu tokoh Forum Wartawan Indonesia (FOWI) di Bandung, salah satu organisasi penyokong berdirinya AJI. Di AJI ia tercatat pernah menjadi Ketua Presidium pada 1994-1997.

Masih menjadi wartawan Tempo, Ate pernah mencoba mendaftar sebagai komisioner Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Posisi istrinya yang menjadi orang Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ketika itu sempat menjadi sorotan saat uji kepatutan dan kelayakan di DPR. Ia pun gagal melaju dalam seleksi lanjutan.

Ia juga sempat mendeklarasikan maju dalam Pilgub DKI Jakarta lewat jalur independen, tahun lalu. Bersama Mujtahid Hashem, Ate mengumumkan maju ke pertarungan Pemilihan Kepala Daerah DKI Jakarta 2017 dari jalur independen di lapangan bulu tangkis di daerah Petamburan, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Minggu (13/3/2016). Pasangan ini berjuluk ATeMAs.

ATeMas mengusung slogan “Kembalikan Jakarta kepada Rakyat”, sesuai dengan misi mereka hendak membebaskan Jakarta dari konglomerat hitam. Namun laju keduanya kandas di tengah jalan.

Ahmad Taufik lahir Ate lahir di Jakarta, 12 Juli 1965. Ia menyelesaikan studi di Fakultas Hukum Universitas Islam Bandung (Unisba). Ia memulai karier jurnalistik di Majalah Bulanan Generasi Muda Islam Estafet dan sempat bekerja untuk Majalah Berita Mingguan TEMPO sebelum TEMPO dibredel. Pria yang hobi olahraga tenis ini  kembali bekerja di TEMPO setelah majalah mingguan itu terbit kembali dan pernah menjadi redaktur kesehatan.

Sebagai wartawan itu termasuk berprestasi. Beberapa penghargaan diraihnya. Antara lain juara beberapa lomba dan anugerah jurnalistik pada tahun 2008, 2009, dan 2010. Pada 2011 Ate meraih penghargaan Mochtar Lubis Award bidang penulisan Pelayanan Publik.

Sebagaii jurnalis, Ate pernah sebulan lebih meliput di perbatasan Pakistan-Afganistan (Tribal Area) ketika Amerika Serikat menyerang Pemerintahan Taliban di Afganistan tahun 2001 hingga meliput pemilihan umum di Irak, 24 Januari –1 Maret 2005.

Pembelaan ATe terhadap orang-orang terpinggirkan sangat jelas. Ketika menjadi advokat, Ate sering membela orang-orang yang disingkirkan karena diskriminasi agama, rakyat miskin, dan orang-orang dilalimi. Ia juga menjadi salah satu motor pembela Islam dalam Koalisi Advokat Internasional untuk pembelaan hak-hak bangsa Palestina.

Loading...