Beranda Teras Berita Kamus Van der Tuuk Bisa Jadi Acuan Pembelajaran Bahasa Lampung

Kamus Van der Tuuk Bisa Jadi Acuan Pembelajaran Bahasa Lampung

26
BERBAGI

Oyos Saroso H.N./Teraslampung.com

Kees Groenberg mewakilo Duta Besar Belanda menyerahkan manuskrip kamus bahasa Lampung karya HN Van der Tuuk kepada masyarakat Lampung, yang secara simbolis diwakili Direktur LAZ Lampung Peduli Juperta Panji Utama, di Bandarlampung, Kamis (27/2).  Foto: Tri Sujarwo

Bandarlampung–Setelah lebih dari satu abad berada di Universitas Leiden, Belanda, kamus pertama bahasa Lampung yang karya HN Van der Tuuk diserahkan secara resmi diserahkan kepada masyarakat melalui Lampung Peduli. Penyerahan secara simbolis dilakukan di Hotel Emersia Bandarlampung, Kamis (27/2), dihadiri sejumlah pemangku kepentingan.

Dari 16 kepala daerah yang diundang panitia, hanya Bupati Tulangbawang Barat yang mengirimkan wakilnya. Acara penyerahan kamus bahasa Lampung itu dirangkaikan dengan pemutaran film “Risalah Van der Tuuk” dan dialog terbatas.

“Kami senang jika masyarakat Lampung sebagai penutur bahasa Lampung mempelajari dan mengembangkan kamus yang disusun Van de Tuuk,” kata Kees Groenberg,  mewakili Duta Besar Belanda untuk Indonesia, saat menyerahkan manuskrip kamus.

Penulis biografi Van der Tuuk itu  memberikan apresiasi kepada masyarakat Lampung yang peduli terhadap kamus bahasa Lampung karya Van der Tuuk.

“Tentu kami senang kamus pertama bahasa Lampung berada di tengah-tengah masyarakat Lampung,” kata Kees.

Beberapa peserta dialog juga menaruh harapan besar terhadap kehadiran kamus tersebut. Apalagi, Perpustakaan Universitas Leiden, sebagaimana diungkapkan Kees Groenberg, tidak akan menarik royalti seandainya kamus itu dicetak dan disebarluaskan.

Dr. Junaiyah H.M., linguis asli Lampung yang kini bekerja sebagai tenaga ahli di DPR RI, mengungkapkan kegembiraannya begitu mendengar salinan manuskrip kamus bahasa Lampung karya Van der Tuuk sudah berada di Lampung. Menurut Junaiyah,kamus karya Van der Tuuk bisa jadi bahan pembelajaran pengembangan bahasa Lampung, karena kamus tersebut merupakan kamus pertama berbahasa Lampung yang ditulis oleh orang asing.

“Apa pun latar belakang Van der Tuuk menyusun kamus itu, kita layak berterima kasih. Nah, sekarang ketika manuskrip kamus itu sudah ada di Lampung, pertanyaan besarnya adalah mau diapakan kamus ini? Kini bukan saatnya berdebat lagi, tetapi waktunya bekerja. Mari kita bekerja bersama-sama menyelamatkan dan mengembangkan bahasa Lampung,” kata dia.

Pensiunan Balai Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan itu mengakui kamus Van der Tuuk hanyalah sebagian kecil dari kekayaan budaya Lampung pada masa lalu. Menurut dia masih banyak manuskrip Lampung yang masih tercecer.

“Itu semua perlu didokumentasikan dan disebarluaskan kepada masyarakat Lampung. Sebagai orang Lampung asli saya sering miris ketika menghadapi kenyataan bahasa Lampung kurang mendapatkan tempat di Lampung. Dari Sumatera Barat hingga Lampung, hanya masyarakat Lampung yang tidak menggunakan bahasa Lampung dalam praktik berbahasa sehari-hari,” kata ahli bahasa Lampung dan staf ahli DPR RI yang sudah menyusun kamus bahasa Lampung itu.