Beranda Kolom Kopi Pagi Kabar Angin

Kabar Angin

47
BERBAGI

Rois Said

Sembari minum kopi, angin pagi lembut menyapa. Berbisik
mungkin tepatnya. Seperti langkahnya yang tak terekam jejak. Incognito.
Mendompleng butir-butir embun yang gemerisik terusir geliat si penguasa siang
yang baru bangun.

“Selamat pagi…” katanya.

Aku terperanjat. Kucing mengeong memberi jawaban. Tanganku masih belepotan.

“Maaf, tak bisa menyalamimu. Kau ambillah apa yang kau
mau dan tersedia di sini. Lakukan juga apa yang kau suka. Aku sibuk.
Benar-benar sangat sibuk!” Terus terang, aku agak ketus menyambutnya pagi ini.

Dia pun seperti tahu. Pasti dia tahu, dari sikapku. Dia tersenyum.

“Ada pesan untukmu dari surga…” bisiknya.
Bau mulutnya begitu harum kuakui. Aku sempat terbius
dibuatnya. Tapi aku masih ketus. Buat apa percaya ucapannya, pikirku. Setiap
kali aku mulai percaya, seenaknya dia pergi tanpa meninggalkan jejak.
Membiarkan dadaku sesak dengan harapan. Memusingkan otakku yang sibuk
mencari-cari gambaran yang dia janjikan.

Decit rem sepeda kasar terdengar. Pintu gerbang besi karatan berderak dibuka
dari luar. Standar diinjak sandal plastik kumuh berpeluk lumpur tanah becek.
Pintu dapur dibuka.

“Eh, istrimu juga dititipi salam dari sana…” wajah si
angin pagi makin antusias. Tapi aku makin beringas.

“Mamaaaaaaaa…” si kecil mengawali harinya dengan tangisan panjang.

“Aha.. aku hampir lupa. Anakmu juga..” si angin pagi
hampir berjingkrak namun segera terpenggal hardikanku.
“Apa?!! Anakku dapat salam juga dari surga? Kenapa tak
kau bawakan saja coklat buat anakku? Memangnya di surga tak ada coklat?? Atau,
kenapa tidak kau ambilkan khuldi buat istriku?! Tak perlu lagilah kau bisiki
aku. Lama-lama mulutmu bau asem tai kucing! Apa kau tak pernah dengar
selentingan kalau tuhan sudah mati? Coba kau kabarkan itu sama orang-orang!
Kenapa musti aku terus yang kau jejali bisikan-bisikanmu?”

Wajah angin pagi memerah, tapi sebentar pucat. Tersenyum kecut dia beringsut.
Semerbak air kencing menghampiri. Si kecil riang menyapa, “Ayaaaah…”

Kupeluk dia hangat. Kuhirup rakus bau kencing yang
membungkus badannya. Ini realitas, batinku.

“Ayah, ini setengah bungkus rokok pesananmu.”

“Makasih, Sayang.”

Mulut asam tak sabar menghisap asap tembakau setelah semalaman puasa.

 “Dagangan gimana?”
tanyaku di sela hisapan pertama.

“Maaf, cuma laku setengah… enggak cukup buat beli bahan
besok…”

Asap tembakau seketika berubah tombak. Menyumbat aliran napas di kerongkongan.
Wajah dan mataku merah. Antara asap dan amarah. Kuberikan si kecil pada ibunya.
Segera melonjak mencari si angin surga. Akan kubunuh dia dengan cerita istriku!
Tapi dia sudah menghilang bersama siang. Napas tersengal. Pinggang dikacak.
Kutunggu kau esok, angin pagi! Ingin tahu, cerita apa lagi yang kau bawa dari
surga…!