Beranda News Nasional Kasus Suap Akil Mochtar, KPK Tetapkan Bupati Empat Lawang dan Istri ...

Kasus Suap Akil Mochtar, KPK Tetapkan Bupati Empat Lawang dan Istri Sebagai Tersangka

206
BERBAGI
Budi Antoni dan Suzzana saat jadi saksi dengan terdakwa Akil Mochtar, Maret 2015 lalu. (foto: tempo.co)

JAKARTA, Teraslampung.com — Setelah lama hanya berstatus sebagai saksi bagi terdakwa mantan  Ketua KPK Akil Mochter, akhirnya Budi Antoni, Bupati Empat Lawang, Sumatera Selatan ditetapkan KPK sebagai tersangka. Budi ditetapkan sebagai tersangka bersama istrinnya, Suzanna dalam kasus ugaan tindak pidana korupsi pemberian hadiah terkait pengurusan perkara sengketa pilkada kabupaten Empat Lawang di Mahkamah Konstitusi (MK) 2013.

“Setelah melakukan penyelidikan terkait sengketa pilkada di MK dari hasil vonis hakim terkait dengan Akil Mochtar maka penyidik telah menemukan dua alat bukti permulaan yang cukup yang kemudian menetapkan BAA (Budi Antoni Aljufri) selaku kepala daerah kabupaten Empat Lawang dan kemudian juga SBA (Suzanna Antoni Aljufri),” kata Pelaksana Tugas (Plt) Pimpinan KPK Johan Budi dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis.

KPK menduga keduanya  memberi atau menjanjikan sesuatu kepada hakim dengan maksud untuk mempengaruhi perkara terkait sengketa pilkada Empat Lawang di MK.

“Keduanya diduga melanggar pasal 6 ayat 1 huruf a UU No 31 tahun 1999 sebagaimana dibuah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 jo pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHPidana,” kata Johan.

Ancaman hukuman bagi pelanggar pasal tersebut adalah pidana maksimal 15 tahun penjara dan denda paling banyak Rp750 juta.

“Pemeriksaan saksi akan dilakukan pekan ini dan pekan depan. Demikian pengumuman yang kami sampaikan dengan maksud untuk diketahui oleh publik,” kata  Johan.

Dalam putusan kasasi Akil, Budi dan Suzanna disebutkan memberikan uang Rp10 miliar dan Rp500 ribu dolar AS atau senilai total sekitar Rp15,5 miliar diberikan melalui perantara Muhtar Ependy. Uang itu ditransfer melalui Bank Pembangunan Daerah (BPD) Kalimantan Barat oleh Suzzana.

Budi Antoni Aljufri adalah bupati petahanan yang pada Juli 2013 mengajukan permohonan keberatan ke MK atas kemenangan pasangan Joncik Muhammad dan Ali Hakimi. Akil Mochtar menjadi ketua panel hakim konstitusi bersama dengan Maria Farida Indrati dan Anwar Usman untuk memutus sengketa tersebut.

Budi melalui istrinya Suzanna menyerahkan uang Rp10 miliar melalui tangan kanan Akil, Muhtar Ependy untuk Akil. Uang itu dititipkan Muhtar kepada Wakil pimpinan Bank Pembangunan Daerah Kalimantan Barat cabang Jakarta di BPD Kalimantan Barat, Iwan Sutaryadi.

Suzanna kembali memberikan uang dalam dolar AS yaitu 150 ribu dolar AS dan 350 ribu dolar AS yang dititipkan kepada Iwan Sutaryadi.

Muhtar menyerahkan uang dari Budi tersebut kepada Akil sebesar Rp5 miliar dan 500 ribu dolar AS di rumah dinas Akil, sedangkan sisa Rp5 miliar disetorkan ke rekening tabungan pribadi Muhtar di BPD Kalimantan Barat.

Sehingga pada 31 Juli 2013, MK memutuskan perkara pilkada Empat Lawang yang isinya membatalkan penghitungan suara Komisi Pemilihan Umum kabupaten Empat Lawang yang memenangkan pasangan Joncik Muhammad dan Ali Hakimi (62.051 suara) menjadi memenangkan pasangan Budi Antoni Aljufri dan Syahril Hanafiah (63.027 suara).

Selain dikenakan pasal pemberian suap, Budi dan Suzanna juga dikenakan sangkaan memberikan keterangan tidak benar yaitu melanggar pasal 22 jo pasal 35 ayat 1 Undang-Undang No 20 tahun 2001 dengan ancaman pidana penjara maksimal 12 tahun dan denda paling banyak Rp600 juta.

Terkait kasus ini, KPK juga sudah menjerat sejumlah pihak yaitu Akil Mochtar yang divonis seumur hidup, mantan bupati Gunung Mas Hambit Bintih divonis 4 tahun penjara, tim sukses Hambit, Cornelis Nalau Antun yang divonis 3 tahun, anggota Komisi II Chairun Nisa yang divonis 4 tahun penjara, pengacara Susi Tur Andayani divonis 5 tahun penjara, Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah divonis 5 tahun kurungan, adik Ratu Atut pengusaha Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan yang divonis 5 tahun penjara.

Tangan kanan Akil, Muhtar Ependy divonis 5 tahun penjara, Walikota Palembang Romi Herton yang divonis 6 tahun dan istrinya Masyito divonis 4 tahun, serta Bupati Tapanuli Tengah Raja Bonaran Situmeang yang dihukum 4 tahun penjara.

Sedangkan yang masih dalam tahap penyidikan adalah pasangan calon bupati dan wakil Bupati Lebak Amir Hamzah dan Kasmin serta Bupati kabupaten Kepulauan Morotai Rusli Sibua.

Sebelumnya, saat menjadi saksi di pengadilan dengan terdakwa Akil Mochtar, Maret 2015 lalu, keduanya bersikeras membantah telah menyuap Akil. Suzzana tidak mengakui bahwa dirinya menransfer uang sebanyak Rp 10 miliar untuk Akil.