Beranda Hukum Narkoba Kasus Narkoba, Sekda Tanggamus Hanya Divonis Satu Bulan Penjara

Kasus Narkoba, Sekda Tanggamus Hanya Divonis Satu Bulan Penjara

476
BERBAGI
Sekda Tanggamus non aktif, Mukhlis Basri usai menjalani sidang yang vonis satu bulan penjara dan rehabiltasi saat di Pengadilan Negeri Tanjungkarang, Kamis (23/3/2017).

Zainal Asikin|Teraslampung.com

BANDARLAMPUNG — Sidang putusan kasus kepemilikan empat butir pil happy five di Pengadilan Negeri (PN) Tanjungkarang dengan terdakwa Sekretaris daerah (Sekda) Tanggamus nonaktif, Mukhlis Basri dan dua rekannya Okta Rika alias Oca (PNS Provinsi) dan Doni Lesmana, Kamis (23/3/2017) hasilnya seperti yang diduga sebagian publik. Mukhlis Basri dkk hanya diganjar hukuman ringan, yakni masing-masing satu bulan penjara.

Hakim ketua Akhmad Lakoni dalam persidangan tersebut menyatakan, ketiga terdakwa hanya terbukti sebagai pengguna zat psikotropika. Mereka terbukti melakukan tindak pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 60 ayat (5) UU No.5 tahun 1997 jo Pasal 37 ayat (1) dan (2).

“Menjatuhkan hukuman kepada para terdakwa, masing-masing satu bulan pidana penjara,”ujar Lakoni, Kamis (23/3/2017).

Kemudian selain putusan pidana penjara satu bulan, Akhmad Lakoni juga memerintahkan para terdakwa, untuk menjalani pengobatan dan perawatan melalui rehabilitasi medis dan sosial di klinik Pratama Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Lampung selama kurun waktu bulan.

“Masa rehabilatasi tersebut, terhitung sebagai masa pidana penjara yang telah dijatuhkan,”ungkapnya.

Putusan majelis hakim yang menjatuhkan hukuman terdakwa Mukhlis Basri, Okta dan Doni dengan pidana penjara satu bulan, justru lebih ringan dari tuntutan jaksa penuntut umum yang menuntut ketiga terdakwa dengan hukuman pidana penjara lima bulan.

Sementara menurut jaksa penuntut umum (JPU), Adi Wibowo, bahwa terdakwa Mukhlis, Okta dan Doni terbukti melakukan tindak pidana sebagaimana telah diatur dalam Pasal 62 UU No.5 Tahun 1997 Tentang Psikotropika. Selain pidana penjara, menuntut ketiga terdakwa dengan pidana denda.

“Menuntut terdakwa membayar denda sebesar Rp 10 juta, dengan subsider tiga bulan penjara,”ujar Adi.

Perbedaan pendapat dengan jaksa penuntut umum (JPU), dalam menjatuhkan hukuman terhadap terdakwa Mukhlis, Okta dan Doni. Menurut Hakim Ketua, Akhmad Lakoni terletak Pasal yang digunakan untuk menjerat terdakwa Mukhlis Cs tersebut.

Dalam tuntutannya, kata Lakoni, jaksa menganggap perbuatan terdakwa Mukhlis Cs, yang kedapetan menyimpan empat butir pil happy five sesuai Pasal 62 UU No.5 tahun 1997 tentang Psikotropika. Pasal tersebut berbunyi, barang siapa secara tanpa hak, memiliki dan atau membawa psikotropika dipidana penjara paling lama lima tahun dan pidana denda paling banyak Rp 100 juta.

Sedangkan pada putusannya, majelis hakim menilai terdakwa Mukhlis Cs terbukti bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 60 ayat (5) UU No.5 tahun 1997 jo Pasal 37 ayat (1) dan (2).

Dalam Pasal 60 ayat (5) tersebut berbunyi, barang siapa menerima penyerahan psikotropika selain ditetapkan dalam Pasal 14 ayat (1), ayat (2), ayat (3) dan ayat (4) dipidana penjara paling lama tiga tahun dan pidana denda sebesar Rp 60 juta.

“Tututan jaksa penunut umum, tidak susuai berdasarkan fakta yang terungkap di persidangan,”ujarnya.

Lakoni mengutarakan, dalam fakta persidangan, keterangan dari semua saksi dan bukti. Menyatakan bahwa, terdakwa Mukhlis, Okta dan Doni sebagai pengguna narkoba dan sedang menjalani perawatan di panti rehabilitasi.

“Ketiga terdakwa terbukti hanya sebagai pengguna, yang menerima penyerahan barang psikotropika. Jadi pendapat penuntut umum keluar dari fakta persidangan,”terangnya.

Dikatakannya, semua pengguna pasti menyimpan barang psikotropika, namun pengguna dalam Pasal 62 tersebut dikenakan terhadap orang yang sebagai bandar dan pengedar atau kurir. Berdasarkan keterangan saksi dan alat bukti di persidangan, ketiga terdakwa bukanlah sebagai bandar, pengedar ataupun kurir.

Majelis hakim menegaskan, pendapat penuntut umum tidak sesuai dengan fakta persidangan, dan menjatuhkan hukuman terhadap terdakwa Mukhlis, Okta dan Doni, hukuman pidana penjara satu bulan dan hukuman rehabilitasi selama satu bulan.

Kasus tersebut, berawal ketika Doni Lesmana datang ke rumah Mukhlis Basri di Jalan Urip Sumoharjo, Kelurahan Gunung Sula, pada Sabtu (21/1/2017) lalu sekitar pukul 13.00 WIB. Lalu Doni mengajak Mukhlis ke Hotel Emersia untuk mengobrol bersama teman-temannya yang lain.

Namun sebelum Mukhlis berangkat pergi ke Hotel Emersia, Mukhlis menghubungi Okta Rica untuk datang menemuinya di kamar Hotel Emersia No.207.

Kemudian Mukhlis dan Doni tiba di Kamar Hotel Emersia tersebut, sekitar pukul 14.00 WIB. Saat keduanya tiba di Kamar No.207 Hotel Emersia, ternyata sudah ada Okta Rika. Mereka lalu asyik mengobrol di kamar Hotel tersebut, taklama kemudian Doni menawarkan Mukhlis dan Okta untuk menggunakan pil happy five.

Mukhlis dan Okta menerima ajakan tersebut, Mukhlis dan Okta menelan setengah butir dan Doni menelan satu butir pil happy five. Selanjutnya, Doni memberikan masing-masing dua butir pil happy five ke Mukhlis dan Okta.

Pada saat malam harinya, petugas Direktorat Reserse Narkoba Polda Lampung, menggrebek tiga terdakwa saat berada di dalam kamar Hotel Emersia tersebut. Saat dilakukan penggeledahan, petugas menemukan dua butir pil happy five di kotak jam milik Okta dan di dompet Mukhlis.