Beranda Kolom Sepak Pojok Kawan Saya Tuan Khamami

Kawan Saya Tuan Khamami

440
BERBAGI

Oyos Saroso H.N.

Bupati Mesuji, Khamami, terkena operasi tangkap tangan (OTT) KPK pada Kamis dini hari, 24 Januari 2019. Kehebohan penangkapan Khamami sudah terjadi Rabu malam, 23 Januari 2019.

“Bagaimana Pak, apakah kita akan menurunkan berita penangkapan Khamami?” tanya wartawan Teraslampung.com.

“Kita muat saja,” saya menjawab pendek.

Seperti media lain, Teraslampung.com menulis berita tentang OTT KPK yang salah satunya melibatkan Khamami.

Bagi saya, Khamami adalah orang luar biasa. Sama-sama pernah bekerja di harian Lampung Post pada era Orde Baru hingga setahun setelah era reformasi, saya tentu mengenal Khamami. Itu sama halnya dengan saya mengenal Andi Surya, anggota DPD RI yang juga pernah sama-sama mengais rezeki di Lampung Post. Bedanya, saya sebagai jurnalis, yang ketika itu ditugasi mengolah berita dan opini,  Khamami bertugas agar koran Lampung Post laku di pasaran. Kerja Khamami dan Andi Surya lebih berpeluh dibanding saya yang tidak pernah ke lapangan dan cuma mengedit tulisan di kantor.

Bedanya lagi: Khamami (juga Andi Surya) lebih tajir dibanding saya. Peruntungan mereka bagus, rezekinya oke, berkah mengalir.

Meskipun bukan teman dalam pengertian ke sana-sini bareng, saya tetap menganggap mereka kawan baik. Saya ikut sedih ketika Khamami dikalahkan Mance dalam Pilkada Tulangbawang. Saya ikut senang ketika Khamami memenangi Pilkada di Mesuji dan menjadi bupati.

Setelah Khamami menjadi bupati, tentu saya tidak bisa “menjangkau” dia, memberinya dia masukan atau semacam nasihat. Sebab, selain tidak benar-benar akrab, kami juga seumuran. Mungkin ia setahun-dua tahun lebih tua dibanding saya. Lagi pula, Khamami modelnya bukanlah kawan yang perlu bantuan kawan. Saya pernah membuktikan itu ketika ia akan maju di Pilkada Mesuji pertama kali. Ia menolak halus tawaran saya karena ia tidak punya uang. Oho, dari sini saya tahu bahwa Khamami tidak paham siapa saya.

Kawan lain eks-Lampung Post punya banyak kisah tentang Khamami sebelum ia menjadi orang sukses: pedagang, anggota DPRD Lampung, Bupati Mesuji.

Seorang kawan bercerita, Khamami pernah menangis karena disuruh menjual koran di eks-lokalisasi. Ia ditarget agar koran Lampung Post laku sekian eksemplar.

Kawan lain bercerita, Khamami harus kerja keras bersama istri untuk membuka bisnis terkait pertanian di Bandarjaya dan Unit Dua.

Cerita itu makin menguatkan kesimpulan saya bahwa Khamami adalah seorang pekerja keras. Ia memulai kesuksesan dari nol, dari perasan keringat dan air mata.

Terkait dengan saya, dalam ingatan saya hanya dua kali saya bersinggungan pekerjaan dengan Khamami. Pertama, beberapa bulan setelah Khamami kalah dalam Pilkada Tulangbawang. Saya dua kali diundang wartawan senior di Lampung Tengah, Zen Sunarto, untuk melatih menulis para wartawan di Bandarjaya dan Bandarlampung. Di dua kegiatan itu, Khamami datang terus. Kebetulan ia juga kawan dekat Zen Sunarto.

Kedua, pada tahun 2008 ketika saya menjadi anggota tim seleksi calon anggota Panwaslu tingkat provinsi dan kabupaten seluruh Lampung. Kala itu Khamami anggota DPRD Lampung dari PDK. Usai peserta melaksanakan ujian, Khamami menarik tangan saya,merangkul saya untuk diajak makan di salah satu ruang kantor DPRD Lampung.

“Makan bareng saja, setelah itu baru mengoreksi hasil tes,” katanya.

Karena tidak enak,saya pun menurut.Kami makan bersama. Selain Khamami ada beberapa anggota DPRD Lampung dan anggota timsel lain (seingat saya ada Dr. Eddy Rifai dari Unila).

Pada pertemuan itu, saya mempertegas lagi bahwa timsel akan menolak titip-titipan. Saya perlu pertegas lagi bahwa siapa pun yang nilainya bagus dan hasil wawancaranya lulus wajib diapresiasi menjadi anggota Panwaslu.

Ketika Khamami menjadi bupati selama dua periode, banyak kawan mengira bahwa media yang saya rintis ini (Teraslampung.com) bekerja sama dengan Pemkab Mesuji. Angapan itu wajar karena banyak juga berita tentang kegiatan pembangunan di Mesuji. Saya bilang kepada kawan saya itu bahwa saya akan menolak dikasih uang receh yang membuat saya tunduk. Plafon anggaran untuk media online seperti milik saya ini terlalu kecil. Itulah sebabnya,saya tidak mencoba mengemis-ngemis untuk diperhatikan. Biarlah saya tetap berteman dengan Khamami, tanpa ia harus direpotkan dengan urusan kecil yang tidak perlu.

Kini Khamami ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK dalam kasus dugaan menerima fee proyek PUPR. Di layar televisi saya melihat ia mengenakan seragam oranye. Saya sedih melihatnya.

Sedih…

 

Loading...