Kain Sarung tak Berujung

Bagikan/Suka/Tweet:

Oleh: Sudjarwo
Guru Besar Ilmu-Ilmu Sosial di FKIP Unila

Siang menjelang senja itu menghadiri rapat secara daring, membahas persiapan ujian kualifikasi doktor untuk angkatan dua. Hal yang menarik bahwa ujian kali ini dilaksanakan secara offline, walaupun rapat persiapannya dilaksanakan secara online. Adapun materi yang menjadi bahan uji dan instrumen penilaian, tetap menggunakan seperti tahun sebelumnya, hanya ada sedikit modifikasi dari tataurut berpikir.

Pekerjaan ini mengingatkan penulis  pada beberapa tahun lalu, sebelum lembaga sendiri punya program doktor, melakukan pekerjaan yang sama di tempat yang berbeda, dan milik lembaga lain. Seolah pada saat ini memutar kain sarung untuk mencari ujungnya di mana. Tidak mungkin ketemu. Sebab,  kain sarung sesama ujungnya sudah bertemu, sampai kapan pun kita memutarnya, tidak akan kita jumpa. Pekerjaan itu sia sia.

Sarung adalah kain yang berbentuk kotak dengan selongsong yang umumnya dilengkapi dengan motif. Sarung menjadi bagian tradisi busana di Indonesia. Salah satunya, pakaian tradisional Melayu Lingga menggunakan sarung atau kain dagang sebagai pelengkap pakaian. Dalam pakaian tradisional Melayu Lingga yang berkembang di Provinsi Kepulauan Riau, jika tidak menggunakan kain dagang dianggap kurang sopan dan melanggar adat istiadat. Dalam kesehariaan, sarung digunakan untuk sholat kaum muslim, terutama laki-laki. Hampir di setiap daerah di Indonesia memiliki sarung dengan corak, ragam, dan bahan yang berbeda-beda.

Kain sarung tidak hanya populer di Indonesia, tetapi kain ini banyak digunakan di sejumlah negara-negara Asia Tenggara lainnya. Sarung juga merupakan bagian kehidupan di Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand, Singapura, dan Myanmar. Di perkirakan, di Indonesia sarung muncul sejak abad 14 yang dibawa oleh pedagang Arab dan India. Berdasarkan catatan sejarah, sarung berasal dari Yaman yang terkenal dengan sebutan futah.

Dari sejarah memoar yang ditulis Pangeran Djajadiningrat dari Kesultanan Banten, disebutkan masyarakat Jawa masih menggunakan sarung, jas model Jawa, dan kain tutup kepala yang disebut destar hingga sekitar 1902. Sarung dibuat dari berbagai macam bahan, seperti katun, sutera, ataupun poliester. Umumnya, motif sarung berupa kotak-kotak atau garis melintang. Selain untuk pakaian shalat, sarung juga digunakan untuk selimut bahkan mengayun anak kecil. Adapun, pembuatan sarung umumnya terbagi menjadi dua, yaitu menggunakan alat tenun mesin (ATM) yang digerakkan oleh mesin dan alat tenun bukan mesin (ATBM) yang digerakkan oleh manusia.

Sejarah sarung kita tinggalkan terlebih dahulu untuk diurus oleh teman teman yang bergerak di bidang mode; kali ini kita memosisikan kain sarung sebagai bahasan metafora dari peristiwa. Salah satu di antaranya jika kita memperhatikan perputaran dunia dengan isinya, seolah ada beberapa peristiwa yang berulang, walau berbeda seting. Jika dilihat dari hakekat peristiwa; maka akan dirasakan keberulangan itu. Di sini kita juga jadi mengenal siklus hidup manusia di muka bumi ini, masa konsepsi, natal atau lahir, bayi, anak-anak, remaja, dewasa, tua, dan wafat. Generasi berikutnya pun akan mengikuti ritme itu terusmenerus secara umum. Dalam perjalanan hidupnya anak manusia tadi berkembang sesuai dengan kodratnya. Namun tidak jarang banyak yang menghujat, menyesali, paling tidak mengomel dalam hati akan nasibnya. Sebaliknya, jika mendapatkan nikmat; seolah Tuhan sayang kepadanya. Oleh sebab itu, semua yang diminta harus dituruti atau harus ada; tidak jarang untuk mencapai semua itu menggunakan metoda yang tidak sesuai dengan kaidah pada umumnya. Lagi-lagi golongan ini seolah terjebak pada posisi mencari ujungnya kain sarung.

Nikmat dimaknai sebagai keberuntungan sementara musibah dimaknai sebagai kemalangan. Padahal, bisa jadi keberuntungan itu adalah bentuk ujian yang Tuhan berikan untuk mengukur tingkat kebersyukuran kita. Sementara musibah adalah cara Tuhan menguji kesabaran kita sebagai manusia guna mengukur tingkat ketaqwaan kita. Sementara keduanya adalah bentuk “pakaian” yang Tuhan berikan pada kita guna mengingatkan akan hakekat tugas kita sebagai manusia yang menjadi khalifah (pemimpin) di muka bumi, seperti yang Tuhan firmankan dalam kitab suci-Nya. Padahal, seorang ulama besar kontemporer masa kini mengingatkan kepada kita semua, manusia diciptakan di dunia ini hanya satu permintaan Tuhan yaitu bersujud kepada-Nya. Bukan untuk yang lain,  walaupun kenyatannya banyak dia ntara kita yang mengabaikan permintaan itu. Yang lebih seru lagi:  bersujud dilakukan, yang lain pun dibersamakan. Mengerikan lagi pekerjaan lain diutamakan sementara bersujud dinomor sekiankan. Padahal jika kita mau sedikit berkontemplasi alam ini tetap berjalan sesuai hukumnya, baik ada kita maupun tanpa kita.

Semua yang ada di dunia ini serba sementara bahkan fana. Oleh karena itu, mari kita menjadi makhluk yang bermanfaat bagi makhluk lainnya; bukan menjadi penghambat atau menafikan keberadaan peran dan fungsi makhluk lain. Itu seperti dikatakan orang bijak: “Hidup ini bukan tentang apa dan berapa yang kita miliki; akan tetapi apa dan berapa yang bisa kita nikmati dan syukur!”

Selamat menikmati kopi hangat…