Beranda News Pusiban Kapolda Lampung ‘Nanggap’ Wayang Kulit Semalam Suntuk dengan Lakon “Karna Tanding”

Kapolda Lampung ‘Nanggap’ Wayang Kulit Semalam Suntuk dengan Lakon “Karna Tanding”

370
BERBAGI
Sebelum perelaran wayang kulit dengan lakon "Karna Tanding" dimulai, Kapolda Lampung, Brigjen Pol Edward Syah Pernong memberikan wayang tokoh narapati Basukarna kepada Ki Dalang Supardi Romo Putro, Rabu makam (6/1).

Zainal Asikin | Teraslampung.com

BANDARLAMPUNG – Kepolisian Daerah (Polda) Lampung  menggelar pertunjukan wayang kulit semalam suntuk  dengan lakon “Karno Tanding” di Lapangan Mapolda Lampung, Rabu-Kamis  dini hari(6-7/1/2016).

Pagelaran wayang kulit dengan dalang Ki Supardi Romo Putra dari Ambarawa, Pringsewu, itu dimaksudkan untuk menyampaikan pesan dan menggunggah semangat anggota Polda Lampung dan masyarakat melalui kesenian daerah.

Kapolda Lampung, Brigjen Pol Edward Syah Pernong saat memberikan sambutan tampak fasih menceritakan filosofi wayang kulit dan lakon “Karna Tanding”.

“Kebudayaan dapat menyatukan manusia yang cukup beralasan, kebijakan, keharmonisan dan kehormatan. Itu semua adalah, bagian dari produk manusia dan secara umum agar selalu mendapat tempat yang mulia,”kata Edward, Rabu (6/1/2016) malam.

Dikatakannya, bahwa di negara Indonesia ini, salah satu budaya yang diidentikan dengan budaya dari suku jawa adalah pewayangan. Menurutnya, bahwa wayang merupakan sebagai kultur bangsa Indonesia dan mempunyai nilai-nalai filosifis yang tinggi. Dalam pewayangan tersebut, banyak mengisahkan dan membedakan mana yang hak dan yang batil.

“Kegiatan wayangan  ini untuk memberikan motivasi kepada seluruh anggota Polda Lampung guna melestarikan budaya yang ada di Indonesia. Selain itu juga, agar memiliki spirit perjuangan yang tinggi, keberanian, kesetiaan, akhlak, kehormatan, pengorbanan, sebagai pengayom masyarakat,”ujarnya.

Edward mengatakan dari banyak kisah  pewayangan, ia sengaja memilih lakon “Karna Tanding”. Menurutnya, lakon tersebut memiliki penghayatan yang paling dalam hingga nilai filosifinya.

Jenderal Bintang Satu ini mengisahkan kilas cerita Adipati Karna, bahwa Karna merupakan sosok kesatria panglima yang setia, terhormat serta bertanggungjawab dalam melaksanakan kewajibannya sebagai kehormatan yang tinggi.

Selain itu Karna adalah sebagai panglima perang dari Astinapura, meski tahu betul yang dilawannya kebenaran yang tidak mungkin dikalahkan dengan kejahatan.

Namun, sebagai seorang satria Karna membela demi kehormatan negara karena itu adalah di atas segalanya. Sifat seorang anak bangsa yang mempunyai semangat juang yang tinggi, dan kecintaannya terhadap tanah  airnya adalah sebuah karakteristik yang muncul di dalam cerita “Karna Tanding”.

“Adipati Karna ini adalah sebagai sosok yang terhormat, cerita inilah yang membuat dirinya sangat mengidolakan sosok Karna dan selalu dibawa didalam kesehariannya,”kata Kapolda.

Dikatakan juga, Karna merupakan putra dari Kunti dan saudara dari para Pandawa, karena Adipati Karna tinggal di Astinapura bersama keluarga Kurawa membuat Karna merasa dihargai dan merasa hutang budi terhadap keluarga Kurawa dibandingkan dengan saudara-saudaranya Pandawa.

“Dari lakon Karna Tanding ini, dapat diambil intisari suatu filosofi tentang rasa cintanya kepada tanah air dan kesetian terhadap tugas dan kewajiban yang tidak bisa ditawar lagi,”terangnya.

Pada kesematan itu Edward berharap nanti setelah dirinya digantikan Kapolda yang baru Brigjen Ike Edwin program-program Polda Lampung akan makin sukses.

Hadir dalam pagelaran wayang kulit semalam suntuk tersebut, Forkopimda Provinsi Lampung, Bupati, seluruh pejabat utama Polda Lampung, Kapolres Jajaran, Danrem 043 Gatam, Ketua DPR Lampung, mantan Rektor Unila Prof. Sugeng P. Haryanto, para tokoh adat, tokoh agama dan para tamu undangan lainnya.