Kampanye Calon Lurah Desa Pleret: Ki Bendot Vs Ki Krempeng

Bagikan/Suka/Tweet:

Jauhari Zailani. 

Suatu hari, saya menghadiri sebuah pesta di Desa Pleret. Seperti pesta perkawinan, “pesta” itu meriah. Berjejer dua pasang “pengantin” di puade Balai Desa. Dua pasang laki-laki “gaek” bersanding di pelaminan. Maaf jangan ngeres dulu. Meski “pengantinnya” semuanya laki-laki, ini bukan perkawinan antara pasangan sejenis, tapi sepasang Calon Lurah.

Tampak dua pasang “pengantin” yang kontras. Pasangan Ki Krempeng digambarkan sebagai calon lurah yang tidak meyakinkan versus Ki Bendot yang amat meyakinkan. Ki Krempeng adalah seorang laki-laki berbaju kotak-kotak, wajahnya plengah-plengeh, clingak-clinguk tampak tak meyakinkan. Dengan wajah kupluknya, pakai istilah kata Soeyanto Soe, pada statusnya.

Sebelum menjadi calon lurah, ia sebagai kepala dusun di pusat desa Pleret. Wajah calon lurah yang berwajah “ndeso” itu berpasangan dengan “kakek-kakek” yang berwajah lucu. Wajah enerjik selalu tersenyum dan percaya diri. Kumisnya nampak selalu dirapikan, hampir menyerupai “kumis Jojon” yang fenomenal. Konon ia pendekar dari Kerajaan Bugis, sebuah negri di Ujung Timur Nusantara .  

Kontras dengan pasangan Ki Krempeng. Pasangan yang ini, nampak sempurna. Calon lurah yang “gagah dan kaya” kata Kang Amin membanggakan dan promosikan kelebihan calon lurahnya. Ki Bendot adalah, pensiunan satpam desa yang kemudian berjaya dengan aneka bisnis, aneka bidang dari kebun hingga kertas. Maklum saja kalo dia memiliki 100 kerbau yang mahal-mahal. Punya helikopter dan pesawat pribadi.

Ki Bendot, berbadan kekar,  wajahnya meyakinkan dengan sorot mata tajam. Menguasai sejumlah ilmu bela diri, dan menguasai ilmu pidato. Ia berpasangan dengan pendekar berambut “perak” dari negeri “Musi”. Tak kalah kaya dan hebatnya sang calon wakil ini. Sejumlah jabatan telah disandangnya, bakhan ia berbesan dengan “lurah mantan” desa Pleret itu.

Begitulah sekilas laporan “pandangan mata” suasana di balai desa, dan pasangan yang berada di pentas panggung utama. Reportase berlanjut pada suasana “pesta desa” di Balai Desa Pleret.  Orang-orang berjibun, menonton parade kampanye calon Lurah Desa Pleret. Orang-orang saksikan gerombolan berseragam itu, dan saksikan pembukaan kampenye Lurah. Acaranya dipandu oleh seorang “protokol” yang cantik dan bersuara merdu. Ketika mebuka acara sejenak hening, hadirin tepaku pada pandangan “indah” dan “desau merdu” suara sang protokoler ayu.

Setelah membuka acara dan aneka sambutan basa-basi, sampailah pembawa acara menyampaikan inti helatan hari itu yaitu, kampanye “..Calon lurah Desa Pleret”. Berdasarkan nomer urut, Ki Bendot dipersilahkan tampil pada kesempatan pertama. Suara merdu itu terdengar “Kepada calon lurah kita, kepada yang terhormat Ki Bendot untuk menyampaikan pidatonya.

Suara gemuruh hadirin menyambut. Di luar balai desa, orang-orang bertepuk tangan dan terdengar suara suit-suit bersahutan. Dengan tangkas Calon Lurah itu berdiri. Badan tegapnya membungkuk hormat ke arah podium kehormatan dan seluruh hadirin. Langkah gagahnya menuju podium, menawan hati hadirin. Ia melangkah yakin,  seraya melambai-lambaikan tangannya yang gempal ke segala arah. Tangannya berotot, memikat ibu-ibu muda. Senyumnya menawan di persembahkan ke segenap hadirin.

Di podium, ia berhenti sejenak. Diam berwibawa. Kepala, muka dan pandangannya bergerak menyapu seluruh hadirin yang hadir. Tenang. Setelah berdehem, Ki Bendot mulai berpidato “..Saudara-saudara, kita semua bersaudara. Pillur 2014 ini menentukan masa depan desa kita. Kewibawaan Desa Pleret ini harus dikembalikan. Dulu “eyang” Karno dan eyang Harto telah menjadikan desa Pleret sebagai “Macan Asia”. Kalo saudara-saudara percaya dan pilih saya menjadi lurah, saya akan menjadi lurah yang amanah”.

Sejenak ia menark napas, kemudian tangan kanannya menunjuk tegas. “Saudara semua akan saya buat menjadi orang kaya!. Saudara semua akan saya lindungi. Saudara tahu, di desa ini hanya saya dan temen-temen saya yang bisa menjaga ketertiban. Bahkan akan saya tertibkan agama”.

Sejenak hening, menyusul kemudian tepuk tangan membahana. Dari arah kanan sang Calur, kelompok orang bersorban dan berotot berteriak “Allahu Akbar”. Beberapa melempar sorban dan membuka peci putih “mengusap rambut dan kepala”. Rupanya, ada dua kelompok “pendekar” di belakang sang calon lurah. Dua kelompok yang amat di takuti di desa itu, kelompok “Front Polisi Iman” dan kelompok  “Forum Bareng-bareng Rembukan”.

Setelah hadirin jeda, Calur yang ganteng itu meneruskan. “Saudara-saudara, kita semua bersaudara. Meskipun kami bersaing, saya dan pak Krempeng ini, bersaudara. Kami berdua bersaudara, kita bersaduara. Karena itu dalam pemilihan Lurah pada tahun ini, saya serahkan keputusan pada rakyat. Kami akan menghormati apapun pilihan rakyat. Karena semua ini demi kejayaan desa kita”.

###

Menanggapi pidato Ki Bendot, wartawan bertanya pada pengamat. Pengamat itu dengan bahasa yang bagus uraikan amatan dan penilaiannya kurang lebih begini:  Ki Bendot yang tampil “prima”. Pakaian, tata lakunya, cara dan isi pidatonya, sungguh mengesankan.  Sang pengamat menyimpulkan “…dengan demikian, ki Bendot layak menjadi lurah Pleret. Rakyat dan masyarakat desa Pleret akan bangga jika memiliki pemimpin se hebat ki Bendot”.

Selain menilai penampilan Ki Bendot, sang pengamat juga menelisik penampilah Calon lurah Ki Krempeng. Dalam amatannya, Ki Krempeng kurang meyakinkan. Sebagai lurah, tak layak menjadi representasi dari masyarakat Desa Pleret. Penampilan Ki Krempeng yang berpakaian “kumuh” itu tidak pantas menjadi lurah Pleret. Lebih pantas sebagai “pelawak ketimbang lurah”. Tandas, Jajat Nurjaman nama pengamat itu.

###

Di luar balai desa terdapat sebuah “cakruk”, bangunan “pos jaga” . Bangunan kecil itu semacam balai gosip, asah-asih-dan asuh antar warga. Orang kaya memakai “Wachtup, facebook atau twitter”. Beberapa orang dengan pakaian “kumuh” berkerumun di atas “cakruk”. Ngomonganya pun tak beraturan, tapa argumen yang jelas. Aneka cletukan, cara orang desa berceloteh, jauh berbeda dengan bahasa pengamat yang “ndakik-ndakik”.

Mereka sedang membahas pidato calon lurah. Diantara orang-orang itu, nampak seorang yang menonjol dengan pakaian parlente. Dengan semangat ia promosikan Ki Bendot “Hebat betul pidatonya. Seperti Bung Karno hidup kembali…”. Seorang yang tampak tak sabar menyela dan ia berbicara pada yang lain, bukan pada si parlente “…Oh alah mas, kita ini sudah terlalu sering dibohongin”.

Penghuni “Cakruk” yang lain menyahut “…lho, kita ini mesti bangga dengan  pemimpin kita. Pilih yang cerdas, pandai pidato, yaitu Ki Bendot”. Dengan agak “slengekan” dijawab oleh yang lain “…ingat mas, kita ini sudah sering mendengar pidato pemimpin “Jarkoni”. Pandai ber”ujar”, pandai berkata-kata saja, tetapi tak pandai me”lakoni”, alias ”Omdo”. Pemimpin yang “omong doang”, tanpa bukti.

Segera yang lain pun menyahut. Agak kalem dibanding yang sebelumnya. “Kita ini orang desa, memiliki “ugem-ugem parikan” yang sudah kita lupakan”. Orang yang Jangkung sembari berdiri dan sampaikan pepatah berbunyi “tong kosong berbunyi nyaring”, orang yang banyak cakap, itu menunjukkan dirinya kurang cakap. Kurang ilmu. Yang lain “nyletuk” tanpa menunggu jeda dengan kutip bunyi pantun “air beriak tanda tak dalam”.

Di pojok, seseorang yang nampak disegani “warga Cakruk” menambahkan penjelasan “…Kita ini jangan menilai dari kulit luarnya saja, terus silau gitu, lho mas. Nanti salah pilih kita”. Bulan yang lalu, kita memilih kepala dusun di “Pekon” sebelah. Kemarin kita merasa tertipu dan silau oleh kandidat yang pandai orasi. Tapi buktinya, kita rasakan bersama. Lihatlah “jalan-jalan” di sekitar desa dan kecamatan kita. Semua “bonyok dan bingkas”. Pupuk dan bibit langka bin mahal. Sudahlah jangan salah pilih lagi pemimpin yang “Nato”. Pemimpin pandai ngomong saja, nanti kalau sudah menjadi lurah “No Action, talk only”. Tanpa bukti”.

Orang itu menutup kesimpulannya berkata lembut. “…Pengamat itu, meremehkan kecerdasan orang-orang “kumuh” macam kita ini. Dan lupa, kita ini, mungkin nampak bodoh dan tak cerdas secara “akademik’, tetapi percayalah kita ini memiliki cerdas “budaya” dan sudah pasti kita teramat cerdas pada “kebutuhan desa kita”.

Upacara “Kampanye Damai” di balai Desa bubar, sejurus kemudian orang-orang beranjak meninggalkan cakruk.