Beranda News Anakidah Kawin Kontrak di Puncak Dibabat, Turis Arab Banyak yang Ngacir

Kawin Kontrak di Puncak Dibabat, Turis Arab Banyak yang Ngacir

687
BERBAGI
Warung Kaleng atau yang terkenal dengan sebutan Kampung Arab di Cisarua, Kabupaten Bogor, Jumat 27 Desember 2019. TEMPO/M.A MURTADHO

TERASLAMPUNG.COM — Usai terbongkarnya kembali praktik haram perdagangan manusia berkedok kawin kontrak di kawasan Puncak, sejumlah turis Timur Tengah, terutama warga negara Arab banyak yang ngacir meninggalkan Puncak. Mereka takut dituduh terlibat menjadi pelaku kawin kontrak.

Seorang sopir yang kerap melayani wisatawan Timur Tengah, Suhendar, 41 tahun, mengatakan biasa tamunya berlibur sampai libur Tahun Baru usai. “Padahal tiket pulangnya dia itu tanggal 5 Januari. Tapi tiba-tiba pulang,” kata dia saat ditemui di kediamannya di Cisarua, Kabupaten Bogor, Jumat, 27 Desember 2019.

Menurut Suhendar, praktik kawin kontrak di wilayahnya mencari nafkah, yaitu lokasi yang dikenal dengan Kampung Arab, nyaris sudah tidak pernah ada lagi pasca penggerebekan kawin kontrak sekitar 2012 hingga 2015. Kala itu, banyak para pelaku kabur ke daerahnya masing-masing, diantaranta Cianjur, Cipanas dan Sukabumi.

Bahkan Suhendar mengatakan turis Arab yang sering berkunjung pernah menanyakan sepinya perempuan yang biasa hilir mudik dengan orang sebangsanya. “Saya jawab, tidak boleh dan sudah ditertibkan. Kalau mau nikah (yang) bener,” kata dia.

Pemberitaan kawin kontrak mencuat kembali sejak jajaran Polres Bogor meringkus empat tersangka muncikari. Bersama mereka, turut diamankan enam korban dan satu orang pengantin WNA pada 23 Desember lalu.

Suhendar mengaku tahu hal tersebut. Namun ia menampik jika penangkapan itu terjadi di wilayahnya. Dia menyebut praktik kawin kontrak kini bergeser bukan lagi di Kampung Arab, tapi lebih banyak ke perkampungan yang menjadi lokasi para Imigran tinggal dengan mengontrak.

“Nah kalau imigran iya, itu ada di Ciburial, Kopo dan Megamendung. Mereka (Imigran) enggak jelas karena tidak mengisi penampungan, tapi ngontrak di rumah warga hingga tahunan,” kata Suhendar.

Meski kawin kontrak sudah jarang ditemui, menurut Suhendar, geliat prostitusi di Puncak tetap masih banyak. Ia menyebut masih banyak wisatawan yang mencari perempuan tuna susila atau PSK. Para pria hidung belang itu biasanya membawa PSK menginap di villa di Puncak atau membawa mereka ke Bogor.

“Saya pernah di-carter sama wanita muda, ternyata dia mahasiswi di universitas ternama di Bogor,” kata Suhendar sambil mengatakan beberapa PSK juga berasal dari desa yang disebut Kampung Janda, dengan usia 20 hingga 30 tahun.

Tempo

Loading...
BERBAGI
Artikel sebelumyaGunakan Wajah Bruce Lee, Restoran di China Dituntut
Artikel berikutnyaBanjir Lebih Parah Berpeluang Terjadi di Bandarlampung dan Daerah Lain di Lampung
Portal Berita Lampung: Terkini, Independen, Terpercaya