Beranda Hukum Kapolda Lampung Minta Kasus Dugaan Pemukulan oleh Oknum Sabhara Harus Segera Diungkap

Kapolda Lampung Minta Kasus Dugaan Pemukulan oleh Oknum Sabhara Harus Segera Diungkap

81
BERBAGI
Kapolda Lampung Brigjen Ike Edwin

Zainal Asikin|Teraslampung.com

BANDARLAMPUNG – H Muchlis S.H., warga Bandarlampung, mengadukan kasus yang dialaminya kepada ke Kapolda Lampung Brigjen Pol Ike Edwin di kantor nomaden di Terminal

Rajabasa, Bandarlampung, Kamis (19/5/2016). Dalam pegaduannya Muchlis mengungkapkan bahwa anaknya menjadi korban penganiayaan oknum Sabhara Polda Lampung beberapa bulan lalu.

“Meskipun anaknya sudah melapor ke kepolisian, hingga kini penanganan kasusnya tidak jelas. Saya mohon ada kejelasan kasus yang dialami anak saya,”kata H Muchlis di hadapan Kapolda Lampung, Brigjen Pol Ike Edwin, Kamis (19/5/2016).

Muchlis menceritakan, pada 20 November 2015 anaknya ditelepon oleh temannya yang dikenal dari media sosial yang merupakan seorang oknum polisi berinisial YO. Lalu oknum polisi tersebut, mengajak untuk bertemu dengan anaknya.

Setelah bertemu dengan oknum polisi itu, kata Muchlis, kemudian anaknya dibawa pergi oleh  empat orang yang tidak dikenal menggunakan dua sepeda motor. Saat dibawa dengan sepeda motor, anaknya duduk di tengah dan dibawa ke suatu tempat oleh  mereka. Di tempat itulah, kata Muchlis, anaknya dipukuli hingga  luka memar pada bagian pipi dan kepalanya.

“Saya sudah melaporkan kejadian ini ke Polda Lampung, namun diarahkan ke Polresta Bandarlampung. Tapi sejak dilaporkan kasus itu, hingga sekarang belum ada tindaklanjut dan oknum polisi Sabhara itu belum juga ditangkap,”ungkapnya.

Menanggapi pengaduan dari Muchlis, Kapolda Lampung, Brigjen Pol Ike Edwin meminta Polresta Bandarlampung agar memberikan penjelasan, terkait kasus dugaan pemukulan yang dilakukan oknum Sabhara. Selain itu juga, sudah sejauh mana tindaklanjut mengenai perkaranya.

Kasat Reskrim Polresta Bandarlampung, Kompol Dery Agung Wijaya mengatakan, pihaknya sudah menangani perkara teresebut, setelah mendapatkan laporan dari keluarga korban. Yakni dengan melakukan gelar perkara, dan pra rekontruksi di lokasi TKP.

“Hasilnya belum ditemukan adanya kecocokan. Meski demikian kami masih melanjutkan prosesnya untuk mengungkap perkaranya,”ujar Dery.

Dery mengutarakan, dari hasil gelar perkara dan pra rekonstruksi serta keterangan pelapor, tidak cocok atau kesingkronan. Salah satunyaadalah, tempat kejadian perkara (TKP) dilokasi peristiwa pemukulan.

“Kejadian pemukulannya bukan di asrama, melainkan di salah satu gang tepatnya di belakang Kantor Gubernur. Dari keterangan pelapor, ada dua saksi yang ditunjuk pelapor bernama Rizki dan Ida. Kedua saksi itu, sudah dimintai keterangan,”terangnya.

Dari hasil keterangan saksi Rizki, kata Dery, tidak melihat adanya kejadian namun hanya mendengar suara keributan. Sedangkan keterangan dari saksi Ida, bahwa saksi tidak mengenal pelapor (korban).

“Saksi Ida hanya memberikan air untuk mengompres luka memar yang dialami korban,”terangnya.

Mendengar penjelasan tersebut, Kapolda Lampung Brigjen Pol Ike Edwin menyatakan bahwa tidak mungkin korban melapor jika tidak ada peristiwanya. Begitu juga dengan orang tua korban, Muchlis yang datang melapor saat ini.

Menurut Kapolda. mereka tidak gila sehingga sembarangan melapor. Jika laporan itu tidak benar, kata Kapolda,  maka mereka akan menerima sanksi.

“Saya perintahkan Direskrimum dan Propam, segera menindaklanjuti perkaranya dan harus bisa diungkap dalam waktu satu minggu,”tegasnya.