Kasus “Mobil Goyang”, DPRD Minta Pemkot Kembalikan Fungsi Halaman Masjid Al Furqon

  • Bagikan
Kompleks Madjid Al Furqon Bandarlampung (Ilustrasi)
Kompleks Madjid Al Furqon Bandarlampung (Ilustrasi)
Pemkot Bandarlampung memperindah bagian depan halaman Masjid Al Furqon di Jl Pangeran Diponegoro Bandarlampung. Tiap malam halaman tersebut berubah menjadi taman tempat anak-anak muda nongkrong. (Foto: Teraslampung.com)

BANDARLAMPUNG, Teraslampung.com –Komisi 1 DPRD Kota Bandar Lampung meminta pemerintah Kota Bandar Lampung mengembalikan fungsi masjid Al Furqon sebagai  sarana ibadah, dan mensterilkan kawasan Masjid AL -Furqon dari pada pedagang kaki lima. 
Hal ini dikatakan Indra Wani, anggota Komisi I DPRD Kota Bandarlampung pada acara dengar pendapat (hearing) dengan Badan Satuan Polisi Pamong Praja Kota, Selasa (30/12), menyikapi adanya aksi perbuatan mesum “Mobil Goyang” di kawasan halaman Masjid Al Furqon beberapa waktu lalu. 
Menurut Indra Wani, pemerintah harus berani dan tegas menertibkan pedagang kaki lima di kawasan masjid al furqon,  untuk dikembalikan fungsinya sebagai tempat ibadah, bukan tempat berjualan, karena akan merusak fungsi masjid. 
“Kejadian  mesum di dalam mobil di depan masjid, akibat adanya pedagang kaki lima ( PKL) yang berjualan hingga tengah malam, sedangkan  pengawasan lemah. Seharusnya masjid itu kan tempat ibadah,  bukan tempat berjualan, apalagi, kalau mau pedagang boleh berjualan, tapi jangan di kawasan masjid,” jelas dia. 
  
Kabid Ketertiban Badan Polisi Pamong Praja  Kota Bandarlampung, Herman,  mengatakan pihaknya hanya menjalankan  kebijakan,  dan  siap mengamankan  Masjid Al Furqon  dari aksi maksiat. Menurut Herman, pihaknya sudah  menempatkan personel Satpol PP hingga pagi.  
“Kalau kami ini hanya menjalankan kebijakan,  dan pengaasan sampai saat ini tetap kami lakukan, dengan menempatkan enam personel di kawasan Masjid Al Furqon, sampai pagi hari,” kata  Herman menjawab pertanyaan anggota Komisi I dalam hearing. 
Herman mengatakan, warga di sekitar Masjid Al Furqon, juga meminta aktivitas jualan dihentikan sampai pukul 00.00 WIB.  
“Warga di sana  meminta aktivitas jualan  berhenti sampai pukul 24.00 WIB, karena kalau sudah tengah malam tidak  mungkin lagi ada orang   beli. Kalau masih ada pemuda-pemudi nongrong di atas jam segitu,  mestinya dicurigai, karena mau ngapain,” tandasnya.
Riski
  • Bagikan