Beranda News Nusantara Kebakaran Pabrik Korek Api: 2 dari 30 Korban Tewas Sudah Diidentifikasi

Kebakaran Pabrik Korek Api: 2 dari 30 Korban Tewas Sudah Diidentifikasi

294
BERBAGI

TERASLAMPUNG.COM — Tim DVI Polda Sumut mengidentifikasi dua korban tewas dalam kebakaran pabrik korek api (mancis), di Jalan Tengku Amir Hamzah, Desa Sambirejo, Kecamatan Binjai, Langkat, Sumatera Utara, pada Jumat (21/6/2019).

Kedua korban yang diidentifikasi berjenis kelamin perempuan itu, melalui sidik jadi dan gigi.

“Sudah diidentifikasi satu melalui sidik jadi dan satu melalui gigi. Keduanya perempuan. Untuk namanya belum bisa saya paparkan,” kata Kabid Dokkes Polda Sumut, Kombes Pol dr Sahat Harianja, Sabtu (22/6/2019).

Meski belum memaparkan identitas kedua korban, namun Ketua Tim Identifikasi Korban di RS Bhayangkara Medan ini menyatakan, sidang rekonsiliasi untuk mengidentifikasi kedua korban sudah dilakukan.

“Rekonsiliasi sepintas sudah dilaksanakan, namun rekonsiliasi secara garis besar atau umum akan kita laksanakan setelah ini,” jelasnya.

Kasubbid Dokkes RS Bhayangkara Medan, AKBP drg Johari Ginting menyatakan, hanya satu orang yang dapat diambil. Sehingga hanya satu orang itu yang teridentifikasi melalui data primer.

Karena sidik jari dan data sekunder korban sulit diidentifikasi, tim DVI kini fokus pada pemeriksaan gigi dan DNA. “Korban lain tidak dapat diambil sidik jarinya,” tambahnya.

Hingga kini 29 keluarga dari 30 korban sudah melaporkan data antemortem kerabatnya ke Pos DVI. Dari jumlah tersebut baru 13 korban yang diambil sampel DNA keluarganya.

Sementara itu,  Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia Sumatra Utara (FSPMI Sumut) meminta polisi dan Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) mengusut tuntas peristiwa tersebut.

Ketua FSPMI Sumut, Willy Agus Utomo, mengatakan kebakaran tersebut  merupakan tragedi kelam ketenagakerjaan di Sumut.

“Kami turut berduka cita. Ini merupakan Tragedi kelam dunia ketenagakerjaan Sumut,” katanya, Sabtu (22/6/2019).

Willy mengatakan, pemilik perusahaan diduga lalai dalam menerapkan sistim managemen Keselamatan Kesehatan Kerja (K3) sehingga mengakibatkan banyaknya korban yang meninggal dunia atas kejadian itu.

Willy juga mengkritisi lemahnya peran dan fungsi pengawasan baik oleh pemerintah provinsi maupun pemerintah kabupaten Langkat. Dalam hal ini pengawasan ketenagakerjaan di bawah Disnaker provinsi dan kabupaten setempat.

Menurut info, kata dia, pekerjaan itu sudah berlangsung lebih dari 5 tahun. Lalu kenapa tidak terpantau oleh Disnaker dan pemerintah. Itu menandakan buruh selalu dipandang remeh oleh pemerintah. Dia pun yakin, hak-hak para pekerja yang menjadi korban, semasa bekerja tidak terlaksana sesuai UU Ketenagakerjaan yang berlaku, seperti Hak Normatif akan upah, BPJS Ketengakerjaan, BPJS Kesehatan serta perlindungan keselematan kesehatan kerja (K3) dan lain sebagainya.

“Hingga saat ini, kami belum lihat komentar tegas dari Disnaker terkait kejadian ini. Kita minta Disnaker Kabupaten Langkat dan Sumut juga usut pidana ketengakerjaannya serta menjamin hak para korban yang harus ditangung perusahaan mancis tersebut diberikan kepada keluarga ahli waris,” kata Willy.

KABAR MEDAN | MEDAN BISNIS DAILY

Loading...