Beranda News Jiran Sumatera Kampanyekan Lingkungan Hidup, Hutan Tropis Band Hibur Wara Kampung 7 Ulu

Kampanyekan Lingkungan Hidup, Hutan Tropis Band Hibur Wara Kampung 7 Ulu

635
BERBAGI
Aksi Hutan Tropis Band di Kampung 7 Ulu Palembang (Ist)

PALEMBANG–Hujan yang turun dari siang hingga sore, Rabu (11/02/2015), membuat sebagian warga RT.52 dan RT.53 Kampung 7 Ulu Palembang kecewa. Sebab kelompok musik Hutan Tropis batal tampil. Namun, malamnya, mereka pun bergembira setelah Hutan Tropis menampilkan tujuh lagu yang bertemakan lingkungan hidup.

“Kita bersyukur sebab Hutan Tropis Band memilih kampung kita sebagai penampilan pertama mereka rangkaian pertunjukkan di sejumlah kampung dan dusun di Sumsel,” kata Hermawan, tokoh masyarakat Kampung 7 Ulu, saat memberikan sambutan sebelum penampilan Hutan Tropis.

Hermawan mengapresiasi lagu-lagu Hutan Tropis yang bertemakan lingkungan hidup. “Saat ini kita kangen lagu-lagu yang bertemakan lingkungan hidup. Kita banyak disodori lagu-lagu cengeng dan liriknya sama sekali tidak memberikan pendidikan. Lihatlah anak-anak kita yang kini tidak tahu lagi tahu lagu anak-anak di masa lalu yang banyak bicara soal alam,” katanya.

Hermawan pun menjelaskan kondisi Kampung 7 Ulu yang begitu kumuh, dan masyarakatnya sulit untuk hidup sehat. “Di kampung ini tidak ada bak sampah. Meskipun sudah berjalan lima kilometer, belum juga ditemukan bak sampah. Jadi jangan heran, jika sampah-sampah itu dibuang ke Sungai Musi. Air bersih pun sulit didapatkan, sebab biaya begitu mahal memasang instalasi PAM ke kampung ini. Ya, mudahan ke depan pemerintah memperhatikan kampung kita,” ujarnya.

Hutan Tropis yang tampil dengan Jemi Delvian (Vokalis & Gitar), Bowie (Bass), Iftah (Drum), Andi (Gitar) dan Wiwin (Gitar), membuka penampilan dengan lagu Kebun Terakhir, sebuah lagu yang mengisahkan seorang bapak menjual kebun terakhirnya kepada pengusaha batubara, meskipun istri dan anaknya tidak setuju.

Kemudian lagu “Beri Kami Sedikit Tanah”,  mengisahkan tentang petani atau warga desa yang menjadi korban penggusuran. Lagu ketiga “Kekasihku Cantik Berperahu”,  mengisahkan seorang lelaki kekasih kehilangan kekasihnya di dusun, karena dusunnya hilang digusur perkebunan.

Hutan Tropis membawakan lagu keempat berjudul “Naik-Naik ke Puncak Gunung”, sebuah lagu anak-anak yang cukup popular di era 1970-an hingga 1990-an. Kebetulan lagu ini merupakan lagu pertama yang dimainkan Jemi Delvian dengan gitarnya saat duduk di kelas satu sekolah dasar.

Lagu kelima, Hutan Tropis menampilkan lagu “Kincir” yang mengisahkan keberadaan kincir air di daerah Pagaralam dan Lahat, yang dikenal dengan nama Antan Delapan. Lagu ini semacam penghargaan bagi kincir yang berfungsi sebagai penggiling padi dan kopi, yang mana telah membuat dusun tetap hijau karena kincir tergantung dengan air, dan air tergantung dengan hutan, serta hasil dari tugasnya membiayai biaya keluarga petani serta menyekolahkan anak-anaknya.

Setelah Kincir, disajikan lagu “Rain Forest”, sebuah ungkapan mengenai hutan tropis atau hutan hujan yang merupakan paru-paru dunia. Jika hutan tropis rusak, maka dunia kehilangan sumber utama oksigen.

Selanjutnya, disenandungkan lagu “Balada Bujang Gambut”,  yang mengisahkan tentang kisah seorang perambah hutan di lahan gambut, yang kemudian menyesal setelah tahu dampaknya. Penutup, mengalun lagu “Bumi Bukan Hanya Hari Ini”. Lagu ini semacam mengingatkan semua manusia di dunia agar terus menjaga Bumi. Sebab Bumi bukan hanya untuk hari ini, juga untuk masa mendatang. Caranya? “Menunduklah, bersujudlah.”

Tujuh lagu “Hutan Tropis” tersebut merupakan karya Jemi Delvian dengan lirik yang ditulis sastrawan T.Wijaya.

“Kami bahagia dapat tampil di kampung ini. Kampung yang cukup tua, mungkin sejak Kerajaan Sriwijaya. Harapan kami, kampung ini akan terus terjaga, lingkungannya kian membaik, sebab inilah salah satu jejak sejarah kota Palembang. Semoga pemerintah menjadikan kampung ini jauh lebih baik kondisinya,” kata Jemi.

Di sela-sela penampilan Hutan Tropis, juga dilakukan kuis berupa pertanyaan kepada para penonton mengenai lingkungan hidup dan pejabat pemerintah terkait lingkungan hidup.

“Siapa nama Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI saat ini?” kata Anwar Sadat, Sekjen
Serikat Petani Sriwijaya (SPS), yang tampil sebagai pembawa kuis.

Seorang ibu langsung berteriak sambil mengancungkan tangan, “Siti Nurbaya!” Dia pun menerima sebuah CD lagu Hutan Tropis.

Selain Anwar Sadat, juga hadir pegiat lingkungan hidup seperti Gita Rolis dari Mahasiswa Hijau Indonesia (MHI) dan Rahmadi Syafa dari Mongabay Indonesia.

Seusai pertunjukkan para pegiat Hutan Tropis melakukan dialog dengan warga Kampung 7 Ulu. Dari dialog tersebut, tersimpulkan warga yang berada di tepian Sungai Musi tersebut ingin hidup sehat. Sanitasi yang baik, bebas dari sampah, dan tersedianya sumber air bersih.

“Kami ingin negara hadir di sini,” kata Hermawan, menirukan ucapan Presiden Jokowi saat berkampanye menjelang Pilpres 2014 lalu.*