Beranda Hukum Kasus Pengeroyokan Aktivis Hingga Meninggal, Solidaritas untuk Jopi Bantah Keterangan Kadispen TNI...

Kasus Pengeroyokan Aktivis Hingga Meninggal, Solidaritas untuk Jopi Bantah Keterangan Kadispen TNI AL

151
BERBAGI
Ilustrasi pengeroyokan

JAKARTA, Teraslampung.com–Solidaritas untuk Jopi membantah keterangan Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut Laksamana Pertama Manahan Simorangkir yang menyebut pelaku penusukan Jopi Peranginangin sedang membela diri.

Ratri Kusumohartono, juru bicara Solidaritas untuk Jopi yang juga merangkap juru bicara Sawit Watch, menyatakan keterangan Manahan tersebut bisa mengaburkan fakta sesungguhnya. 

“Bagaimana bisa disebut membela diri, sedangkan Jopi dalam posisi dikeroyok. Posisi tusukan juga dari belakang, dari punggung tembus ke paru-paru. TNI AL tidak boleh mengada-ada untuk menutupi kasus,” ujar Ratri dalam siaran persnya di Jakarta, Rabu, 27 Mei 2015.

Pernyataan Kadispen TNI AL juga menyebut kasus tewasnya pegiat lingkungan Jopi Peranginangin adalah kecelakaan yang tidak disengaja.

“Kalaupun pembunuhan, kan bukan berencana. Itu dekat dengan suatu kecelakaan. Bertengkar dan emosi. Bukan ide membunuh. Bisa jadi dia membela diri. Kita belum tahu karena diawali pertengkaran dan kondisi gelap,” kata Manahan kepada media massa di Jakarta, Selasa (26/5/2015).

Pernyataan Kadispen TNI AL tersebut dinilai sebagai bentuk cuci tangan dan upaya membersihkan tangan anggota TNI yang berlumuran darah manusia tak berdosa. “TNI katanya sudah direformasi tapi cara mereka menangani kasus ini sangat meragukan. TNI Angkatan Laut telah melukai korban dan keluarganya,” kata Ratri.

Solidaritas untuk Jopi mencatat serangkaian kejanggalan kasus pembunuhan Jopi. Kejanggalan tersebut antara lain: lambannya polisi mengumumkan pelaku pembunuhan. Polisi tahu-tahu telah mengirimkan berkas perkara dan melimpahkannya ke POM AL. “Ada tahapan yang dilompati yakni polisi belum mengumumkan ke publik tentang sosok pembunuh tapi tahu-tahu dilimpahkan ke Polisi Militer Angkatan Laut,” ujar Ratri.

Kejanggalan berikutnya, kata Ratri, TNI AL lamban mengumumkan pelaku pembunuhan. 

“Kejanggalan berikutnya adalah upaya untuk membelokkan fakta. Kami curiga TNI AL sedang menyusun rencana merekayasa kasus ini untuk melindungi pelaku yang sesungguhnya. Sekarang kami bertanya, mengapa institusi TNI AL berusaha menutup-nutupi kasus ini,” kata Ratri.

Solidaritas untuk Jopi meminta TNI AL membuka kasus ini setransparan mungkin dengan membuka siapa pembunuh sesungguhnya, melakukan gelar perkara seterang-terangnya.

Solidaritas untuk Jopi adalah wadah untuk menuntaskan kasus pembunuhan pegiat lingkungan Jopi Peranginangin. Jopi dibunuh pada Sabtu, 23 Mei 2015 oleh anggota TNI di depan Habibie Center seusai keluar dari Venue Cafe Kemang.

Saat hendak keluar dari klub, rombongan Jopi didatangi pria-pria tegap yang meminta segera keluar. “Finish, out! Out!,” kata pria tegap itu yang dijawab oleh salah seorang rekan Jopi, “Oh iya bro, kita juga mau keluar.”

Pria itu masih bicara tidak jelas ke arah A. Saat itulah, Jopi yang duduk di sebelah A bertanya ke A 

“Ada apa nih?”

Saat itulah, pria berbadan tegap itu naik pitam. Ia terlihat emosi dan mau memukul Jopi dengan menarik tangan Jopi. Tetapi teman-teman Jopi buru-buru menarik Jopi untuk keluar dari Venue, sementara teman-teman pria itu menarik tangan pria itu agar tidak marah.

Sempat terjadi keributan sebentar antara pria berbadan tegap itu dengan Jopi. Tiba-tiba pria tegap itu membuka tas selempang kecil warna cream dan ia mengeluarkan pisau bayonet sambil teriak, “Saya ini tentara!”

A sempat berusaha menghalangi pria itu dan menangkis dengan tangan kiri hingga terluka kena pisau. A lalu meminta Jopi untuk segera lari ke arah mobil.

Ternyata begitu Jopi lari, para pria berbadan tegap itu mengejar Jopi, termasuk pria yang memegang pisau bayonet. Teman-teman Jopi lalu lari mengikuti.

Di parkiran depan Habibie Center, Jopi terlihat dipukuli. Terdengar teriangan Jopi “Salah gue apa?!”.

Saat rekan-rekan Jopi mendekat, Jopi menunduk di bawah pohon dan terlihat ada sedikit darah keluar dari mulutnya. Saat berusaha mengangkat Jopi untuk dibawa ke mobil, salah seorang rekan Jopi baru tahu kalau badan Jopi basah karena darah. Jopi langsung dilarikan ke RSPP, namun alam berkehendak lain, pendarahan hebat di paru-parunya akibat tusukan itu membuat nyawa Jopi tidak tertolong. Pukul 06.00 dokter menyatakan Jopi telah meninggal.

Loading...