Beranda Hukum Kriminal Kakak-Adik Warga Bandarlampung Ini Membunuh Leo karena Sakit Hati

Kakak-Adik Warga Bandarlampung Ini Membunuh Leo karena Sakit Hati

576
BERBAGI
Kakak beradik pelaku pembunuhan saat memberikan keterangan terkait penganiayaan berujung tewasnya Leo.
Kakak beradik pelaku pembunuhan saat memberikan keterangan terkait penganiayaan berujung tewasnya Leo.

Zainal Asikin | Teraslampung.com

BANDARLAMPUNG-Kasus penganiayaan yang berujung pembunuhan yang dilakukan dua tersangka kakak beradik, Dede Setiawan alias Sedot (27) dan M. Alfin (24) terhadap korban Leo Adyawinata (39), warga Pangkalan Kasai, Kecamatan Seberida, Kabupaten Indragiri Hulu, Riau di tempat kosnya lantaran didasari sakit hati. Namun keduanya mengakui penyeselannya, akibat perbuatan yang telah dilakukannya.

Kedua tersangka tersebut, ditangkap Tim khusus antibandit (Tekab) 308 Polresta Bandarlampung, Polsekta Panjang dan Subdit III Jatanras Polda Lampung, saat keduanya berada di rumah kerabatnya di Desa Suban, Lampung Selatan, Rabu 18 April 2018 sekitar pukul 09.00 WIB. Dari penangkapan kedua tersangka, polisi menyita sebilah pisau dan satu balok kayu yang digunakan tersangka untuk menghabisi nyawa korban dan juga menyita pakaian milik korban.

Tersangka Dede yang kesehariannya bekerja sebagai sopir mengakui dan menyesali perbuatan yang telah dilakukannya bersama adiknya Alfin, Saat kejadian penganiayaan itu, dirinya khilaf atas tindakannya yang menghilangkan nyawa korban Leo.

“Saya khilaf dan menyesal atas perbuatan yang telah saya lakukan, saya siap bertanggungjawab dan menerima hukuman atas perbuatan yang telah saya lakukan ini,”ucapnya saat di Mapolresta Bandarlampung, Rabu 18 April 2018.

Dede juga mengakui, bahwa dirinya yang memukul korban menggunakan balok kayu. Menurutnya, penganiayaan tersebut dilakukannya, lantaran ia dan adiknya merasa sakit hati dengan korban yang sudah mengganggu ketenangan keluarga.

Sementara Alfin yang juga bekerja sebagai sopir mengakui perbuatannya, saat kejadian itu, bahwa dirinya yang menusuk korban Leo hingga lima kali tusukan ditubuhnya. Pisau yang digunakan untuk menusuk korban, memang sudah dibawa dirinya dari rumahnya.

“Yang tusuk korban saya, kalau kakak saya Dede awalnya cuma nganter aja. Sebelumnya saya sama korban sempat berantem dulu, lalu kakak saya membantu memukul korban pakai balok kayu. Saat itulah, saya khilaf langsung menusuk korban,”ucapnya.

Alfin mengatakan, bahwa perbuatan yang telah dilakukan bersama kakaknya pun sama, lantaran sakit sakit dengan korban yang dianggapnya telah mengganggu ketenangan keluarganya.

“Saya sakit hati sama korban, karena dia (korban) sudah sering morotin uang ibu saya dan itu semua tanpa sepengetahuan kami. Korban kenal dengan keluarga kami belum lama, tapi korban ini sudah keterlaluan memanfaatkan ibu saya ”terangnya.

Diketahui, seorang pria bernama Leo Adya Winata (39), warga Pangkalan Kasai, Kecamatan Seberida, Kabupaten Indragiri Hulu, Riau, tewas bersimbah darah dengan penuh luka tusukan ditubuhnya di tempat kosanya di Jalan Soekarno Hatta, Panjang depan PT Andatu, Selasa 17 April 2018 sekitar pukul 15.30 WIB.

Korban mengalami tiga tusukan di bagian dada, satu tusukan di perut sebelah kiri dan satu tusukan lagi dibagian kaki sebelah kanan. Polisi yang berada di lokasi kejadian, langsung membawa korban Leo ke Puskesmas Rawat Inap (PRI) Panjang untuk diidentifikasi. Meski sempat mendapat perawatan medis, Leo akhirnya menghembuskan nafas terakhir akibat luka tusukaan yang dialaminya.

Sebelum terjadinya penusukan hingga akhirnya Leo meninggal dunia, korban sempat didatangi tiga orang pria di tempat kosannya. Kemudian sempat terjadi keributan antara korban Leo dengan dua orang pria tersebut, hingga akhirnya kedua pria itu menghabisi nyawa Leo dengan beberapakali tusukan di tubuh Leo secara membabi buta.

Tim Inafis Polresta Bandarlampung yang tiba dilokasi kejadian, langsung melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Dari hasil olah TKP, petugas tidak menemukan senjata tajam yang digunakan pelaku untuk menghabisi nyawa korban. Petugas membawa barang bukti sebilah kayu balok dan beberapa barang lainnya yang ada di kosan korban guna kepentingan penyidikan.