Kapolda Polda Lampung : Tangkap Dua Buron Kasus Gratifikasi RSUD Bob Bazar!

  • Bagikan
Kapolda Lampung Brigjen Pol Sudjarno memberikan keterangan kepada para wartawan di Mapolda Lampung, Selasa (18/10/2016).

Zainal Asikin|Teraslampung.com

BANDARLAMPUNG — Kasus dugaan gratifikasi pengadaan alat kesehatan (Alkes) dan kedokteran Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bob Bazar, Kalianda, Lampung Selatan senilai Rp 2 miliar tahun 2015, mendapatkan perhatian serius Kapolda Lampung, Brigjen Pol Sudjarno. Keseriusan itu setidaknya dibuktikan dengan upaya keras untuk segera menangkap buron dalam kasus tersebut.

“Saya sudah perintahkan anggota (Polda Lampung) untuk segera menangkap dua buronan kasus gratifikasi RSUD Bob Bazar tersebut,”tegas Sudjarno, Selasa (1/11/2016).

Dikatakannya, saat ini anak buahnua masih mencari dua buronan kasus dugaan korupsi proyek Alkes RSUD Bob Bazar Kalianda, yakni Subadri Tholib dan Sutarman.

“Kami berusaha keras untuk menuntaskan kasus- kasus yang belum terselesaikan,” katanya,

Diketahui, dalam kasus tersebut, penyidik Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Lampung telah merampungkan berkas perkara kelima tersangka. Namun dari kelima tersangka, penyidik Ditreskrimus Polda Lampung masih memiliki pekerjaan rumah. Sebab, masih ada dua tersangka, Subadri Tholib dan Sutarman (keduanya rekanan), yang melarikan diri saat akan dilimpahkan ke Kejaksaan Tinggi (Kejati) Lampung.

Pelimpahan itu dilakukan karena berkas perkara kasus gratifikasi RSUD Bob Bazar sudah dinyatakan lengkap (P21).

Pada saat akan dilimpahkan, kelima tersangka tidak memenuhi panggilan penyidik. Penyidik sudah dua kali melayangkan surat panggilan. Namun kelima tersangka tidak juga memenuhi panggilan. Hingga akhirnya, penyidik mengeluarkan surat penetapan DPO terhadap kelima tersangka.

Setelah diterbitkan surat penetapan DPO, ketiga tersangka Armen Patria (mantan Direktur RSUD Bob Bazar), Joni Gunawan (PPTK) dan Robinson Sahroni (rekanan) menyerahkan diri ke Polda Lampung, pada Senin (19/9/2016). Saat itu juga penyidik melimpahkan ke Kejaksaan, setelah dilakukan pemeriksaan tersangka langsung dilakukan penahanan di Rutan Way Hui.

Dalam perkara tersebut, para tersangka dijerat Pasal 5 ayat (2) sub Pasal 12 huruf b tentang gratifikasi UU No 31 tahun 1999 jo UU No 20 tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi.

Dua tersangka kabur diduga lantaran ada seseorang yang telah menyuruhnya. Pihak yang menyuruh diduga ‘orang kuat’ yang sudah cukup dikenal di kalangan yang berhubungan dengan kasus hukum di Lampung.

‘Orang kuat’ tersebut diduga yang meminta agar para tersangka bersembunyi dan tidak datang untuk memenuhi panggilan penyidik saat pelimpahan tahap dua. Hal tersebut  dikatakan Dian Hartawan selaku kuasa hukum Armen dan Joni.

“Klien saya bukannya kabur atau tidak mau datang penuhi panggilan penyidik. Mereka tidak datang, lantaran ada suruhan dari seseorang jadi mereka ini tidak tahu apa-apa,”ujar Dian saat pelimpahan tersangka di Kejati Lampung beberapa waktu lalu.

Menurutnya, Armen dan Joni tidaklah ke mana-mana, apalagi melarikan diri. Selama ini, mereka tetap berada di Bandarlampung.

Saat disinggung apakah orang yang menyuruh para tersangka, untuk tidak datang penuhi panggilan penyidik Polda Lampung adalah kuasa hukum para tersangka sebelumnya, Dian enggan menyebutkan siapa orang tersebut.

“Yang jelas adalah orangnya, saya tidak perlu sebutkan siapa orang itu pasti nanti juga tahu,”ucapnya.

Dian menuturkan, dirinya ditunjuk sebagai pengacara Armen dan Joni baru, setelah diminta oleh pihak keluarganya. Hal Itu terjadi, setelah ada pengalihan kuasa dari pengacara sebelumnya. Selanjutnya, mereka mau datang dan menyerahkan diri.

  • Bagikan