Beranda Views Sepak Pojok KAMU MANUSIA INDONESIA?!

KAMU MANUSIA INDONESIA?!

294
BERBAGI

Uki Bayu Sedjati

“Mengindonesiakan manusia Indonesia?Judul apa ini? Gak jelas?” Sentak suara Bos membaca usulan saya tentang tema17-an besok.
            “Justru sangat jelas, Bos. Sebab,kita yang mengaku warganegara Indonesia sudah banyak yang keracunan produk-produk asing,”sanggah saya.
            “Soalnya kebanyakan makan bisa, jadi bias,”cetus teman saya, Dirun.
            “Bukan. Bisa sama dengan racun,bego,”sergah teman lain, Rudin.
            “Lihat di sekeliling kita,nasionalisme pada luntur, termasuk sampeyan,” saya langsung tunjuk hidung Bos, sengaja memancing emosi
            ”Apa? Kowe jangan macam-macam sama owe, ya?!Kowe bisa owe..,” dia terus nyerocos dengan nada tinggi. Maka saya kecilkan volume loudspeaker, karena pasti dia pidato panjang lebar, bela diri, mengelak dan menepis tudingan.

            “Psst, kamu gila yaa. Bos kamu tampar urusan nasionalisme,”bisik Dirun.
            “Iya, nih, cari perkara. Gak waras kalee..,”tambah Rudin.
            “Eh, asal tahu yaa. Saya bukan cuma menuding bos kita, tapi juga Bos-Bos lain, pejabat yang katanya terhormat. Katanya,katanya…faktanya, mana? Bahkan juga ke Bos Gede, juga ke sampeyan-sampeyan, kita semua. Paham!” Terpaksa saya blak-blak-an.

            Nasionalisme pejabat-pengusaha maupun pengusaha-pejabat keliwat tipis, malahan mungkin tak ada lagi bekasnya. Sebab orientasi mereka cuma duit, duit, duit. Proyek apapun disikat,  program dimanapun dilahap – saking tamaknya. Dengan duit segalanya bisa dibeli. Duit takmau tahu dengan nilai nasionalisme. Siapa saja, kapan saja, pakai duit bisa ke mana saja, di mana saja. Duit  tak kenal batasan wilayah Negara. Berapa trilyun duit rakyat Indonesia yang diterbangkan ke luar negeri? Jika dikritik segera mereka ucap-tuliskan seribu dalih mengelak /menangkis/menyerangbalik/me…..buat mereka: nasionalisme, prek!

            Maka supaya mengingatkan kita semua ihwal pentingnya nasionalisme, rasa memiliki Negara dan Bangsa. saya acung jempol buat stasiun TV yang kumandangkan lagu kebangsaan Indonesia Raya, stanza 1. Tayangan dengan rangkaian gambar snapshot kehidupan rakyat begitu menggugah. Tak apa-apa jika ada yang bilang desakralisasi  lagu kebangsaan. Sebab ini lagu karya WR Supratman, manusia Indonesia.  Ya,  lagu kebangsaan harus terus disosialisasikan –dengan cara bagaimana pun – agar merasuk dalam jiwa rakyat Indonesia.

            “Saudara-saudara sebangsa setanah air, saya mendengar ada isu sensitif, yaitu yang mempertanyakan nasionalisme kita, Dari sumber mana ini?!”
Bos Gede suaranya bergetar, seperti menahan emosi. Atau mungkin perangkat audio yang saya pakai untuk menyadap begitu peka. Di era digitalisasi yang makin canggih, rasanya tak ada tembok yang tak bisa ditembus.
            Bos saya memberanikan diri mengangkat tangan,”Maaf, BosDe, maaf. Betul, anak buah owe yang, eh, maaf, maksudnya saya, iyaa, dia yang sebarkan itu. Tapi dia sudah saya tangani..”
            “Coba jabarkan,,”perintah Bos Gede.
            “Anu, katanya, anu, kata..”
            “Katanya, katanya. Saya mau faktanya!” Sentak Bos Gede.
            “Iya, anu, BosDe, dia.. dia itu sebarkan kalimat atawa lirik lagu Indonesia Raya stanza dua..”
            “Stanza dua?” Bos Gede terdiam sejenak.”Oya,saya pernah tahu, tetapi..tak ingat lagi kalimatnya. Kamu ada, tho. Coba seperti apa?”

Indonesia Raya,
        (stanza II)
Indonesia tanah yang mulia, tanah kita yang kaya
Di sanalah aku berada, untuk s’lama lamanya
Indonesia tanah pusaka, p’saka kita semuanya
Marilah kita mendo’a, Indonesia bahagia
Suburlah tanahnya, suburlah jiwanya
Bangsanya, Rakyatnya semuanya
Sadarlah hatinya, sadarlah budinya
Untuk Indonesia Raya

            “Mmm, kalbu saya bergetar mendengarnya,”ujar Bos Gede tulus.”Kalian bagaimana?
            “Yaa, BosDe, kami gemetarr..”
            Huh. Heh. Aneh. Bos-Bos pejabat-pengusaha terhormat begitu kompak menjawab. Ada juga yang berbisik-bisik.
            “Bulu kuduk saya..”
            “Iya, merinding..”
            “Kenapa saya dag dig dug, ya?”
            “Saya mau nangis,” bisik seorang Ibu menahan isak.

            Bos Gede rupanya penasaran. Ihwal nasionalisme memang tak bisa ditawar-tawar.
            “Saya minta saudara panggil orang itu ke sini. Supaya bersama kita bisa..”
            “Maaf, BosDe, maaf, sebaiknya jangan, karena…,”sahut Bos saya
            “Apa? Jangan? Kenapa? Takut nasionalisme saudara terbongkar?!” Nada suara Bos Gede meninggi, tampaknya tersinggung.
            “Sebab, sebab…ada stanza ke tiga, yang juga..”
            “Stanza tiga? Putar. Segera!” PerintahBos Gede lantang.

Indonesia Raya,
        (stanza III)
Indonesia tanah yang suci, tanah kita yang sakti
Di sanalah aku berdiri, ‘njaga ibu sejati
Indonesia tanah berseri, tanah yang aku sayangi
Marilah kita berjanji, Indonesia abadi
S’lamatlah rakyatnya, s’lamatlah putranya
Pulaunya, lautnya semuanya
Majulah negrinya, majulah pandunya
Untuk Indonesia Raya

Tak ada komentar.
Bahkan tak ada suara orang. Hanya loudspeaker yang bunyi berdesis.

              Esok harinya semua mass-media mengedepankan head-line: Maklumat Bos Gede:
              “Mulai hari ini stanza dua dan stanza tiga lagu kebangsaan Indonesia Raya mesti dinyanyikan oleh warganegara Indonesia, di mana saja, kapan saja”.
              Merdeka! Paduan suara orang muda membahana, apalagi diiringi Idris Sardi, maestro biola Indonesia. Megah.
              Ramadhan bulan penuh ampunan dan barokah, memang.

 

A ilustrasi:paskibra.smkn6

            

(pernah dimuat rubrik BOS GEDE, tabloid O..posisi, pertengahan Agustus 2011, esai ini diunggah ulang – dengan beberapa tambahan – menjelang pengumuman resmi KPU tentang hasil Pilpres 2014, di bulan Ramadhan 1435 H.
Dan, berharap generasi masa kini bersemangat selalu mensosialisasikannya melalui media sosial : elektronik dan cetak) – uki bayu sedjati –

Loading...