Beranda Views Bahasa Kalimat Buntung dan Kata Gagah

Kalimat Buntung dan Kata Gagah

1238
BERBAGI
Oyos
Saroso H.N.

Bangsa Indonesia tak kurang ujaran untuk menggambarkan pentingnya bahasa. Salah
satu ujaran yang menjadi klasik adalah ”Bahasa menunjukkan bangsa”. Ujaran itu
berarti baik-buruknya (pemakaian) bahasa yang digunakan sebuah bangsa
menunjukkan tinggi-rendahnya (keluhuran) bangsa yang bersangkutan.

Ujaran itu kini barangkali sudah masuk ke keranjang sampah. Buktinya, betapa
banyak di antara kita yang tidak peduli terhadap pemakaian bahasa Indonesia
yang baik dan benar. Kerancuan berbahasa seolah dianggap kewajaran, sementara
dominasi bahasa Inggris dianggap sebagai kehebatan penuturnya.

Dalam praktek berbahasa sehari-hari sering kita jumpai bahasa yang jumpalitan
dengan makna yang tak jelas. Jangankan maknanya, subjek dan predikatnya pun
sering tak jelas. Ironisnya, praktek berbahasa yang buruk itu bukan dilakukan
oleh orang kampung yang memang tidak pernah belajar bahasa Indonesia di bangku
sekolah, tetapi oleh aparatur birokrasi dan para jurnalis.

Periksalah bahasa surat-surat resmi yang dibuat lembaga pemerintah. Di sana
akan kita jumpai pembukaan surat yang bertele-tele. Penuh basa-basi. Atau,
tengok pula bahasa media massa cetak kita yang berlumur dengan bahasa pasar
(bahasa gaul) dan kalimat sungsang.

Media massa termasuk salah satu penjaga bahasa resmi. Itulah sebabnya, banyak
perusahaan media massa mempekerjakan ahli bahasa Indonesia untuk menjadi editor
bahasa. Majalah Tempo, misalnya, dulu memiliki Slamet Djabarudi
yang piawai menganyam kata sehingga majalah Tempo enak dibaca. Majalah Info
Bank
 dan tabloid Kontan juga memiliki editor bahasa yang mampu
”menyulap” tulisan berbahasa njelimet menjadi tulisan yang enak dibaca dan
tetap memenuhi kaidah-kaidah bahasa Indonesia.

Menjadi aneh bin lucu jika media massa justru memberi contoh berbahasa yang
tidak baik. Mau bukti? Periksa judul berita berikut: ”Petugas KA Error Terancam
Dipecat”, ”Tetapkan Kasatker Definitif”, ”NMI Launching Nissan Livina”.

Memang kita seriang mendengar istilah human error, yang kurang lebih berarti
unsur kesalahan manusia. Namun, jika kata error juga dipakai untuk perugas
kereta api tentu menjadi wagu. Bisa-bisa nanti ada bupati error, gubernur
error, walikota error, dan sebagainya.

Judul-judul
berita semodel dengan ”Tetapkan Kasatker Definitif” sering dipakai dengan
alasan untuk menghemat ruang. Padahal, kalimat itu menjadi buntung karena tidak
jelas mana subjeknya. Sementara kata launching dalam ”NMI Launching Nissan
Livina” tampak betul kalau si penulisnya tidak berdaya menghadapi kuasa
kapitalisme. Saya katakan kuasa kapatilisme karena mungkin launching dianggap
lebih gagah dibanding peluncuran.

Berita-berita tentang bisnis di media lokal cetak selama ini berlemak istilah
asing. Masih wajar jika istilah itu memang tidak ada padanannya dalam bahasa
Indonesia (itu pun seharusnya si wartawan mencantumkan artinya dalam bahasa
Indonesia). Yang tidak wajar adalah jika pemakaian istilah asing itu untuk
gagah-gagahan, sehingga manajer operasional pun harus ditulis operational
manage
r, metalik abu-abu ditulis grey metalic, zona keselamatan
ditulis safety zone, dan sebagainya.

Demi menyelaraskan dengan sasaran pembacanya, kata-kata semacam ce, co,
perpus, gokil
, sering bertebaran di koran. Karena kemalasan membuka kamus
atau lantaran kebiasaan, kita juga sering menulis data-data dan kita-kita.
Padahal, kata data (dari kata datum) dan kita sudah menunjukkan jamak.

Kita marah besar ketika lagu Rasa Sayange, batik, dan seni reog diklaim sebagai
milik Malaysia. Tapi, kita lupa bahwa sebenarnya kita rakus juga. Buktinya,
semua kata yang berbau asing dengan lahap kita telan mentah-mentah.

Loading...