Kalianda, Aku Lapar…

  • Bagikan

Isbedy Stiawan ZS

SAYA beruntung punya karib di Kalianda. Dia Iwan J. Sastra, entah apa huruf “J” di tengah itu. Ssya juga tak mau mendekatkan pada buah “nujum” Acep Zamzam Noer, penysir yang nahdiyin dari Jawa Barat.

Acep pernah mengaskan, orang ysng menyingkat namanya di tengah sulit berkembang apatah lagi maju (baca: sukses). Lalu Acep menderetkan sejumlah nama, baik sastrawan maupun dari bidang lain: kebetukan saja cocok dengan apa yang dikatakan. Semoga saja Iwan J. Sastra pengecualian.

Kembali ke pokok masalah. Saya dan keluarga bahagia sekali seusai performan arts (baca puisi) di Panggung Apresiasi Malioboro Kalianda (MK) yang ditaja Komunitas Symfhoni Bangsa–disingkat KSB–saya ditawari Iwan mau mengantar ke pantai esok paginya, yaitu 1 Januari 2015. Oke sangat. Pilihan adalah Krakatoa Kahai Beach Kalianda, sekitar 7 km dari Kota Kalianda. Destinasi pariwisata ini baru dibangun. Malah belum siap pakai. Meski begitu,  pada hari pertama 2015 pengunjung sangat ramai.

Hanya menikmati pantai dan ombak, laut, dan kebiruaannya–cukuplah, walau keinginan berenang amatlah menggebu. Tetapi ombak nan besar, menciutkan pula rasa ingin itu.

Iwan J Sastra memang baik. Ia memahami gejolak hatiku. Dia tawarkan pemandian Way Belerang. Ini adalah pemandaian air panas yang bersumber dari panas bumi dan benar-benar mengandung belerang. Bergeraklah kendaraan kami ke Kota Kalianda. Sekira 7 km dari Krakatoa Kahai Beach menuju kota.

Sepanjang pesisir Kalianda warga memenuhi setiap lahan kosong tepi pantai. Baik yang sudah dikelola dan dipastikan ada tiket masuk maupun tempat wisata pantai yang gratis. Betapa kaya Kalianda akan sumber alam, khususnya pantai yang menawan. Sekiranya sepanjang tepi pesisir dibangun kafe, kedai, serta penginapan (hotel atau home stay) barangkali daerah ini akan tercipta kawasan objek wisata yang ramai pengunjung, sebagaimana Anyer di Provinsi Banten.

Di Pemandian Way Belerang pengunjung juga ramai. Ternyata tahun baru dirayakan warga seperti merayakan Lebaran Idul Fitri. Warga berjejal  di tempat-tempat hiburan rakyat tersebut.

Hampir magrib kami tinggalkan pemandian itu. Malam menjelang setiba di rumah. Perut pun bergolak, menyenandungkan lapar.

Selepas Isya kami keluar sekeluarga. Mencari makan malam. Sungguh sudah kami kelilingi Kota Kalianda, warung makanan langganan keluarga kawanku itu tutup. Beberapa lainnya yang masih buku, termasuk sate dan sop Madura sudah tak ada nasi.

Kota Kalianda seperti mati, 1 Januari 2015 pukul 21.05. Lapar kami kian menagih. Lama kami berpusing di kota kecil itu akhirnya keluar ke Jalan Lintas Sumatera menuju Bakauheni. Pilihannya ialah masakan Padang.

Ah Kalianda, aku benar-benar lapar malam itu….

  • Bagikan