Beranda Hukum Kriminal Kasus Pembunuhan Mutilasi Anggota DPRD, Hakim Tunjukkan Bukti Sinyal Ponsel Brigadir Medi...

Kasus Pembunuhan Mutilasi Anggota DPRD, Hakim Tunjukkan Bukti Sinyal Ponsel Brigadir Medi Andika

773
BERBAGI
Majelis hakim menunjukkan foto kepala almarhum Pansor kepada terdakwa Brigadir Medi Andika dalam persidangan di PN Tanjungkarang, Selasa (7/3/2017).

Zainal Asikin|Teraslampung.com

BANDARLAMPUNG — Dalam sidang kasus mutilasi dengan korban anggota DPRD Bandarlampung, M Pansor di Pengadilan Negeri Tanjungkarang, Selasa (7/3/2017), tidak hanya jaksa penuntut umum (JPU) yang mencecar terdakwa Brigadir Medi Andika, Majelis hakim pun juga mencecar Medi. Majelis hakim pun membeberkan bukti yang membuat Medi Andika terdiam.

Di persidangan tersebut, Hakim Ketua Minanoer Rachman mengatakan  pihaknya memiliki dua alat bukti keterlibatan Medi Andika dalam kasus mutilasi anggota DPRD Bandarlampung, M Pansor.

“Dua alat bukti tersebut, yakni keterangan para saksi dan adanya bukti berupa IT,”ujarnya.

Minanoer Rachman mengatakan, berdasarkan bukti IT tersebut, bahwa pada 14 April 2016 sekitar pukul 14.00 WIB. Sinyal ponsel Medi, berada satu lokasi dengan sinyal ponsel milik Pansor di Jalan Pangeran Emir M Noer, Kelurahan Palapa.

BACA: Ponsel Pansor Ditemukan di Tempat Rongsokan di Cikupa

Kemudian, kata Minanoer, diatas sekitar pukul 14.00 WIB, ponsel Medi dan Pansor sama-sama dalam kondisi tidak aktif (mati). Sehingga, tidak terlacak keberadaan sinyal ponselnya.
“Jadi bagaimana menurut tanggapan saudara (Medi),”tanya Hakim ketua kepada Medi.

Medi mengatakan, bahwa pertanyaan tersebut, pernah juga diajukan penyidik kepada dirinya pada saat penyidikan di Polda Lampung.

“Saat itu, saya sempat berdebat dengan penyidik Polda Lampung mengenai hal tersebut,”ujar Medi.

Baca: Keluarga Pansor Akui Brigadir Medi Dekat dengan Korban

Menurut Medi, bahwa penyedia jasa telekomunikasi Telkomsel, memiliki satu menara base transceiver station (BTS) yang ada di daerah tersebut. Sehingga, bisa menampung beberapa nomor telepon yang ada di area tersebut.

“Bukti tersebut tidak bisa dipastikan, dan saat itu saya sedang berada di kantor Polresta Bandarlampung,”ucap Medi.

#Ponsel Medi Sempat Terlacak di Lokasi Pembuangan Mayat Pansor

Hakim Ketua Minanoer Rachman membeberkan bukti kuat keterlibatan terdakwa Brigadir Medi Andika, terkait kasus mutilasi anggota DPRD Bandarlampung, M Pansor.

BACA: Kasus Mutilasi, Brigadir Medi Ancam Tarmizi

Dari keterangan saksi Tarmidi, bahwa Tarmidi membuang mayat Pansor bersama Medi di Martapura, OKU Timur, Sumatera Selatan, pada 15 April 2016 malam lalu.

Berdasarkan keterangan tersebut, kata hakim ketua, Minanoer Rachman menyatakan, bahwa ponsel Medi berada di Martapura, OKU Timur, Sumatera Selatan pada saat malam yang sama.

Pagi harinya, 16 April 2016 sekitar pukul 05.00 WIB, ponsel Medi terlacak di Natar, Lampung Selatan. Dari keterangan Tarmidi, bahwa pagi itu mereka baru pulang dari Martapura menuju ke Bandarlampung melewati daerah Natar, Lampung Selatan.

“Saat pagi hari itu, kamu berada dimana,”tanya Minanoer kepada Medi.

Terdakwa Medi membantah semua bukti tersebut, Medi mengatakan, pagi hari antara pukul 04.00 WIB sampai pukul 05.00 WIB, ia sedang mengantar istri dan anaknya ke rumah mertuanya di daerah Kemiling.

BACA: Kuliah S2 Brigadir Medi Dibiayai M. Pansor 

“Keberadaan ponsel saya di Natar itu ya sah-sah saja kan, karena masih satu jalur dengan yang saya lalui ke Kemiling,”ucap Medi.

Lalu Minanoer Rachman kembali membeberkan, bukti photo unggahan Tarmidi di akun facebook pada 15 April 2016. Dalam photo tersebut, Tarmidi sedang memegang senjata api di sebuah ruangan. Berdasarkan hasil dari IT, bahwa ruangan tersebut adalah rumah terdakwa Medi.

BACA: Pembunuhan Sadistis: Kronologi Brigadir Medi dan Tarmizi Membuang Mayat Mutilasi Anggota DPRD Bandarlampung

Medi kembali menyangkalnya, dan mengatakan, bahwa Tarmidi tidak pernah ke rumahnya di Perumahan Permata Biru, Sukarame pada tanggal tersebut.

Selanjutnya, hakim ketua Minanoer Rachaman meminta kepda terdakwa Medi, untuk membuktikan semua ucapannya tersebut. Membantah keterangan saksi dan bukti IT, yang dimiliki olleh jaksa penuntut umum (JPU) di persidangan selanjutnya.

Ikuti perkembangan kasus ini di: Pembunuhan Anggota DPRD Bandarlampung