Hukum  

Kasus Dugaan Pelecehan Seksual, Kades Rawa Selapan Divonis Bebas

Sidang putusan kasus dugaan pelecehan seksual, terdakwa oknum Kepala Desa (Kades) Rawa Selapan, Kecamatan Candipuro, Lampung Selatan, Bagus Adi Pamungkas (BAP) yang divonis bebas Majelis Hakim, Rabu (22/6/2022) sore.
Sidang putusan kasus dugaan pelecehan seksual, terdakwa oknum Kepala Desa (Kades) Rawa Selapan, Kecamatan Candipuro, Lampung Selatan, Bagus Adi Pamungkas (BAP) yang divonis bebas Majelis Hakim, Rabu (22/6/2022) sore.
Bagikan/Suka/Tweet:

Zainal Asikin | Teraslampung.com

LAMPUNG SELATAN — Sidang putusan kasus dugaan pelecehan seksual, terdakwa oknum Kepala Desa (Kades) Rawa Selapan, Kecamatan Candipuro, Lampung Selatan, Bagus Adi Pamungkas (BAP) divonis bebas oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Kalianda Kelas II, Lampung Selatan, Rabu (22/6/2022) sore.

Sidang putusan itu digelar secara daring (online) di ruang Cakra Pengadilan Negeri (PN) Kalianda Kelas II Lampung Selatan dipimpin Ketua Majelis Hakim Fitra Renaldo. Sedangkan terdakwa BAP, mengikuti sidang putusan dari Lembaga pemasyarakatan (Lapas) Kelas II A Kalianda.

Dalam sidang putusan tersebut, Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Kalianda Kelas II Lampung Selatan, Fitra Renaldo menyatakan, dari fakta-fakta terungkap dipersidangan, unsur tindak pidana yang didakwakan terhadap terdakwa BAP tidak terbukti.

“Menyatakan membebaskan terdakwa BAP dari segala tuntutan,”kata Majelis Hakim Fitra Renaldo, Rabu (22/6/2022) sore.

Mendengar putusan tersebut, terdakwa BAP yang mengikuti sidang putusan secara daring (online) dari Lembaga pemasyarakatan (Lapas) Kelas II A Kalianda langsung menangis haru.

Sebelum membacakan  putusan, sempat terjadi divertum antara Hakim Anggota I dan II. Kedua hakim itu berbeda pendapat. Hakim anggota I menolak semua alat bukti dan saksi-saksi memberatkan, sementara Hakim anggota II yakni Galang membenarkan apa yang didakwakan oleh JPU.

Mengetahui putusan majelis hakim yang memvonis bebas terdakwa, puluhan keluarga dan kerabat korban RF serta warga Desa Rawa Selapan lainnya yang hadir dalam sidang tersebut merasa kecewa atas putusan tersebut, dan mereka saling menenangkan satu sama lain dan mereka berlalu pergi meninggalkan PN Kalianda.

Menurut kerabat dan keluarga korban RF mengatakan, putusan Majelis Hakim tersebut, tidak menunjukkan komitmen menciptakan keadilan bagi korban pelecehan sesksual dan keluarganya.

“Kami (keluarga dan kerabat korban) semua disini bersama warga Desa Selapan lainnya yang empati terhadap korban, merasa kecewa dan sedih atas putusan hakim,”ucapnya kepada teraslampung.com

Untuk langkah hukum selanjutnya, ia mengaku belum tahu.

“Untuk itu, kami  akan berkoordinasi dengan pihak Lembaga Advokasi Peremuan DAMAR Lampung dan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK). Karena kalau orangtua korban dan keluarganya, sudah nggak tau harus bagaimana lagi untuk mencari keadilan,” katanya.

Pantauan teraslampung.com pada sidang putusan tersebut, ada puluhan orang lebih yang hadir dalam sidang putusan di PN Kalianda dari keluarga dan kerabat korban RF dari Desa Rawa Selapan dan Way Panji serta warga Desa Rawa Selapan lainnya yang empati terhadap korban. Selain itu juga, tampak terlihat Sunaryo, ayah korban RF.

Kedatangan puluhan orang warga Desa Rawa Selapan dan kerabat korban dari Way Panji di pada sidang putusan di Pengadilan Negeri (PN) Kalianda ini, yakni untuk memberikan support kepada ayah korban serta ingin mengetahui langsung sidang putusan tersebut.