Beranda Views Kopi Pagi Karangan Bunga

Karangan Bunga

642
BERBAGI
Aneka karengan bunga untuk Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang baru saja kalah dalam Pilgub. (Foto: Medy Loekito)

Suryadi Sunuri*

Kebiasaan mengirim karangan bunga bungkin diadopsi oleh bangsa Indonesia dari bangsa asing, lantaran kenyataan sehari-hari dalam kehidupan bangsa Indonesia menunjukkan bahwa bunga bukanlah bagian integral dari kehidupan sehari-hari mereka. Boleh dikata rumah-rumah orang Indonesia rada kering, untuk tidak mengatakan jauh, dari bunga. Yang sering terlihat di rumah-rumah orang Indonesia paling banter hanya bunga plastik, bunga palsu. Walau bagaimanapun, tentu ada pengecualian. Di rumah-rumah orang kaya, misalnya, lapisan yang tipis dalam mayoritas bangsa Indonesia yang jumlahnya lebih dari 250 juta jiwa itu, mungkin kita bisa melihat bunga di jambangan yang ditaruh di ruang tamu atau dipelihara di halaman rumah.

Akan tetapi sejak Zaman Reformasi bergulir, budaya kirim-mengirim karangan bunga makin marak dan makin menjadi mode. Ya, karangan bunga. Mula-mula kirim-mengirim karangan bunga itu hanya mentradisi di kalangan orang kaya dan berkepeng, tapi belakangan melebar pula ke kelas menengah ke bawah. Bersamaan dengan itu, bisnis penjualan karangan bunga pun kian marak, yang ditemukan tidak hanya di kota-kota metropolitan, tapi juga sampai ke kota-kota provinsi dan kabupaten. Walaupun demikian, belum terdengar kebiasaan baru ini berefek kepada petani bunga.

Di Negeri Belanda, misalnya, petani-petani bunga boleh mendapat uang dan bisa menjadi kaya oleh bisnis bunga. Taman bunga Keukenhof di dekat Leiden, misalnya, setiap musim semi dikunjungi oleh jutaan pelancong mancanegara, yang mendatangkan devisa jutaan euro kepada Negeri Belanda. Petani-petani bunga Belanda sejahtera dan dapat berlibur ke luar negeri setiap tahun. Di Indonesia, maraknya budaya berkirim-kiriman karangan bunga belum melahirkan petani bunga. Dan para petani kita masih saja identik dengan tanaman padi, palawija dan sayur-mayur, dan nasib mereka tetap seperti yang sudah-sudah: miskin dan tak mampu menghadapi serbuan produk pertanian global yang membanjiri pasar Indonesia dengan harga yang lebih murah.

Pada awalnya karangan bunga itu, yang kebanyakan bentuknya seperti papan tulis di kelas saya ketika saya masih disekolah SD dulu di Sumatera sana (bedanya cuma dihiasi dengan bunga), dikirimkan dengan tujuan untuk menyatakan perasaan berbagi kebahagiaan dan suka cita. Oleh karena itu, ke rumah orang berhelat banyak benar karangan bunga itu dikirimkan. Apalagi kalau yang berhelat itu orang kaya dan terpandang: bertirit-tirit saja karangan bunga itu datangnya dan berderet-deret letaknya di depan gedung atau rumah orang yang sedang berpesta itu.

Memang mula-mula karangan bunga itu hanya tampak dalam pesta nikah kawin anak-anak orang kaya saja, yang biasanya diselenggarakan di hotel atau di gedung besar dan mewah yang disewa sehari-dua hari pentan. Tapi makin ke arah masa kini makin biasa kita lihat karangan bunga itu tersandar pula di depan rumah-rumah orang-orang biasa yang mengadakan pesta kawin untuk anak-kemenakan mereka.

Makin hari terlihat kegilaan mengirimkan karangan bunga untuk menyatakan ikut bersuka cita itu tidak lagi terbatas pada pesta perkawinan saja. Apa saja acara yang menyatakan kebahagiaan dan kegembiraan akan mendapat kiriman karangan bunga: buka (cabang) toko baru, jadi doktorandus/doktoranda, jadi doktor, jadi profesor, jadi dekan, jadi rektor, merayakan ulang tahun perkawinan, sukses menjadi ketua partai, dilantik menjadi pejabat anu, terpilih menjadi ketua organisasi anu, terpilih jadi lurah, terpilih jadi penghulu, terpilih jadi hakim, terpilih jadi jaksa, terpilih jadi (baru) calon bupati, walikota, dan lain sebagainya. Payah nak disebutkan seluruhnya di sini.

Oh iya, rupanya karangan bunga itu juga semacam simbol pergaulan. Jika Anda mendapat kiriman karangan bunga, apalagi jika banyak jumlahnya, itu tanda bahwa Anda punya teman orang-orang penting, seperti politisi, pebisnis, makelar kaya, kepala preman, atau ulama besar. Karena pengirim karangan bunga itu tidak saja atas nama pribadi, tapi juga atas nama organisasi, perusahaan, dll., maka dengan menerima karangan bunga dari mereka, berarti Anda juga memiliki pergaulan luas di kalangan dunia usaha dan berbagai macam organisasi sosial politik.

Jadi, seberapa banyak karangan bunga yang dikirimkan ke rumah pesta Anda menunjukkan luasnya pergaulan Anda. Dan itu juga berarti Anda memiliki banyak teman di kalangan orang kaya. Itu masuk akal, karena untuk memesan satu karangan bunga yang paling sederhana saja, biaya yang dikeluarkan mungkin tak kurang dari 200-300 ribu rupiah. Di kota-kota provinsi atau di kota-kota kabupaten harganya mungkin sedikit lebih murah dibanding di kota metropolitan seperti Jakarta, Surabaya, atau Bandung. Duit Rp. 200.000,- bukan kecil bagi rakyat berderai. Dengan duit sebanyak itu mungkin mereka dapat hidup dua-tuga hari, bahkan mungkin seminggu. Bagi orang kebanyakan, lembaran 5 atau 10 ribu rupiah bisa terasa selebar daun pisang. Bagi orang kaya, membuang uang beberapa ratus ribu rupiah untuk membeli sebuah karangan bunga yang, beberapa hari setelah dikirimkan, akan menjadi layu dan berubah nama menjadi sampah, tentu terasa ringan saja.

Begitulah, karangan bunga pun telah menjadi simbol duniawi dan simbol pergaulan yang berkelindan dengan gengsi dan status sosial. Seringkali karangan bunga dikirimkan kepada Anda, tapi si pengirimnya sendiri tidak datang karena sibuk. Karangan bunga, dengan demikian, menjadi tanda kehadiran, representasi diri. Besar-kecilnya karangan bunga yang dikirimkan kepada seseorang juga merepresentasikan tingkat ekonomi dan status sosial si pengirimnya. Bahasa yang ditampilkan di papan karangan bunga itu beragam pula: ada yang berbahasa Inggris dan ada yang berbahasa Indonesia, yang pada umumnya mengekspresikan (atau sebaliknya, menyembunyikan) perasaan hati si pengirimnya. Siapakah gerangan yang mengonsep bahasa di papan-papan karangan bunga itu? Apakah bahasa yang ditampilkan itu adalah atas pesanan si pemesan karangan bunga itu atau itu hanya kreasi si penjual karangan bunga itu sendiri? Tentang hal ini, belum tahu hamba. Mungkin Anda boleh bertanya kepada toko penyedia karangan bunga Lucky Florist di Jakarta.

Bagaikan liarnya reformasi Indonesia, penggunaan karangan bunga untuk mengungkapkan perasaan dan pemaknaan terhadapnya juga makin merembes kamana-mana. Pada tahun-tahun terakhir ini muncul pula trend baru: mengirimkan karangan bunga ke rumah duka, ke rumah orang mati. Aih…orang mati dikirimi karangan bunga. Apa pulak ini bah? Memang soal bunga dan orang mati sudah lama ada hubungan satu sama lain. Tapi itu hanya bunga yang ditabur di pusara orang mati. Pelayat membeli kembang dan kembang itu diserahkan kepada keluarga si mati yang kemudian digunakan untuk mengharumkan kuburan orang yang meninggal.

Tapi kini, karangan bunga yang dikirimkan, bukan kelopak-kelopak kembang. Dan seperti halnya untuk mereka yang berpesta, karangan bunga yang dikirimkan ke rumah orang mati itu juga dipajang di depan rumah duka. Hanya saja, kata “turut bersuka cita atas…” diubah menjadi “turut berduka cita atas…”. Tentang gejala yang tidak berkeruncingan ini, seorang teman di laman facebooknya berkomentar: “Inilah kegilaan baru orang Indonesia.”

Dan minggu ini, pemaknaan terhadap karangan bunga sudah meleleh pula ke dunia politik. Sejak kepetang kelamari sudah terjadi kehebohan di media sosial terkait dengan Balaikota Jakarta yang kebanjiran karangan bunga yang dikirimkan kepada Ahok-Djarot, petahana yang baru ditumbangkan dalam pilkada Jakarta. Maka tradisi kirim-mengirim karangan bunga pun tampaknya telah meruyak pula ke ranah pilkada Jakarta yang penuh gonjang-ganjing itu.

Fenomena ini langsung disambar oleh kedua pihak yang berseteru: pendukung dan penentang Ahok. Para pendukung Ahok berkata: inilah bukti kecintaan masyarakat Jakarta kepada Ahok. Para penentang balik membalas: ini hanya pencitraan murahan. Tumpukan karangan bunga yang meluber sampai ke luar halaman Balaikota Jakarta itu pun banyak yang rebah ditiup angin kencang. Kejadian itu pun disambar cepat oleh penentang Ahok: itu bukti alam dan tidak meridoi.

Di laman facebook terbaca komentar: “Gak mungkin yang ngirim karangan bunga itu rakyat kecil… Lha wong beli beras aja udah susah, apalagi niat beli bunga seharga ratusan ribu sampe jutaan gituh.” “Karangan bunga. Elo beli sendiri, elo terima sendiri, elo teriak sendiri, elo seneng sendiri”, tulis yang lain. Dan seperti yang sudah-sudah, debat dan saling serang di antara kedua belah pihak seputar karangan bunga untuk Ahok-Djarot itu pun diramaikan dengan komentar-komentar sinis dan lucu.

Agaknya dalam beberapa hari ke depan, isu karangan bunga dan Ahok masih akan menjadi ‘trending topic’ di laman-laman facebook orang Indonesia. Tapi sebagaimana halnya politik, isu-isu seputar karangan bunga untuk Ahok ini pasti segera akan mengerut dan akan berganti dengan isu-isu lain, secepat karangan bunga itu sendiri menjadi layu, lalu busuk, menyampah, dan kemudian dengan bergegas diangkut oleh truk sampah ke TPA Bantar Gebang.

Agaknya bunga dan politik relatif mirip satu sama lain: harumnya sebentar, busuknya cepat.

* Dr. Suryadi Sunuri adalah dosen di Universitas Leiden. Pria asli Minang ini kini tinggal di Leiden, Belanda. Tulisan ini juga dimuat di https://niadilova.wordpress.com

Loading...