Beranda Medsos Trending Kakek “Winny the Pooh”, Pebadut Tua Berpenghasilan Rp 15 Juta/Bulan

Kakek “Winny the Pooh”, Pebadut Tua Berpenghasilan Rp 15 Juta/Bulan

239
BERBAGI
"Kakek Winny the Pooh" (Dok Facebook Radio Suara Surabaya ).

BANDARLAMPUNG, Teraslampung.com– Ini sebenarnya kisah lumrah dan bisa terjadi di kota mana saja di Indonesia: seorang tua masih bekerja keras demi bisa menafkasi keluarganya.  Di kota-kota besar di Indonesia, termasuk di Bandarlampung, pemandangan serupa itu dengan mudah bisa kita jumpai.

Namun, menjadi lain kisahnya ketika ada seorang kakek renta yang berprofesi sebagai badut penghibur anak-anak dengan kostum Wiiny the Pooh–nama tokoh dalam kisah anak–kemudian diliput oleh wartawan sebuah stasiun radio ternama di Kota Surabaya. Menjadi heboh ketika kisah tentang kakek tua yang bikin haru itu kemudian diungah di media sosial Facebook dan Kompasiana.

Justru ketika ia makin terkenal dan makin banyak simpati itulah jati diri sang kakek itu terkuak. Fakta yang terkuak pun mengejutkan: kakek tua bernama asli Suadi itu berpenghasilan Rp 500 ribu/hari atau Rp 15 juta per bulan. “Hebatnya” lagi, kakek ini punya 7 istri.

Daniel H.T. seorang Kompasianer menulis kisah kakek tersebut dengan sudut pandang yang sangat bagus. Tulisan Daniel berjudul “Apakah Kakek “Winnie the Pooh” Masih Layak Dikasihani?” yang dimuat di Kompasiana pada 16 Juni 2015 itu hingga 17 Juni 2015 malam dibaca lebih dari 100 ribu orang.

Berikut lengkapnya:

 Apakah Kakek “Winnie the Pooh” Masih Layak Dikasihani?

Daniel H.T.

Bermula dari reportase Radio “Suara Surabaya” (SS) di fans page Face Book-nya (“E-100”), berdasarkan laporan beberapa pendengar SS, pada Minggu, 14 Juni 2015, seorang kakek yang mengaku bernama Suaedi, dalam tempo hanya dua hari mendadak mendapat perhatian dan simpatik dari ratusan ribu netizen, yang terharu dengan kondisinya yang mengenaskan.

Betapa tidak usianya di atas 70 tahun, posturnya kecil cenderung cebol, sedikit bungkuk, kulitnya berkeriput, berdasarkan pengakuannya: hidupnya sebatang kara, tanpa sanak-saudara, sudah dua tahun terkena penyakit stroke, namun demikian setiap pagi dari rumahnya di daerah Driyorejo, Gresik, sendirian dengan menggunakan angkutan kota, ia datang di kawasan bundaran tol Waru, depan Mall City of Tomorrow, Sidoarjo untuk mencari nafkah di jalanan Sidoarjo. Dengan langkahnya yang tertatih-tatih kakek Suaedi setiap hari berusaha menjalani profesinya sebagai pebadut dan penghibur anak-anak dengan kostum Winny the Pooh-nya.

Sampai saat saya menayangkan artikel ini di Kompasiana (pukul 23:48 WIB), sudah ada 200.790 likes, dan 40.302 yang meng-share berita tentang kakek ini.

Beragam komentar pun bermunculan, semuanya pada intinya menyatakan rasa haru, kagum dan simpatik kepada sang kakek.

Rio Fahmy Nugraha menulis: “Pernah aku Berhenti dan menanyai Bapak Suadi. Sambil berurai air mata aku bertanya ke beliau tepat Di depan Pizza Hut Sun City. Emang bener tinggal di Driyorejo. Aku pernah di doakan dengan beliau waktu itu. Setelah aku bersalaman dengan beliau dan memeluknya. Bapak Suadi tak mengemis, beliau berusaha menghibur anak kecil dengan kostumnya. Foto & kisahnya pernah aku posting di blog. Alhamdulillah Suara Surabaya membantu dengan memposting berita terbaru bapak Suadi dan berkoordinasi dengan Dinsos. Terlampir foto dengan beliau. Saya hanya bisa membantu sebisa saya dan hanya melalui berita. Mohon maaf Pak, saya belum bisa berbuat lebih. Tapi sekali lagi terima kasih untuk Suara Surabaya. Tetap Sukses……… ”

Note: Saya tidak berniat sedikitpun menjadi orang yang sok pahlawan & memanfaatkan situasi ini. Mohon pengertiannya agar tidak menjadi fitnah. Terima kasih teman-teman semua.”

Bram Yudhistiro menulis: “Kalau kebetulan lewat harap dibantu. Meskipun nggak banyak tp semakin banyak yg membantu kalau dikumpulkan sdh cukup membuat bapak ini bisa libur dan istirahat di rumah bbrp hari. Di daerah puncak permai jg saya pernah lihat ada bpk2 tua sepertinya stroke lumpuh separuh. Jalannya sangat perlahan dan susah berkomunikasi. Kasihan sekali. Sy berhenti dan kasih sedikit untuk sekedar makan bbrp hari. Semoga dia selalu lewat di jalan yg sama dan jam yg sama, jadi sy masih bisa membantu. Sy bukan org kaya tp sy tahu rasanya saat tdk punya uang.”

Arie Q-La Rohmania  menulis: “Saya kapan hari sempat ketemu bapak ini berjalan dengan gemetaran di sebelah RS. Delta surya..saya sempetin berhenti untuk memberi uang saku bapak ini untuk beli makanan, saat itu juga banyak pengendara lain yang juga ikutan berhenti memberi sedikit uang, ada ibu2 jual sayur juga memberi bubur kepada bapak ini..dengan lahapnya bapak ini memakan bubur didalam plastik itu..saya dan ibu jual sayur juga sempetin menghitung dan menata semua uang bapak ini yg saat itu ditaruh ditopinya..setalah menghitung saya taruh di saku bapak ini, dengan tujuan agar tidak diambil sama pemuda2 nakal..bapak ini bilang kalo dateng dari gresik, dan tidak punya siapa2..setiap kali kalau inget kejadian itu selalu nangis.. semoga bapak ini selalu dilindungi Allah SWT.”

Berdasar pemantauanya tentang kakek Suaedi itu, melalui Gate Keeper-nya, Suara Surabaya kemudian melakukan koordinasi dengan Dinas Sosial dan Tenaga Kerja (Dinsosnaker) Sidoarjo untuk mencari dan merawat kakek ini.

Namun, dari Dinas Sosial Kabupaten Sidoarjo itulah terungkap jati diri sebenarnya dari kakek Suaedi. Ternyata, ia tidak sebagaimana pengakuannya tersebut. Diduga ia rela melakoni pekerjaan dengan berkostum badut hanya modus, mengaku hidup sebatang kara, dan menderita stroke, agar banyak orang kasihan dan dirinya mendapat lebih banyak uang daripada jika hanya sekadar mengemis.

Menurut Merdeka.com, dari hasil investigasi Dinsosnaker Sidoarjo itu diketahui Suaedi ternyata tidak menderita stroke, ia bukan tinggal di Gresik, tetapi Mojokerto. Suaedi juga bukan seorang kakek yang hidupnya sebatang kara, sebaliknya ia punya lima orang anak, dan tujuh orang istri!

Dengan cara menampilkan diri sebagaimana digambarkan di atas, kakek Suaedi mengaku bisa memperoleh penghasilan sampai Rp. 500.000 setiap hari. Ia bahkan tak akan pulang sebelum mencapai penghasilan harian sebesar itu. Jadi, rata-rata sang kakek bisa berpenghasilan Rp. 15.000.000 per bulan!

“Dari hasil itu, dalam satu tahun dia bisa membeli rumah di Mojokerto, beli motor Yamaha Vixion dan motor matik. Istrinya saja ada tujuh. Katanya,  ‘Istri saya cuma tujuh saja.’ Cuma tujuh. Lho, ini bener dari pengakuannya sendiri,” kata seorang petugas Dinas Sosial Sidoarjo sambil tersenyum geli menirukan keterangan Suaedi.

“Memang kemarin dia mengaku istrinya ada tujuh. Waktu kita bawa kemarin, kan bukan hanya Suaedi, tapi istri ketujuhnya juga kita bawa. Entah istri-istrinya yang lain meninggal atau cerai, kita tidak tahu. Yang jelas, dia bilang istrinya tujuh,” kata Dayat, petugas Dinas Sosial Sidoarjo yang mendampingi Suaedi.

Menurut Dayat, saat Suaedi dibawa petugas Liponsos Sidoarjo pada Minggu kemarin, tiba-tiba seorang perempuan mengaku anak Suaedi berlari menghampiri petugas, dan mengatakan masalah itu.

“Pertama dia mengaku anaknya, tapi setelah kita desak ternyata mengaku istri ketujuh Suadi. Namanya Karsih. Jadi, Karsih ini memang mengawasi Suaedi dari jauh setiap hari. Dia tidak ikut berpakaian badut. Tapi dalam tasnya ada dua pakaian badut.”

“Setelah kita cek kesehatannya, dia enggak sakit. Senin kemarin (15/06), sekitar pukul 10.00 WIB, dia kita pulangkan. Sesuai KTP-nya, dia warga Mojokerto. Dia kita serahkan ke Dinsos Mojokerto. Dia juga dijemput satu dari lima anaknya,” kata Dayat, Selasa (16/06/2015). Nah, setelah terungkap jati diri sebenarnya dari sang kakek, bagaimanakah menurut Anda? Apakah ia masih tetap pantas menerima belas kasihan dan sedekah?

Jika ditilik dari sosoknya yang sudah renta, postur yang memang ringkih, cebol dan sedikit bungkuk, dan jelas sudah lemah dimakan usia itu, kakek Suaedi memang tetap saja layak dikasihani.

Soal bagaimana cara ia “menyamar” jadi pebadut berkostum Winny the Pooh, dengan latar belakang kehidupan sebatang kara yang terkena penyakit stroke, padahal ternyata tidaklah demikian. Sebaliknya, katanya, berpenghasilan rata-rata Rp. 500.000 per hari, punya lima anak, dan bahkan tujuh istri, punya sebuah rumah,  dan dua unit sepeda motor, itu bagaimana pendapat Anda?

Nanti, seandainya Anda kebetulan lewat dan menemui sang kakek di lokasi biasanya dia “berpraktek” di Bundaran Waru, Sidoarjo, dan sekitarnya, atau mungkin akan pindah lokasi di tempat lain, apakah Anda akan masih memberinya sedekah?

Catatan: netizen yang meng-“like” dan yang meng-share berita dari E100 tentang kakek Suaedi yang disebutkan di atas, kelihatannya belum mengetahui jati diri sesungguhnya dari sang kakek  sebagaimana diungkapkan Dinas Sosial Sidorjo tersebut di atas.  *****

Loading...