Beranda Kolom Kopi Pagi Kanker, Bisnis atau Penyakit?

Kanker, Bisnis atau Penyakit?

1599
BERBAGI

Rudi Mathari

Seorang kawan telah mengirimkan tautan artikel kesehatan berjudul “A Secret Has Been Uncovered: Cancer Is Not A Disease But Business!” Penulisnya adalah Professor Nandita deSouza dari Universitas Cambridge di Inggris dan dia mengawali artikelnya dengan kalimat pembukaan “Anda mungkin tidak percaya, tapi kanker bukanlah penyakit. Itu adalah bisnis.”

Intinya, profesor itu menjelaskan tidak ada penyakit yang disebut kanker. deSouza mengingatkan, buku berjudul “Dunia Tanpa Kanker” hingga sekarang dicegah [oleh tangan-tangan tersembunyi] dari upaya penerjemahan ke banyak bahasa dunia, karena memang tidak ada penyakit yang disebut kanker itu. Apa yang kemudian dicap sebagai kanker hanya fase ketika tubuh kekurangan vitamin B17. Tidak ada penyebab lain. Dia karena itu mengingatkan untuk tidak melakukan kemoterapi, operasi, atau mengonsumsi obat-obatan yang justru akan menimbulkan efek samping pada tubuh.

Di bagian lain artikelnya, deSouza menjelaskan cara mendapatkan asupan vitamin B17. Antara lain dengan memakan 15-20 biji buah aprikot setiap hari atau makan kecambah gandum. Kecambah gandum adalah obat anti-kanker yang ajaib, merupakan sumber makanan yang kaya oksigen cair dan mengandung materi anti-kanker yang sangat kuat bernama laetrile. Nama yang disebut terakhir, juga terdapat di dalam biji buah apel dan merupakan ekstraksi dari vitamin B17 (amygdalin).

Dia menjelaskan, industri obat Amerika telah membuat aturan hukum yang melarang produksi laetrile, tapi obat ini diproduksi di Meksiko dan diselundupkan ke Amerika Serikat. Dr Harold W. Manner, dalam buku “Death of Cancer” menyatakan bahwa keberhasilan pengobatan kanker dengan laetrile mencapai tingkat kesuksesan di atas 90%.

Artikel deSouza yang dimuat di “newsrescue.com” dan “urbanatural.in” ini memang provokatif, tapi sejak lama saya tidak percaya akan kanker, tumor dan sebagainya itu. Saya ingat, cerita tentang apa yang disebut sebagai penyakit scurvy yang di zaman pertengahan merenggut nyawa para pelaut. Awalnya penyakit itu disebut berbahaya dan sejumlah perusahaan obat mengambil keuntungan besar dawi wabah itu. Belakangan, apa yang disebut scurvy tak lebih dari semacam kudis. Gejalanya, seperti peradangan, disebabkan karena kekurangan vitamin C, dan itu tentu saja bukanlah penyakit.

Agustus tahun lalu, saya hadir di acara diskusi terbatas di UGM yang dihadiri para dokter dan ahli kimia nano. Salah satu pemateri menjelaskan tentang salah kaprah tentang penyebab osteoporosis, kerapuhan tulang itu, telanjur dipercaya oleh publik: kekurangan kalsium. Orang yang di masa mudanya kurang asupan putih telur, kurang minum susu dan lain lain adalah mereka yang dianggap pantas bila di masa tua mereka mengalami osteoporosis. Dan seperti itulah anggapan publik terhadap osteoporosis yang kemudian berkembang bahkan hingga sekarang. Tak bisa dibantah lagi hingga lima tahun lalu, seorang dokter yang penasaran membuktikan ketidakbenaran anggapan tersebut.

Dia dokter Indonesia. Seorang dokter ahli bedah tulang yang pada suatu hari menghadap Prof. Dr. Sutiman, guru besar biomolekuler Universitas Brawijaya Malang, karena akan melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi dan berharap Sutiman bersedia menjadi profesor pembimbingnya. Sutiman setuju tapi dengan syarat: ada penemuan baru. Si dokter pun setuju.

Dia membawa Sutiman ke rumahnya dan ditunjukkanlah koleksi serpihan-serpihan tulang yang disimpannya dengan rapi. Itulah serpihan-serpihan tulang dari para pasiennya; pria-wanita, anak-anak-dewasa, osteoporosis- dan yang bukan osteoporosis. Sutiman segera tertarik dan lebih tertarik lagi ketika mahasiswanya itu mengajukan hipotesis: tulang keropos [osteoporosis] bukan disebabkan oleh kekurangan kalsium.
Singkat cerita, mereka lalu berangkat ke Jepang untuk menguji beberapa serpihan-serpihan tulang itu di sebuah laboratorium. Hasilnya: tulang yang sebelumnya dilabeli sebagai osteoporosis dan kekurangan kalsium, ternyata mengandung jumlah kalsium yang jutsru jauh lebih banyak ketimbang tulang yang sebelumnya dianggap tidak osteoporosis.

Temuan itu niscaya mengejutkan. Sebuah forum atau dewan kedokteran di Eropa bahkan sempat menolak temuan itu karena tidak percaya atau telanjur percaya dengan hasil penemuan sebelumnya: osteoporosis karena kurang kalsium. “Tidak mungkin. Anda serius dengan temuan Anda?” Begitulah kira-kira mereka bertanya untuk mengatasi rasa keheranan mereka atau mungkin malah rasa “ketertinggalan” mereka.

Sutiman dan dokter ahli bedah tulang itu tak puya pilihan selain mempersilakan mereka untuk menguji. Keduanya juga memberi kesempatan kepada mereka hingga lima tahun untuk membuat bantahan atas “temuan” itu, dan sampai sekarang belum ada bantahan apa pun dari mereka.

Cerita itu disampaikan Profesor Sutiman sebagai salah satu contoh bahwa anggapan bisa jadi lebih dipercaya dibandingkan hasil penemuan yang membuktikan anggapan tersebut keliru. Dan anggapan semacam terjadi di mana-mana termasuk soal kanker, tumor dan sebagainya.

Saya tak hendak mengajak orang untuk percaya dengan isi artikel deSouza yang menyatakan kanker itu adalah kebohongan, penjelasaan ilmiah Dr Harold W. Manner tentang pengobatan kanker dengan laetrile, atau penemuan Prof. Dr. Sutiman tentang osteoporosis, juga Dr Gretha Zahar yang menemukan pengobatan kanker atau tumor lewat tembakau. Saya yang divonis konon mengidap tumor juga bukan hendak menghibur diri.

Saya hanya ini berbagi bahwa akan selalu ada sisi lain dari semua hal yang telanjur dianggap sebagai penyakit yang menakutkan dan konon mematikan, meski suara atau penjelasan dari sisi lain selalu minor dan dibungkam. Dan suara dari sisi lain mestinya penting untuk didengar, untuk diketahui. Lebih dari itu, sudah jadi watak saya untuk selalu berpihak atau percaya pada segala sesuatu yang menentang “arus besar” anggapan.

Dua tahun lalu, ketika pada suatu siang saya terdampar di sebuah rumah di Jalan Imam Bonjol, Jakarta yang tak jauh dari Kantor KPU, saya mendapati orang-orang yang telanjur divonis mengidap kanker termasuk Ria Irawan. Ariyanti Baramuli, si pemilik rumah menghibur orang-orang itu. Dan dengarlah apa yang disampaikan kepada orang-orang yang sebagian hadir dengan wajah putus asa itu: “Ibu-ibu tak perlu kuatir. Kanker bukan penyebab kematian. Orang mati, karena kontraknya di dunia memang sudah berakhir.” Dan dia benar.

Soal mati, semua orang akan mengalaminya. Tidak bisa dibantah lagi. Tapi tentu bukan kanker atau tumor itu yang menyebabkan dan menentukan seseorang mati.

Selamat berlibur. Jaga kantong dompet Anda. Jangan sampai terkena kanker.

Loading...