Beranda Politik Kasus Ratna Sarumpaet, Sekjen PAN: Kami Ingin Tutup Buku

Kasus Ratna Sarumpaet, Sekjen PAN: Kami Ingin Tutup Buku

692
BERBAGI
Calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto, Ketua Dewan Kehormatan PAN Amien Rais, koordinator juru bicara Badan Pemenangan Nasional Dahnil Anzar Simanjuntak, beserta tim suksesnya mengadakan konferensi pers terkait dugaan penganiayaan terhadap Ratna Sarumpaet di Jalan Kertanegara 4, Jakarta Selatan, Selasa malam, 2 Oktober 2018. TEMPO/Francisca Christy Rosana

TERASLAMPUNG.COM Sekretaris Jenderal Partai Amanat Nasional Eddy Soeparno mengatakan emoh berkomentar lebih lanjut soal kelanjutan kasus hoax yang disebarkan mantan juru kampanye Badan Pemenangan Nasional Prabowo Subianto – Sandiaga Uno, Ratna Sarumpaet.

“Karena dia sudah mengaku berbohong, kami tidak mencari tahu lagi. Ini terlalu menyita waktu dan energi,” kata Eddy saat dihubungi Tempo pada Jumat, 5 Oktober 2018.

Kasus hoax Ratna, kata Eddy, memang sempat mengalihkan fokus kubunya. Ia juga mengatakan hoax yang dibuat Ratna bakal berdampak pada pertimbangan elektorat dalam waktu dekat ini. “Dampak pasti ada,” ujarnya.

Namun Eddy optimistis kejadian itu tidak akan mempengaruhi hasil pemilihan presiden 2019. Sebab, waktu berkampanye masih sekitar 5 bulan dan banyak hal yang bisa dilakukan kubu mereka dalam kurun waktu tersebut untuk kembali mengambil hati pemilih.

Apalagi, kata Eddy, fokus masyarakat akan teralih dengan peristiwa lain dalam waktu dekat. Artinya, publik tidak akan ramai membicarakan soal peristiwa Ratna berlarut-larut. “Lagi pula usia berita kan tidak akan panjang. Kasus Mbak Ratna paling beritanya bertahan 2-3 minggu,” ujarnya.

Eddy juga mengatakan para pemilih, khususnya pemilih mengambang atau swing voter, yang punya pilihan tak pasti, tak bakal memutuskan tidak memilih capres Prabowo Subianto hanya karena kasus Ratna. Menurut dia, pemilih mengambang tidak akan memutuskan pilihannya terlalu dini.

Saat ini, menurut Eddy, kubunya sudah mengalihkan pembahasan Ratna dengan isu-isu terhangat yang perlu ditindaklanjuti. Misalnya, kata dia, soal penanganan korban gempa di Palu dan Donggala. Selain itu, perihal dolar yang kian merangkak naik. “Sudahlah, kami ingin tutup buku,” ujarnya.

Kasus Ratna Sarumpaet diprediksi akan berdampak pada menurunnya elektabilitas Prabowo – Sandiaga. Peneliti LSI Rully Akbar berpendapat kepercayaan itu bisa kembali hanya bila keduanya mampu mengadakan program dan kegiatan yang menarik perhatian masyarakat.

“Dalam waktu 5 bulan, mereka masih bisa membuktikan dengan program-program yang bagus,” kata dia.

Tempo.co

Loading...