Beranda Hukum Kapolda: Tarmuzi Meninggal Bukan karena Kekerasan Polisi

Kapolda: Tarmuzi Meninggal Bukan karena Kekerasan Polisi

246
BERBAGI
Kapolda Lampung Brigjen Edward Syah Pernong menerima Karti (istri) Tarmuzi dan keluarganya di Mapolda Lampung, Sabtu (23/10).

Zainal Asikin/Teraslampung.com

BANDARLAMPUNG-Pupus sudah harapan Karti, istri Tarmuzi, untuk mendapatkan perlindungan dan keadilan dari Kapolda Lampung Brigjen Edwars Syah Pernong. Itu setelah Kapolda Lampung menegaskan bahwa meninggalnya Tarmuzi (33) ,warga Pemerihan, Kecamatan Bengkunat Belimbing, Pesisir Barat bukan dikarenakan kekerasan anak buahnya. Menurut Kapolda, Tarmizi meninggal karena  kecelakaan lalu lintas saat menghindari polisi yang sedang menggelar razia kendaraan.

Meski begitu, Kapolda menyatakan pihaknya tetap akan menindaklanjuti laporan dari keluarga Tarmuzi, Suparto dan Samingun yang mengaku menjadi korban salah tangkap dan kekerasan yang dilakukan oleh angota polsii.

“Apa pun itu bentuknya yang namanya laporan masyarakat, harus diterima dan layani. Karena Laporan mayarakat itu adalah, salah satu koreksi untuk kita segera ditindaklanjuti. Dengan kasus ini, intelejen juga sudah diturunkan  mencari motifasi-motifasi apa yang dimunculkan kok tiba-tiba begini,”kata Edward, Sabtu (24/10).

Edward mengutarakan, Tarmuzi ini merupakan salah satu terduga sebagai pelaku pembunuh gajah Yongki yang ada di Taman Nasional Bukit Barisan (TNBBS) belum lama ini. Dari hasil penyelidikan petugas, pelaku pembunuh gajah Yongki mengarah kepada Tarmuzi dan rekan-rekannya.

“Tarmuzi merupakan sebagai sindikat penjualan gading gajah, polisi sebelumnya sempat menggrebek rumah Tarmuzi. Namun saat digerebek, Tarmuzi sudah tidak ada,”ujarnya.

Pada saat dilakukan penggeledahan dirumahnya, lanjut Edward, ditemukan beberapa barang bukti. Seperti gergaji, lima butir peluru, beberapa butir selongsong, mata bor dan genset. Selain itu juga, ditemukan alat setrum listrik milik Tarmuzi di rumah temannya dan 70 butir peluru aktif.

“Dengan ditemukannya barang bukti itu, polisi mencari keberadaan Tarmuzi hingga keluar Lampung. Petugas mendapatkan informasi, bahwa Tarmuzi berada di daerah Bengkulu,”terangnya.

Pada saat polisi sedang menggelar razia kendaraan, melihat ada dua pengendara motor yang berusaha melarikan diri. Saat dikejar, keduanya terjatuh dari sepeda motor.

Ternyata yang terjatuh dari motor itu, adalah Suparto bersama Tarmuzi terduga pelaku yang sedang dicari oleh polisi.

“Saat terjatuh dari motor, Tarmuzi masih sadar dan bisa bicara dan berjalan. Taklama kemudian, Tarmuzi muntah-muntah dan petugas sempat membawa Tarmuzi ke Puskesmas terdekat. Tapi petugas di Puskesma sudah tidak ada. Gegarotaknya Tarmuzi ini bisa saja dikarenakan terjatuh dari sepeda motor sampai muntah-muntah”jelasnya.

Polisi kemudian membawa Tarmuzi ke Polsek, sesampainya di Polsek petugas memanggil bidan setempat untuk mengecek kondisi dari Tarmuzi. Karena kondisinya lemah dan tidak memnungkinkan, petugas membawa Tarmuzi ke RSUD Liwa untuk diberikan perawatan medis.

“Jadi bukannya polisi ini tidak menghubungi pihak keluarganya. Mereka sudah mencoba menghubungi keluarganya. Tapi pihak keluarga Tarmuzi baru datang setelah Tarmuzi dirawat selama dua hari di Rumah Sakit di Liwa. Meninggalnya Tarmuzi, karena adanya benturan keras dikepalanya yang diakibatkan jatuh dari sepeda motor,”ungkapnya.

Dikatakannya, begitu kami mendengar adanya laporan dan indikasi adanya kekerasan polisi terhadap Tarmuzi, tim dari Propam langsung diturunkan dan bergerak kesana Kapolres setempat juga turun, intel bahkan Direskrim juga langsung turun kelokasi.

“Kalau katanya ada penganiayaan, ya silahkan saja dan itukan versi mereka kalau beranggapan seperti itu. Saya sendiri, sebenarnya tidak ingin Tarmuzi ini meninggal dan harus tetap sehat,”ujarnya.

Menurut Kapolda, Tarmuzi ini merupakan kunci untuk bisa mengungkap para pelaku dan jaringan lainnya. Karena dari dia (Tarmuzi), bisa mengungkap jaringan yang mungkin bisa saja lebih besar.

“Apalagi sampai ke daerah Bengkulu, siapa sebenarnya jaringan pelaku dengan kematian gajah Yongki ini,”tandasnya.

Diberitakan sebelumnya, Tarmuzi (33)  warga Pemerihan, Kecamatan Bengkunat Belimbing, Pesisir Barat meninggal dunia di Rumah Sakit Abdoel Muluk (RSUAM), pada Jumat (23/10) sekitar pukul 06.00 WIB.

“Suami saya meninggal Jumat (23/10) pagi tadi, dia (Tarmuzi) mengalami gegarotak cukup parah dan sempat sekarat selama delapan hari di Rumah Sakit,”kata Kari istri Tarmuzi kepada wartawan di Mapolda, Jumat (23/10)

Pihak keluarga mengatakan meninggalnya Tarmuzi diduga akibat kekerasan yang dilakukan oknum anggota kepolisian Polres Lampung Barat hingga mengalami gega rotak. Akibat luka tersebut, Tarmuzi koma selama tiga hari di RSUAM akibat kekerasan tersebut. Polisi menduga, bahwa Tarmuzi terlibat dalam kasus pembunuhan gajah Yongki di Taman Nasional Bukit Barisan (TNBBS).