Kabar Buku: Bertemu dalam Satu “Titik Temu”

  • Bagikan

Kata bersatu. Menempa gunung penjaga waktu. Meretas tawas. Bingkas. Ruang terbatas. 
Siapa di luar bebas? Pintu bersedeku.

Tak ada kompas.


Tanah memilah jengah. Kolam pulang jamaah. Rontok mematok. Hanya balok menampakkan 
wajah orok di dalam pelog. Kayu-kayu kehilangan suhu. Sungai menipu. Tebing mengerling. Jauh gering pohon-pohon tungging.

Itulah cuplikan puisi unik dari Korrie Layun Rampan, halaman 79, Antologi Puisi Titik Temu TEMU, yang diterbitkan oleh Komunitas Kampoeng Jerami pada hari Hak Asasi Manusia (HAM), 10 Desember lalu.

Selain Korrie Layun Rampan, esais, sastrawan dan budayawan senior dari Kalimantan, ada 59 penyair lain dari berbagai kota di Indonesia, bahkan yang tinggal di Taiwan dan Korea, terlibat dalam buku ini.

Mereka adalah Acep Zamzam Noor, Ady Harboy, Aji Saputra, Alex R. Nainggolan, Alra Ramadhan, Ariany Isnamurti, Bayu Taji, Bunda Umy, Cici Mulia Sary, Ciek Mita Sari, Dedy Tri Riyadi, Dewi Nova, Dita Ipul,  Djemi Tomuka, Edy Samudra Kertagama, Fendi Kachonk, Handry TM, Hasmidi Ustad, Indarvis Inda, Jamal D. Rahman, Joko Bibit Santoso, Julia Asviana, Khifdi Ridho, Lara Prasetya, Lia Amalia Sulaksmi, Lilis A Md, Mariana Amiruddin, Masita Riany, Maulidia Putri, Meitha KH, M. Faizi, Mohammad Arfani, Much. Khoiri.

Kemudian  Muhammad Zamiel El-Muttaqien, Nissa Rengganis, Retha, Reza Ginanjar, Saifun Arif Kojeh, Sastri Bakry, Saut Poltak Tambunan, Senandung Sunyi Chamellia, Setyo Widodo, Shinta Miranda, Siti Noor Laila, Soetan Radjo Pamunjak, Sofyan RH. Zaid, Sulis Setiyorini, Syaf Anton Wr., Syarifuddin Arifin, Tengsoe Tjahjono, Umirah Ramata, Upik Hartati, Vebri Al Lintani, Warih Subekti, Weni Suryandari, Yanuar Kodrat, Yeni Afrita, Yonathan Rahardjo, dan Yuli Nugrahani.

Penulis yang terlibat ini terdiri dari para penyair senior maupun pemula dari beragam latar suku, agama, profesi, orientasi seksual, dan cara pandang.
Sambutan Komisioner Komnas Hak Asasi Manusia, Siti Noor Laila di bagian awal dari buku antologi puisi ini bisa memberikan gambaran tentang latar belakang mengapa buku ini diterbitkan. Karya sastra menjadi salah satu bagian yang harus dikembangkan sebagai salah satu bentuk cara dalam mengembangkan penghormatan martabat manusia dan penghargaan terhadap Hak Asasi Manusia (HAM).

“Indonesia masih menyimpan banyak persoalan HAM. Soal kebebasan beragama, pejuang HAM yang dikriminalkan, tanah rakyat yang diambil paksa dengan harga murah, buruh dibayar murah, dan seterusa. Namun, juga harus kita akui bahwa pasca rezim orde baru ada beberapa kemajuan dalam pengakuan dan penghayatan HAM, misalnya ditandai dengan lahirnya beberapa kebijakan. Dalam situasi ini  diperlukan peran aktif semua pihak untuk melakukan promosi HAM di negeri Indonedia yang konon sebagai negara demokrasi,” demikian dikatakan Laila.

Lebih lanjut ditekankan bahwa berbagai peraturan tidaklah cukup, diperlukan pendekatan melalui budaya, nilai-nilai anti kekerasan dan ‘dialog hati’ untuk membangun bangsa yang bermartabat. Buku kumpulan puisi ini menjadi salah satu media terjadinya ‘dialog hati’  komunikasi antar sesama anak bangsa agar terbangun rasa dan karsa menuju Indonesia yang manusiawi dan bermartabat.

Ranah budaya atau dalam hal ini sastra (puisi/sajak) inilah yang diambil oleh Komunitas Kampoeng Jerami lewat pengumpulan karya sastra 60 penyair Indonesia yang tinggal di berbagai kota di Indonesia maupun di luar Indonesia.

Titik Temu diharapkan menjadi ruang perjumpaan tanpa diskriminasi para penulis dari berbagai kalangan untuk ikut terlibat dalam mengembangkan penghormatan terhadap martabat manusia yang semata ciptaan, sekaligus yang ikut serta dalam karya penciptaan Sang Pencipta.

Dikatakan oleh pengasuh Komunitas Kampoeng Jerami, Fendi Kachonk dari Sumenep bahwa buku ini ingin menyampaikan pesan kemanusiaan dari penyair-penyair Indonesia yang ditujukan bagi semua manusia di Indonesia. “Dari sanalah kami ingin menyebarkan nilai-nilai penghormatan pada Hak Asasi Manusia lewat penerbitan dan diskusi buku di berbagai kota,” ungkapnya.

Sementara ini, beberapa kota yang siap untuk meluncurkan buku ini adalah Sumenep, Surabaya, Bengkulu dan Jakarta. Sedang buku ini sendiri akan disebar ke berbagai daerah termasuk Lampung.

Beberapa nama penyair Lampung terlibat di dalam buku ini, termasuk editor Yuli Nugrahani, juga ilustrasi sampul dan isi buku oleh Dana E. Rachmat, pelukis dan penggiat Dewan Kesenian Lampung.

 Dyn

  • Bagikan