Jurnalistik dan Sains, Antara Kecepatan dan Akurasi

  • Bagikan

Oleh: Ridwan Saifuddin
Peneliti Balitbangda Provinsi Lampung

Kalau ada perbedaan antara produk jurnalistik dan sains, itu terletak pada siklus validasinya. Produk jurnalistik, apalagi jurnalisme harian, kebaruan dan kecepatan lebih utama dari akurasi. Sains, sebaliknya, akurasi dicapai lewat siklus metodis yang ketat dan lebih lambat.

Dalam penyajian, struktur keduanya juga berbeda. Produk jurnalistik yang divalidasi oleh editor (redaktur) menggunakan struktur “piramida terbalik,” di mana (inti) informasi terpenting ada pada paragraf pertama (lead). Penyajian karya ilmiah sebaliknya. Diawali latar belakang (konteks) yang panjang, metodologi, dan tahapan kajian. Inti baru bisa ditemukan pada bagian akhir. Validasinya melibatkan ilmuwan sejawat (peer review), yang juga membutuhkan waktu.

Dengan struktur demikian, kiat membaca karya jurnalistik dan karya ilmiah pun menjadi berbeda. Paragraf pertama berita media merangkum seluruh isi berita. Sedangkan inti makalah ilmiah baru bisa diketahui pada bagian (beberapa paragraf) terakhir. Abstrak dalam karya ilmiah menjadi pembuka yang baik untuk mengetahui inti, seperti halnya “teras berita.”

Tabiat sains yang lambat dan ketat secara metodologi ikut terdisrupsi pandemi Covid-19. Ketika para ilmuwan, khususnya bidang biologi molekuler dan virologi, digesa untuk memberi solusi atas pandemi, banyak makalah ilmiah lahir (dipublikasikan) secara prematur, tanpa proses peer-review yang memadai.

Sebuah platform akses terbuka yang didirikan organisasi nirlaba Cold Spring Harbor Laboratory, “bioRxiv” (dibaca bio-archive), misalnya, pada Januari 2021 lalu menurunkan karya ilmiah (preprint) yang mengklaim menemukan bahwa virus Corona identik dengan HIV. Kertas kerja itu menyatakan bahwa virus Corona dibuat di laboratorium. “Temuan ilmiah” itu pun turut memicu teori konspirasi tentang asal-usul Covid-19.

Fenomena munculnya karya ilmiah yang mengalami percepatan dalam beberapa tahun terakhir di satu sisi mencemaskan, di samping juga memberikan harapan. Seiring revolusi industri, di mana kita bisa belajar bahwa kecepatan bisa membawa kebaikan, sekaligus keburukan.

Skeptisisme

Berpikir ilmiah dan kritis kemudian menjadi esensi, yang berpusat pada bukti (empiris), nalar-rasional, dan sikap skeptis. Tidak hanya terhadap karya jurnalistik, tetapi juga terhadap karya ilmiah.

Jurnalis yang dituntut kecepatan dalam mewartakan perkembangan satu isu, perlu memperkuat check and recheck sebelum menurunkan tulisannya. Ilmuwan, begitu juga, harus terus-menerus memeriksa bukti, argumen, dan alasan atas keyakinan ilmiah mereka. Persekutuan keduanya yang menghasilkan misinformasi hanya akan merugikan publik, juga kredibilitas sains dan jurnalisme.

Skeptisisme juga penting dikembangkan dalam jurnalisme terhadap gagasan, informasi, penemuan baru hatta itu dibalut sampul karya ilmiah. Publik pun harus kritis terhadap klaim-klaim satu temuan yang didramatisir dengan menggunakan kata-kata bombastis.

Semakin sering kita membaca klaim-klaim berbalut ilmiah di media massa dan media sosial, seperti “temuan spektakuler,” “menyembuhkan,” “terobosan baru,” “revolusioner,” “merubah paradigma,” dan sejenisnya. Klaim luar biasa menuntut bukti yang luar biasa juga, dan sains jarang bekerja dengan cara itu.

Gaya selingkung ilmuwan tidak menyukai diksi hiperbolis. Itu bisa muncul dari proses penulisan oleh jurnalis an sich, atau juga adanya kepentingan komersial-perusahaan terhadap satu karya ilmiah.

Memang, secara normatif, penyajian karya ilmiah harus bebas dari tekanan atau kepentingan di luar sains. Meski itu utopia. Karya ilmiah dibuat oleh ilmuwan yang juga manusia biasa. Bahkan, riset yang membawa nama perguruan tinggi yang sulit dibedakan intensinya dengan perusahaan. Karena itu, penting dalam peliputan untuk menelisik aspek pendanaan satu penelitian.

Aspek pendanaan ini acap memengaruhi hasil karya ilmiah. Bukan hanya pendanaan dari perusahaan, tetapi juga kepentingan peneliti untuk mendapatkan hibah penelitian dari dana publik. Terbatasnya hibah penelitian, sementara banyak yang ingin mendapatkannya, mendorong peneliti membuat penelitian yang terkesan lebih menarik. Peneliti akan tergoda membuat “kemajuan signifikan” dari penelitian sebelumnya demi mendapatkan hibah.

Tentu, tidak sepenuhnya salah, ilmuwan yang mengakomodasi arah penelitiannya sehingga sesuai dengan tujuan penyandang dana. Namun, menjadi kewajiban jurnalis untuk memahami konteks pekerjaan, konflik kepentingan, sekaligus memeriksa apakah bukti dan hasil penelitian itu benar-benar sejalan dengan klaim yang disampaikan. Ini penting, karena liputan sains tanpa konteks yang jelas bisa mengikis kepercayaan pembaca terhadap ilmuwan maupun jurnalis.

Ada benarnya sinyalemen Nassim Taleb: alih-alih jurnalisme menjadi lebih ilmiah, sainslah yang menjadi semakin jurnalistik.***

  • Bagikan