Kasus Mutilasi, Brigadir Medi Andika Ancam Tarmidi

  • Bagikan
Tarmidi, salah satu terdakwa kasus pembunuhan disertai mutilasi anggota DPRD Bandarlampung, M. Pansor, keitka akan memasuki ruang sidang di PN Tanjungkarang, Senin (10/10/2016).

Zainal Asikin|Teraslampung.com

BANDARLAMPUNG — Terdakwa kasus pembunuhan dan mutilasi anggota DPRD Bandarlampung M. Pansor, Tarmidi, mengaku diancam Brigadir Medi Andika jika dirinya berani membongkar kasus yang melibatkan anggota Polres Bandarlampung itu.

“Ancaman itu setelah satu bulan kejadian membuang mayat Pansor di Martapura, OKU Selatan, Sumatera Selatan 16 April 2016,”ujar Tarmidi, dalam sidang kasus pembuangan mayat anggota DPRD Badarlampung, M Pansor,di Pengadilan Negeri (PN) Tanjungkarang, Senin (21/11/2016).

Dalam kesaksiannya di depan majelis hakim yang diketuai Minanoer Rachman, terdakwa Tarmidi mengaku pengancaman tersebut, terjadi pada 30 Mei 2016 lalu, sebelum dirinya pulang ke kampung halamannya ke Aceh.

Tarmidi mengaku pernah dipanggil oleh Medi untuk datang ke rumahnya di Perumahan Permata Biru, Sukarame, Bandarlampung.

Menurut Tarmidi, ancaman berikutnya terjadi saat Medi menemui dirinya di Warung Mie Aceh –tempat Tarmidi bekerja– di Way Halim. Di tempat itu, Medi juga meminta kepada dirinya agar tidak melibatkan namanya apabila ditangkap polisi.

“Awas, jangan sampai kebongkar siapun yang nantinya ketangkap duluan. Kalau kamu yang ketangkep, jangan bawa-bawa nama saya. Kalau sampai hal ini kebongkar, setelah saya keluar penjara kamu saya bikin seperti mayat yang saya buang di Martapura,” kata Tarmidi, menirukan ucapan ancaman Medi.

Dikatakannya, saat itu ia sudah menaruh curiga ketika masuk ke dalam mobil yang dikendarai Medi, ketika Medi datang menjemputnya di Mie Aceh dan mengajaknya pergi ke Martapura. Kecurigaan tersebut, dari aroma mau amis darah dan adanya bercak darah yang berada dibeberapa bagian dalam mobil. Karena merasa takut dengan Medi sebagai anggota polisi, sehingga Tarmidi tidak berani menanyakan mengenai hal tersebut.

“Sebelum berangkat ke Martapura, Medi mandi dulu di rumahnya. Saya melihat ada senjata api laras pendek yang tergeletak di dalam rumah Medi, lalu senjata api itu saya pakai untuk berswafoto dan menggunggahnya ke akun facebook,”ungkapnya.

Setelah membuang mayat Pansor, Tarmidi diperintahkan dengan Medi untuk mencuci mobil Toyota Kijang Innova yang dibawa Medi pergi ke Martapura. Medi berpesan, kalau ada petugas cuci mobil yang menanyakan ada bercak darah, bilang saja kalau mobil itu baru dipakai anggota polisi.

BACA: Potongan Tubuh Pansor Dibuang Brigadir Medi Dua Kali

Tarmidi juga mengatakan, dirinya tidak mengetahui apapun mengenai kepemilikan ponsel yang akhirnya menyeret dirinya dalam kasus tersebut. Ia hanya diperintah Medi untuk membeli ponsel, lantaran ia hanya memiliki uang sebesar Rp 150 ribu, maka ia membelikan ponsel merk Nokia. Medi meminta ia untuk menemui di Polresta Bandarlampung, Medi mengajaknya pergi dengan menggendarai sepeda motornya menuju ke Bypass.

“Di tempat itu, Medi mengeluarkan ponsel Blackberry dan mengambil sim cardnya lalu ponselnya dihancurkan dengan batu. Sim cardnya, di masukkan ke dalam ponsel Nokia dan Medi membuang ponsel Nokia itu ke mobil rongsokan,”jelasnya.

Adanya ancaman tersebut, membuat Martin Johan Latuputy pengacara Tarmidi mengajukan permohonan kepada majelis hakim, Minanoer Rachman bahwa tempat penahanan terdakwa Tarmidi dipindahkan dari Rutan Way Hui.

Martin juga mengatakan, mendapat kabar bahwa dalam waktu dekat ini, tersangka Brigadir Medi Andika akan segera dilimpahkan ke Kejaksaan. Sehingga dengan adanya pelimpahan tersebut, Medi akan di tahan di Rutan Way Hui.

 

“Saya mohon, agar majelis hakim memindahkan Tarmidi dari Rutan Way Hui dan tidak satu tahanan dengan Medi. Hal tersebut demi keselamatan nyawa Tarmidi,”ujar Martin saat di persidangan.

Mendegar permintaan tersebut, Majelis hakim, Minanoer Rachman menanyakan kepada jaksa penuntut umum (JPU), mengenai kapan akan dilimpahkannya tersangka Brigadir Medi Andika. Lalu JPU, Agus Priambodo mengatakan, bahwa pelimpahan tahap dua (tersangka Medi dan barang bukti) akan dilakukan pada Selasa (22/11/2016).

Permintaan dari pengara Tarmidi, disetujui oleh majelis hakim dan memerintahkan jaksa, agar Medi dititipkan di Rutan Polda Lampung. Hal tersebut agar Medi dan Tarmidi tidak satu tempat dalam ruang tahanan.

Ikuti Update Berita: Pembunuhan Anggota DPRD Bandar Lampung

  • Bagikan