Jurnalis yang Sudah 15 Tahun Mengabdi di Pikiran Rakyat Ini Dipecat karena Sakit

  • Bagikan
Aksi solidaritas untuk Zaky Yamani oleh para jurnalis Bandung,, 1 Mei 2017. Foto: kbr.id

TERASLAMPUNG.COM — Wartawan tidak boleh sakit. Kalau sakit dan berpotensi tidak produktif dan tidak menguntungkan perusahaan, pemecatan (PHK) yang akan diterimanya. Itulah yang dialami Zaky Yamani, salah satu wartawan Harian Pikiran Rakyat Bandung.

Kasus yang dialami Zaky, diangkat kembali oleh AJI Kota Bandarlampung dan para jurnalis Jawa Barat yang peduli terhadap nasib jurnalis cum penulis berbakat itu, dalam momen Hari Kebebasan Pers Sedunia, 3 Mei 2017.

“Setelah dimediasi Dinas Tenaga Kerja Kota Bandung, tripartit kemarin deadlock. Sehingga kita akan maju ke Pengadilan Hubungan Industrial,” kata Ari Syahril Ramadhan, Ketua AJI Bandung, di depan Kantor Gubernur Jawa Barat, Jalan Diponegoro, Bandung, seperti ditulis kbr.id.

Media online kbr.id melansir, Harian Pikiran Rakyat (PR) Bandung memecat Zaky Yamani, pekerja yang telah bekerja selama selama 15 tahun sebagai wartawan.

Zaky dianggap tidak bisa memenuhi kewajibannya sebagai pekerja karena sakit. Padahal sejak Oktober 2016, redaktur di www.pikiran-rakyat.com ini telah divonis mengalami gangguan kejiwaan akibat beban pekerjaan berlebih oleh dokter psikiatri. Diagnosa dokter psikiatri ini pun sudah disampaikan Zaky ke manajemen PR.

Meski begitu, menurut Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Bandung, Ari Syahril Ramadhan, manajemen PR tetap memecat wartawan yang ikut membesarkan koran terbitan Jawa Barat tersebut dengan pelbagai penghargaan jurnalistik.

Menurut Ari Syahril, Zaky tidak bisa dipecat karena alasan sakit. Hal ini berdasarkan Pasal 153 ayat 1 huruf a Undang Undang Tenaga Kerja Nomor 13 Tahun 2003. Pasal tersebut menyatakan bahwa perusahaan dilarang melakukan pemecatan dengan alasan pekerja berhalangan masuk kerja karena sakit selama waktu tidak melampaui 12 bulan secara terus menerus.

“Oleh sebab itu, jika seorang pekerja dipecat karena sakitnya, maka pemutusan hubungan kerjanya batal demi hukum dan perusahaan wajib mempekerjakan kembali,” katanya.

Harian Pikiran Rakyat termasuk media legendaris di Indonesia. Ia sudah eksis dan menjadi bacaan warga Jawa Barat sejak tahun 1950. Harian Pikiran Rakyat  bisa disejajarkan dengan media lokal yang menjadi arus utama di wilayah lokal seperti  Kedaulatan Rakyat (Yogyakarta), Jawa Pos (Surabaya), dan Suara Merdeka (Semarang).

Meskipun sama-sama media besar, sikap media terhadap jurnalisnya yang sakit atau tertimpa musibah berbeda-beda. Grup Jawa Pos, misalnya, justru sangat pedulu terhadap jurnalisnya yang sakit dan terancam tidak bisa secara penuh. Bahkan, Jawa Pos menanggung semua biaya rumah sakit di rumah sakit yang mahal. Hal itulah yang setidaknya dialami mantan Pemred Radar Lampung Ibnu Khalid.

Loading...
  • Bagikan